sebuah usaha untuk menyimpan ingatan tentang perjalanan, tentang film, tentang buku yang pernah hadir mewarnai hidup kami...
MEMBANGUN ORGANISASI YANG KUAT
1. Berorientasi pada hasil
Produktivitas seseorang atau organisasi terlihat dari hasil-hasil kerja yang mereka lakukan. Hasil-hasil ini tentunya adalah hasil-hasil kerja positif. Banyak terjadi hari ini organisasi yang ada hanya banyak melakukan pekerjaan namun sedikit dalam output kerja mereka. Mungkin sebagian dari kita masih berorientasi pada proses. Ada jargon yang sering kita dengar bahwa, “yang paling penting adalah prosesnya, hasil itu ngikut sendiri.” Jargon ini ada benarnya dan tidak selamanya benar.
Memang kita harus memperhatikan proses dari pekerjaan kita, proses yang salah akan mempengaruhi hasil. Namun, melulu menikmati proses juga bukan pekerjaan yang produktif. Tetap ada target-target output dari pekerjaan yang kita lakukan. Tetap ada target-target pencapaian waktu penyelesaian pekerjaan. Kehidupan yang dinamis saat ini memaksa kita dan organisasi kita untuk cepat merespon apa-apa yang terjadi di lingkungan kita. Keterlambatan respon atas kejadian-kejadian di sekeliling kita akan menyebabkan organisasi kita semakin tertinggal dan ditinggalkan. Ingat bahwa waktu tidak pernah menunggu.
Kita harus mengubah pola pikir kita yang tadinya ‘baru’ berorientasi pada proses menjadi orientasi kepada hasil kerja. Hal ini dilakukan bukan berarti menghalalkan segala cara untuk mencapai semua target yang telah kita canangkan. Namun tetap memperhatikan input dari proses dan proses itu sendiri. Hanya saja, proses yang kita lakukan dipaksa (kalau boleh begitu bahasanya) untuk mencapai target output dan target waktu yang telah ditetapkan di awal. Kegiatan ‘memaksa’ di sini dapat dipandang sebagai upaya-upaya seperti memperbaiki kualitas input, memperbaiki kualitas proses pengerjaan dan perbaikan-perbaikan lainnya. Hal ini semata-mata dilakukan untuk mengikuti cepatnya gerak langkah lingkungan tempat kita tinggal saat ini.
2. Jangan menyepelekan data
Informasi adalah salah satu input dalam proses pengembangan pribadi atau organisasi. Informasi yang bertebaran di sekeliling kita adalah makanan yang harus di konsumsi demi meningkatkan daya saing organisasi. Orang-orang yang ketinggalan informasi dengan sendirinya akan tercecer dari persaingan global.
Data adalah penyusun informasi itu sendiri. Dari data yang akurat maka akan didapatkan atau dihasilkan informasi yang akurat. Terutama bagi organisasi bisnis, data adalah makanan yang harus selalu dikumpulkan dan dimakan. Dari data ini keluarlah strategi-strategi untuk memenangkan persaingan.
3. Pekerjakan orang-orang cerdas
Meletakkan orang-orang cerdas di posisinya adalah cara yang paling efektif dalam mencapai tujuan-tujuan organisasi. Banyak organisasi yang gagal beroperasi karena diisi oleh orang-orang yang tidak memiliki kemampuan di bidang tersebut. Untuk itu di awal sangat penting bagi organisasi untuk melakukan seleksi yang ketat dalam menempatkan orang-orang yang bekerja dalam organisasi.
Selain itu, orang-orang yang cerdas akan memiliki energi yang jauh lebih besar dibandingkan orang-orang biasa di sekelilingnya. Akan ada selalu diskusi yang hangat ketika kita sedang membahas sebuah masalah. Akan banyak ide-ide bermunculan saat mencari solusi atas masalah yang sedang dihadapi oleh organisasi.
Dan satulagi, orang-orang cerdas akan sangat mudah untuk beradaptasi dengan lingkungan yang senantiasa berubah. Mereka akan mudah untuk terus belajar dan belajar menghadapi tuntutan perubahan lingkungan.
4. Bangun loyalitas orang-orang anda
Organisasi akan maju jika diisi (selain orang cerdas) oleh orang-orang yang loyal. Namun, membangun loyalitas adalah sebuah pekerjaan yang sulit dan memakan waktu yang tidak sebentar. Dengan menerapkan trik ini, anda akan dapat membangun loyalitas orang-orang anda. Langkah yang harus anda ambil hanya satu, yaitu : Anda harus menunjukkan loyalitas anda kepada orang-orang anda. Bagaimana caranya? Caranya adalah hargailah keberadaan mereka, jangan menganggap diri kita lebih baik dan lebih tinggi dibandingkan mereka. Pandanglah mereka sebagai rekan kerja. Tindakan nyatanya adalah sering-sering ajak bawahan anda untuk makan bersama, olahraga bersama atau kalau perlu anda ajak ke rumah, ajak menginap dan makan di rumah anda. Dengan demikian mereka akan merasa sangat dihargai dan mereka akan balik menghargai anda sebagaimana yang anda lakukan padannya.
5. Ciptakan suasana kerja yang dinamis
Pada dasarnya, manusia itu senang dengan kehidupan yang menantang dan dinamis. Jika kita membaca ulang sejarah kehidupan kita, kita akan menemui sebuah fakta bahwa sejak masih berbentuk sel sperma, kita telah berkompetisi untuk mendapatkan satu tempat di dunia ini. Dan kita membuktikan bahwa kita berhasil untuk hadir di dunia. Namun, saat kita terlahir, iklim kompetisi itu terasa terus berkurang.
Sama ketika kita melakukan kerja-kerja di organisasi, ketika iklim kompetisi (yang positif tentunya) itu hadir di tengah-tengah organisasi, setiap anggota organisasi akan berusaha untuk ikut ambil bagian. Untuk membuktikan ini, anda perlu menguji cobakan teori ini.
6. Bangun jaringan
Jaringan kerja adalah penguat eksistensi kita. Sekuat apapun modal dan fisik kita, jika kita kerja sendiri, maka hanya kehancuran yang akan kita temui. Beton, dinding itu kuat karena ada jaringan antara pasir, semen, air, batu, besi dan batu bata. Jika saja air tidak hadir maka tidak akan ada bangunan yang berdiri. Begitu juga saat kita membangun sebuah tim atau organisasi.
Inilah enam bagian yang dapat kita lakukan guna menciptakan organisasi yang tangguh. Keenam ini adalah bagian kecil dari berbagai tips untuk membangun sebauh organisasi yang kuat. Yang perlu dilakukan saat ini adalah segera mengambil tindakan nyata guna mewujudkan apa-apa yang kita cita-citakan.
Ramayana, Indomaret, Alfamart
Namun, aku yang mengalami kehidupan di kota kecil ini selama lebih dari 20 tahun, memiliki sebuah perhitungan sendiri. Bahwa penduduk di kota ini kurang memiliki inisiatif. Kalaupun ada mereka akan pindah ke daerah lain yang lebih memiliki inisiatif. Apa hubungannya, mungkin masyarakat kurang memiliki inisiatif untuk melangkahkan kakinya ke sebuah plaza yang agak jauh dari rumahnya, walau plaza itu cukup nyaman. Mereka lebih memilih toko yang ada di dekat rumah mereka.
Masalah Ramayana semakin rumit saat Indomaret dan Alfamart merusak pasaran. Tidak hanya merusak pedagang-pedagang kecil yang ada di dekatnya, tapi juga merusak pasaran Ramayana sendiri. Setelah mereka menghadapi penduduk yang tidak berinisiatif, mereka harus melawan gempuran Alfa dan Indomaret yang gerainya ada di mana-mana.
Aku tidak tahu, strategi apalagi yang digunakan oleh manajemen Ramayana Kotabumi untuk mengatasi kesulitan ini, karena aku melihat, hari ini, Ramayana telah kehilangan hampir dari 80 % pembelinya. Karyawannya telah disusutkan hingga 50 % dibanding awal mereka berdiri. Belum lagi investasi yang belum kembali, karena BEP dari retail besar seperti Ramayana ini akan memakan waktu yang sedikit lama dibanding toko-toko kecil.
Aku seperti melihat Ramayana Kotabumi ini seperti Ramayana Juanda Medan. Mereka akhirnya tutup dan gedungnya di jual kepada Ace Hardware. Padahal lokasi juanda itu termasuk lokasi emas. Buktinya Ace Hardware justru sekarang sangat ramai.
Strategi pemasaran yang digunakan Ramayana, lebih pada penetrasi pasar dengan memberi harga yang telah didiskon besar-besaran. Masyarakat yang semakin terdidik saat ini mulai jengah dengan diskon, karena mereka berpikir, harga sebelumnya telah dinaikkan kemudian di diskon tinggi. Si Ramayana tetap untung dengan itu semua. Kemudian istilah “cuci gudang” juga tidak lagi menarik bagi masyarakat, mereka menganggap bahwa produk yang ditawarkan tersebut kurang berkualitas hingga tidak laku dipasaran.
Kita lihat saja, berapa lama lagi Ramayana Kotabumi akan bertahan, jika mereka tidak mengubah strategi pemasarannya, mereka akan bernasib sama seperti saudaranya di Juanda Medan, tutup.
Kotabumi, Sabtu, 28 Maret 2009
FENOMENA UJIAN NASIONAL
Memang kondisi ini memaksa siswa, guru, kepala sekolah dan seluruh perangkat pendidikan menengah atas di suatu daerah untuk berpikir keras agar seluruh anak didiknya lulus dengan nilai baik (baca: lulu). Namun, sangat disayangkan ketika kondisi “kompetisi” ini diciptakan pemerintah pusat untuk meningkatkan mutu pendidikan, justru ada sebagian oknum yang menghalalkan berbagai cara agar sekolahnya, atau daerahnya mendapat ancungan jempol karena seluruh siswanya lulus (100 %). Bagi kita yang biasa di dunia industri, untuk mencapai angka 100 % produk tanpa cacat ( zero defect) adalah suatu yang hampir mustahil. Sangat sulit mencapai angka itu, paling tidak mendekati angka 100 %.
Saat di dunia pendidikan selalu mencapai 100% lulus, tentunya ada sedikit pertanyaan, apa benar bahwa seluruh siswa itu mampu mengerjakan soal itu dengan benar. Untuk sekolah-sekolah yang memang berkualitas, mulai dari seleksi penerimaan, guru, bahan ajar dan perangkatnya memang berkualitas adalah hal yang wajar jika 100 % siswanya lulus. Karena mereka (baca: siswa) sejak awal sudah diberikan sesuatu yang berkualitas, mulai dari kualitas input dan kualitas proses, sehingga outputnya berkualitas. Dan untuk mencapai angka zaro defect itu juga sulit, karena yang kita olah/ produksi ini adalah manusia bukan barang. Lalu, bagaimana dengan sekolah yang “maaf” kurang atau tidak berkualitas. Kalau dalam bahasa seorang guru saya adalah sekolah 24, sekolah yang masuknya jam 2 siang dan keluarnya jam 4 sore. Kita sama-sama tahu kualitas input maupun kualitas prosesnya. Ajaibnya, sekolah-sekolah inipun 100 % lulus, zero defect. Luarbiasa!
Selidik punya selidik, menurut pengakuan guru-guru yang berdedikasi terhadap pendidikan berkualitas, saya mendapatkan bahwa kondisi ini (100% lulus) ini sudah menjadi kesepakatan para “oknum guru” guna mencapai angka 100 %. Mereka malu jika ada anak didiknya yang tidak lulus. Jadi, mereka “membantu” siswa dengan memberikan jawaban atas ujian nasional yang sedang berjalan. Pada saat penyelenggaraan ujian nasional, malamnya soal dibocorkan, kemudian diberikan kepada guru-guru bidang studi untuk mengerjakannya. Keesokan harinya lembar jawaban itu (yang telah diisi oleh guru bidang studi), diedarkan ke kelas-kelas yang sedang menjalani ujian nasional. Betapa menyedihkan.
Ada kejadian yang menggelikan, pernah disebuah sekolah, seorang guru yang bertugas menyebarkan lembar jawaban yang telah disi tadi, salah memberikan lembar jawaban. Akibatnya ada 7 orang yang tidak lulus di kelas tersebut. Maksudnya salah ini, guru tadi, memberikan jawaban Matematika IPS di kelas IPA.
Para oknum guru ini telah salah dalam mengartikan kata-kata “MEMBANTU SISWA” mengapa? Karena jika mereka ingin membantu siswa, proses membantu itu bukan di kelas saat ujian berlangsung. Tapi di kelas saat belajar sedang berlangsung. Membantu memberikan motivasi terus menerus, membantu bagaimana mengerjakan soal-soal yang sulit, membantu mengatasi masalah pribadinya (kejiwaannya yang tertekan), membantu mengatasi hambatan-hambatan belajar, dan intinya membantu siswa sebelum ujian berlangsung. Saat ujian berlangsung, maka biarkan mereka bekerja sendiri. Jika kita masih membantunya, maka kita telah MEMBUNUH siswa itu sendiri. Kalaupun mereka lulus, mereka hanya akan menjadi siswa-siswa yang selalu mengharapkan belas kasihan orang lain. Mereka akan kehilangan kepercayaan diri dan akhirnya tidak pernah dipakai oleh orang lain.
Pengalaman ini telah diceritakan siswa-siswa yang telah masuk ke perguruan tinggi. Kebanyakan mereka yang lulus dengan usaha sendiri akan bercerita kepada guru-gurunya dengan mengatakan “Terima kasih pak/bu, telah membantu kami dalam belajar sehingga kami menjadi percaya diri.” Di kampusnya mereka tetap berprestasi. Lain halnya dengan siswa-siswa yang lulus dengan “bantuan” tadi, mereka akan masuk universitas negeri namun tidak akan bertahan lama, paling lama adalah satu semester. Setelah itu mereka pindah ke universitas swasta, dan hingga semester 12 belum tamat juga.
Seperti kata pepatah, “Biarkan waktu yang akan menjawab ini semua.” Apa akibat saat kita berbuat curang dan apa akibat saat kita berbuat jujur. Waktu yang akan menjawabnya. Percayalah.
Kotabumi, Sabtu, 28 Maret 2009
Konsep Diri (Part II)
Sejauh apapun kita telah melangkah ke arah negatif, yakinlah bahwa kita masih memiliki waktu untuk kembali dan memulai hidup dengan sikap yang lebih positif. Yang paling penting adalah keinginan yang kuat untuk mengubah diri kita menjadi lebih baik. Untuk mengubah sikap kita terhadap diri kita sendiri, coba anda ikuti langkah-langkah berikut ini:
Mulai dengan affirmasi positif
Afirmasi positif adalah kegiatan “meneriakkan” kata-kata positif ke dalam otak kita. Katakan, jika perlu dengan teriakkan kata-kata, “aku mampu”, “aku bisa”, “tidak ada yang tidak mungkin”, “setiap masalah ada jalan keluarnya”, “aku adalah pemenang”, “aku adalah juara”. Hal ini dilakukan untuk meng-instalkan kata-kata positif tersebut ke dalam pikiran kita dan juga untuk men-delete program-program negatif dalam pikiran kita. Satu lagi, lakukan kegiatan ini, (mengatakan kata-kata positif) pada saat anda akan tidur di malam hari. Lakukan berulang kali, hitungannya dapat anda sesuaikan sendiri, apakah 10, 20 atau hingga anda tertidur.
Bersikap objektif terhadap diri sendiri, jangan musuhi diri sendiri
Setiap manusia pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Tidak ada manusia yang diciptakan Allah tanpa kelebihan satupun. Berdasarkan penelitian Howard Gardner, ia menemukan bahwa ada delapan kecerdasan yang bebeda satu sama lain. Setiap manusia pasti memiliki salah satu dari kedelapan kecerdasan itu.
Jadi, hentikan sikap dan pikiran yang menganggap diri ini tidak mampu, tidak bisa dan tidak berguna. Mungkin pada satu pekerjaan kita tidak mahir dan di pekerjaan lain kita dapat mengerjakannya dengan cemerlang. Tugas kita adalah menemukan dan menggali terus menerus potensi yang diberikan Tuhan kepada kita. Terus mencari hingga akhirnya kita menemukan kelebihan unik yang diberikan Tuhan kepada kita. Sayangnya memang, sistem pendidikan kita tidak mendukung upaya penggalian potensi itu. Karena kita dihadapkan pada sistem pendidikan yang general (umum) bukan khusus, sesuai dengan keunikan diri kita.
Satu lagi, jangan pernah memusuhi diri sendiri. Dengan memaki-maki kekurangan diri sampai-sampai tindakan itu menutupi kelebihan yang ada pada kita.
Catat keberhasilan-keberhasilan yang anda capai
Sediakan sebuah buku khusus (Prof Wiseman mengatakan buku ini sebagai “Luck Diary”) untuk mencatat keberhasilan-keberhasilan (baik besar atau kecil) dalam hidup kita. Hal ini penting karena dengan ini kita akan terus mengingat keberhasilan-keberhasilan yang pernah kita capai, jadi dalam hidup ini kita tidak hanya mengingat kegagalan yang pernah terjadi.
Beri hadiah atas prestasi yang anda capai
Rayakan setiap keberhasilan dengan memberikan hadiah kepada diri kita sendiri. Hal ini menjadi penting, karena dengan hadiah itu, jiwa ini menjadi senang, dan lebih percaya diri, selanjutnya jiwa ini akan terus meminta untuk merasakan lagi hadiah-hadiah itu. Tentunya dengan mencapai keberhasilan-keberhasilan lain.
Penutup
Tidak ada yang tidak mungkin. Pertanyaannya adalah Mau atau tidak. Jika kita memilih mau, maka seluruh bagian tubuh ini akan bangkit mendorong untuk mencapai apa yang kita inginkan. Begitu juga sebaliknya, jika kita memilih tidak mau, maka dengan sendirinya tubuh ini akan diam dan tidak mau bergerak. Sehingga jadilah kita pencundang-pecundang kelas teri yang berani hanya pada seekor tengik (Puisi Hamzah Sinaga). Semoga bermanfaat.
Kinantan058@gmail.com
KONSEP DIRI (part I)
Sering kita melihat di sekeliling kita, ada orang-orang yang dengan prestasi akademis yang biasa-biasa saja namun memiliki prestasi hidup yang luarbiasa. Dan tidak sedikit pula kita temukan orang-orang yang memiliki prestasi akademis yang luarbiasa, namun memiliki prestasi hidup yang biasa-biasa saja. Seperti dalam sebuah ungkapan disebutkan bahwa, “manusia itu ibarat sebuah computer, sehebat apapun hardwarenya, tanpa didukung system operasi yang handal, computer itu tidak akan mampu berdayaguna secara maksimal.” Begitu juga manusia, sepintar apapun kita, tanpa didukung oleh mentalitas yang kuat hanya akan menjadi pribadi yang biasa-biasa saja. System operasi/ mentalitas pada diri manusia itulah yang sering disebut sebagai konsep diri.
Konsep diri secara umum diartikan semua perasaan dan pemikiran seseorang mengenai dirinya sendiri. Hal ini meliputi kemampuan, karakter diri, sikap, tujuan hidup, kebutuhan dan penampilan diri. Gambaran pribadi terhadap dirinya meliputi penilaian diri dan penilaian sosial. Pengetahuan terhadap diri sendiri ini menjadi sangat penting, karena kebanyakan masalah yang terjadi pada manusia saat ini, sebagian besar disebabkan oleh kesalahan penilaian atas diri sendiri. Seperti merasa tidak mampu, minder, hilang kepercayaan diri, hingga merasa diri ini tidak berguna, tidak memiliki potensi dan putus asa, dan tidak merasa perlu ada di dunia ini lagi. Paling parah adalah dengan membunuh diri sendiri.
Faktor-faktor yang mempengaruhi Konsep Diri
Konsep diri terbentuk dari interaksi atau sentuhan kita (diri dan pikiran) dengan lingkungan. Konsep diri bukanlah sebuah takdir. Konsep diri bersifat dinamis, terus berkembang. Seiring berjalannya waktu, konsep diri seseorang dapat berubah ke arah positif atau negatif. Berikut ini adalah beberapa faktor yang mempengaruhi konsep diri seseorang:
Faktor Eksternal
Pengaruh eksternal terdiri dari pola asuh orang tua dan interaksi dengan lingkungan sekitar.
Pola Asuh Orang Tua
Saya memiliki seorang saudara, sejak kecil ia tidak pernah diperbolehkan oleh orang tuanya untuk memanjat pohon. Walaupun pohon itu hanya pohon kecil. Yang terjadi saat ini adalah beliau tidak pernah berani untuk memanjat pohon, walaupun hanya pohon yang kecil
Ketika kita masih kecil atau sekarang kita perhatikan bagaimana orang-orang tua disekitar kita mendidik atau mentransfer “nilai” kepada anaknya. Kebanyakan (tidak semua) nilai-nilai yang ditransfer oleh orang-orang tua tersebut adalah nilai-nilai yang negatif. Menurut sebuah penelitian seorang anak paling tidak mendengar kata-kata “jangan” (negatif) sebanyak 40 kali sehari.
Untuk itu, penting bagi kita orang tua atau yang belum menjadi orang tua untuk hati-hati dengan kata-kata yang yang kita keluarkan di depan anak-anak kita. Seperti kata pepatah, “anak-anak itu seperti selembar kertas kosong” hendak diisi apa kertas itu, kita-lah orang tua yang menuliskannya. Jika kata-kata negatif yang senantiasa kita ucapkan, maka mereka (baca: anak-anak) akan menuliskan dan merekam hal-hal negatif dalam memorinya. Begitu juga jika kita senantiasa mengucapkan hal-hal positif, maka positiflah yang akan terekam dalam memorinya.
Interaksi dengan lingkungan
Lingkungan adalah faktor paling dominan dalam mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang. Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa, jika engkau ingin mengetahui tabiat seseorang, lihatlah kawan-kawannya. Dalam hadist yang lain disebutkan, siapa yang berteman dengan seorang penjual minyak wangi, maka ia akan mendapatkan wanginya. Sedangkan siapa yang berteman dengan seorang tukang besi, maka ia akan mendapatkan panas dan bau yang kurang sedap.
Seseorang yang awalnya adalah orang yang “baik-baik”, akan dapat berubah menjadi orang yang “tidak baik-baik” karena dipengaruhi lingkungannya. Begitu juga sebaliknya ada orang yang awalnya “tidak baik-baik”, saat bergaul dengan orang baik-baik, ia berubah menjadi orang “baik-baik”.
Faktor Internal
Selain pengaruh pihak luar, konsep diri juga dipengaruhi faktor internal pribadi. Faktor internal itu adalah sikap atas kegagalan. Kegagalan demi kegagalan yang dialami seseorang jika tidak disikapi dengan positif, - dengan terus mengatakan bahwa kegagalan yang terjadi adalah investasi untuk meraih kesuksesan – akan menjadikannya semakin terpuruk. Pikirannya akan mengatakan bahwa dirinya memang tidak mampu, tidak berbakat, tidak beruntung, dan kata-kata negatif lainnya. Tanpa ia sadari, kata-kata negatif itu akan terus menggerogoti mentalnya menjadi semakin hancur berantakan.
bersambung
THE GREATEST MARKETER
Dalam edisi 02/VIII/Februari/ 2008, majalah marketing menuliskan setidaknya 20 orang yang sukses dalam menjual produk dan idenya. Kesuksesan mereka diukur berdasarkan seberapa besar pendapatannya, kemudian seberapa besar market share yang mereka kuasai, seberapa banyak outlet/ cabang yang mereka miliki di dunia ini, hingga seberapa besar trust and awareness pelanggan mereka. Keduapuluh marketer terbesar dunia ini (menurut majalah marketing) mulai dari Honda, Jack Welch, Anita Roddick, hingga Larry Page dan Sergei Brin. Produk mereka dari otomotif, film animasi, hingga mesin pencari di internet.
Beberapa waktu yang lalu, di sebuah pertemuan rutin yang kami lakukan di Medan. Dalam pembukaan acara, pembawa acara menyebutkan sebuah nama yang merupakan world greatest marketer sesungguhnya. Siapa ia…? Ia adalah manusia yang telah dijamin oleh Allah untuk masuk Surga. Manusia tanpa kesalahan (karena Allah melindunginya dari kesalahan). Manusia dengan mimpi besar, jauh melampaui zaman dan tempat tinggalnya.
Ya, ia adalah Muhammad saw. Nabi akhir zaman yang membawa risalah kebenaran yaitu Islam. Timbul pertanyaan apa tolok ukuran sehingga si pembawa acara berani mengklaim bahwa Muhammad saw adalah marketer terbesar sepanjang masa?
Jawabnya adalah kita membaca sejarah, Muhammad adalah seorang anak yatim piatu sejak kecil (6 tahun), sejak usia 12 tahun sudah mengikuti perjalanan bisnis milik pamannya hingga ke negeri syam. Di usia 20 tahunan ia telah menjadi kepercayaan seorang pengusaha besar di Mekkah untuk menjalankan usahanya dan beliau berhasil. Kemudian fase kehidupannya berubah total sejak Allah menunjuknya menjadi Nabi akhir zaman yang diutus untuk seluruh umat manusia dan seluruh dunia.
Muhammad menjalani misi yang maha besar. Membawa risalah (sebuah ide tentang ketuhanan yang esa) ini ke seluruh umat manusia di dunia. Pekerjaan ini tidak akan mampu dipikul oleh orang-orang yang bermental tempe. Muhammad telah menjadi fenomena yang mengejutkan dunia. Bagaimana tidak, ia berhasil menyebarkan sebuah ide/ konsep tentang ketuhanan, dimana konsep itu secara akal sangat sulit di terima manusia saat itu. Bagaimana mungkin ada sebuah kekuatan yang tidak terlihat mampu mengatur jalannya dunia ini. Secara logika saat itu, konsep ini sangat tidak dapat di terima. Muhammad mendapat pertentangan yang sangat sengit dari kaumnya sendiri. Ia yang dijuluki al amin (dapat dipercaya) mendapatkan hinaan dari orang-orang yang membencinya sebagai tukang sihir, pembual, pemimpi dan sebagainya.
Selama 13 tahun Muhammad “menjual” konsep ini di Makkah, dan hasilnya hanya beberapa puluh orang saja. Kemudian Allah memerintahkan Muhammad dan umatnya meninggalkan Mekkah dan membangun peradaban di kota Yastrib (kemudian dikenal dengan Madinah). Di Madinah Muhammad mendapat sambutan yang sangat menggembirakan dari warga Yastrib. Sebelum Muhammad hijrah (pindah) ke Yastrib, Muhammad telah mengirim seorang utusan guna mengenalkan Islam ke Yastrib.
Selang beberapa bulan, Muhammad kembali ke Mekkah dengan kekuatan seratusan ribu pasukan. Peristiwa ini yang akhirnya kita kenal sebagai Fathu Makkah. Terus selanjutnya hingga akhirnya Islam terus berkembang ke Negara-negara lain. Setelah ia wafat, para penerusnya melakukan ekspansi ke Negara lain. Hingga hari ini, konsep ketuhanan yang esa (tauhid) dapat di terima oleh 20 persen penduduk dunia. dan proses marketing dari konsep ini akan terus berlanjut ke seluruh penjuru dunia.
Inilah yang melandasi mengapa Muhammad adalah marketer terbesar sepanjang sejarah umat manusia. Ia telah berhasil membangun pondasi system pemasaran yang tangguh, ia berhasil menciptakan marketer-marketer yang terus tanpa henti memasarkan Islam ke seluruh penjuru dunia, ia telah berhasil membangun sebuah trust and awareness seluruh “pelanggan”nya, sehingga “pelanggan-pelanggannya ini tidak hanya menggunakan produknya, namun ikut berperan serta membesarkan pasar dengan terus mempromisikan produk yang dibawa Muhammad yang namanya sebuah konsep tauhidullah (Mengesakan Allah).
Sudah sepatutnya kita sebagai umat Islam meniru bagaimana seorang Muhammad saw, melakukan proses-proses marketing, sehingga produk yang dibawanya (yaitu Islam) dapat diterima semua orang, tidak tanggung-tanggung produknya dapat bertahan hingga 14 abad, tanpa ada cacat ataupun terdiferensiasi. Produk yang ia bawa telah melawan hukum siklus hidup produk, setelah melalui masa pertumbuhan, produk akan melalui masa kedewasaan dan akhirnya ditinggalkan. Namun produk Islam tak pernah lekang dimakan zaman, selalu bertumbuh dan bertumbuh tidak ada masa kedewasaan ataupun penurunan, kecuali dunia ini berakhir nantinya. Wallahu’alam.
(Kotabumi, 15 Maret 2009)
Hidup Penuh Dengan Pilihan-Pilihan
Life is choise adalah jargon yang sering kita dengar. Sepanjang usia,kita akan dihadapkan pada banyak persimpangan. Dan kita di haruskan untuk memilih persimpangan mana yang akan dilalui. Setiap kita pernah tahu apa yang akan terjadi jika kita memasuki sebuah persimpangan jalan, sampai akhirnya kita melaluinya. Setelah melalui persimpangan itulah kita akan mengetahui jawaban dari pertanyaan kita masing-masing sesaat sebelum memasuki persimpangan tersebut. Pertanyaan itu adalah “apa yang akan terjadi jika aku memilih persimpangan ini?”
Pilihan kita terhadap jalan yang akan di lalui akan menentukan masa depan hidup kita. Masa depan hidup kita hanya ada 2 (dua) kemungkinan, pertama adalah kebahagiaan dan yang kedua adalah kesengsaraan. Salah dalam memilih jalan hidup akah berakibat pada kesengsaraan. Begitu juga sebaliknya, jika pilihan kita benar, maka kebahagiaanlah yang akan kita rengkuh.
Hidup ini seperti labirin hanya ada satu jalan yang benar dan berujung pada kebaikan. Selebihnya hanya jalan-jalan tipuan yang hanya akan menyesatkan dan membuat kita tidak menemukan ujungnya. Persimpangan-persimpangan jalan ini adalah sebuah ketetapan dari Tuhan untuk menentukan manusia mana yang lulus dalam ujian kehidupan dan manusia mana yang gagal dalam ujian kehidupan.
Kita sebagai manusia pasti pernah dan akan “salah” dalam memilih di antara dua persimpangan jalan. Kesalahan itu bukan aib (sesuatu yang memalukan). Karena setiap pilihan pasti memiliki resiko, resiko pilihan itu benar, dan resiko bahwa pilihan itu salah. Penting untuk dicatat bahwa jadikan kesalahan-kesalahan itu sebagai sarana pembelajaran bagi kita untuk tidak lagi melakukan kesalahan-kesalahan selanjutnya. Jika kita mau mengambil manfaat dari kesalahan-kesalahan itu, kita akan menjadi pribadi yang tangguh saat dihadapkan pada kesulitan/ pilhan-pilihan selanjutnya. Begitu juga sebaliknya, jika kita tidak segera mengambil pelajaran dari kesalahan-kesalahan masa lalu kita, maka kita hanya menjadi “pecundang” yang senantiasa berbuat kesalahan demi kesalahan.
Terakhir, jangan pernah lupa untuk terus berdoa dan membangun sikap berserah diri kepada Zat yang menguasai kehidupan setelah kita berusaha dan membuat pilihan-pilihan dalam hidup. Berdoa agar pilihan atau usaha yang kita buat ini akhirnya akan menjadi pilihan dan usaha terbaik bagi kita. berserah diri atas hasil pilihan dan usaha yang telah kita lakukan tersebut. Kalaupun hasilnya tidak sesuai harapan, jangan berputus asa, mungkin belum saatnya. Selanjutnya lakukan usaha yang lebih baik lagi
DOBRAK!!
Sekitar 40 orang siswa sedang berkumpul di sebuah ruangan. Saat ini mereka sedang memusatkan pikiran mereka kepada sebuah titik. Di tengah-tengah mereka, berdiri seorang instruktur yang terus meminta mereka untuk memusatkan pikiran. Instruktur meminta setiap peserta untuk mengumpulkan semua kelemahan yang ada pada diri mereka ke satu titik. “Bayangkan semua kelemahan diri anda berkumpul di satu titik.” Setelah beberapa saat instruktur meminta peserta untuk berteriak sekeras-kerasnya dan loncat setingginya. “Pecahkan semua kelemahan yang sudah anda kumpulkan tadi.” Seluruh peserta mengikuti instruksi dari instruktur. Mereka berteriak dan meloncat berusaha memecahkan bulatan besar dalam pikiran mereka yang berisi kelemahan pada diri mereka. Apa yang dilakukan para siswa di ruangan itu adalah awal dari rangkaian pelatihan kepemimpinan siswa di Lampung.
Peserta pelatihan ini adalah calon pemimpin masa depan Lampung. Di awal terlihat sulit sekali peserta untuk melawan kelemahan dari dirinya. Dan cara ini ternyata berhasil menghancurkan dinding tebal yang menyekat diri peserta. Mereka lebih rileks saat mengeluarkan ide-ide. Sebuah kata kunci yang ditanamkan kepada peserta adalah DOBRAK KETERBATASAN. Dobrak saja! Jangan pernah ragu, siapa tahu dinding yang menjulang di depan kita adalah dinding kertas yang dapat kita hancurkan dalam sekali terjang. Selama ini yang ada adalah sugesti diri bahwa setiap dinding yang ada di depan kita adalah dinding beton yang tidak akan pernah mampu kita hancurkan.
Ya! Dobrak Keterbatasan yang ada pada diri kita agar keluar semua potensi yang ada dalam diri kita. Lihatlah seseorang yang dikejar Anjing dapat melompati pagar yang tinggi. Kadang potensi diri itu muncul setelah mendapat pemicu alias saat kita dalam keadaan tidak sadar. Sedangkan pada saat kita sadar, sulit sekali rasanya untuk berbuat sesuatu yang Wah!
Semangat untuk berbuat lebih yang akhirnya dilakukan para peserta pelatihan tadi terjadi setelah mental juara dalam diri mereka keluar. Mentalitas juara inilah yang mengubah seorang pemalu menjadi pemberani, orang lemah menjadi kuat dan seterusnya. Dan hingga pelatihan selesai, seluruh peserta memberikan kontribusi pemikiran yang luar biasa. Kontribusi yang di awal sangat sulit untuk dikeluarkan, akhirnya dapat keluar dengan lancar.
Nasib bangsa
Masalah mentalitas ini yang sekarang sedang menggerogoti bangsa ini. Padahal Mental yang kuat adalah sumber bahan bakar yang tidak pernah habis dalam bergerak. Bergerak menuju arah yang lebih baik. Kita lihat yang terjadi pada Piala Dunia 2006 di Jerman. Tim-tim besar yang begitu tangguh di penyisihan group, namun di babak knock out, mereka belum memiliki mental yang cukup tangguh untuk menembusnya.
Bangsa Indonesia bukan tanpa potensi, banyak sekali potensi terpendam. Hanya saja untuk membangunkannya diperlukan waktu yang agak lama. “Indonesia masih ada.” Salah seorang pejabat di lingkungan Menteri Pendidikan berkata saat menyambut tim Olimpiade Fisika Indonesia. Tim yang berhasil membawa pulang mendali Emas pada perlombaan tingkat internasional itu.
Satu hal yang perlu dicatat adalah konsistensi dalam menjaga agar mentalitas juara ini senantiasa ada. Konsistensi akan terjadi jika terdapat persiapan yang matang dalam menyambutnya dan didukung lingkungan yang baik. Kondisi yang bermental itu memang perlu diciptakan. Kita sering melihat orang – orang lemah, namun saat berada pada persaingan tingkat tinggi akan lebih baik daripada, orang-orang yang terbaik di lingkungan persaingan yang rendah.
Di Jepang orang-orang begitu termotivasi untuk berkarya. Di negara ini tidak ada tempat bagi orang yang tidak berkarya (baca: gagal). Maka tidak heran jika kita sering mendengar kasus bunuh diri di Jepang. Bagi mereka tidak ada lagi tempat bagi orang yang gagal, tidak ada guna hidup jika gagal.
Krisis Kepercayaan Diri dan Harapan
Berawal dari kepercayaan diri yang tinggi berbagai karya tercipta. Jika seseorang telah kehilangan kepercayaan dirinya, ia tidak ubahnya seperti orang yang telah mati. Di tahun 1980-an, di Amerika Serikat, terjadi krisisi kepercayaan diri, hal ini menyebabkan terjadinya penurunan di setiap sendi kehidupan masyarakat Amerika kala itu. Presiden Carter, pada pidato akhir tahunnya menyampaikan tentang masalah ini, masalah krisis kepercayaan diri. Kepercayaan diri yang hilang karena kekalahan Amerika di Perang Vietnam, kekalahan teknologi oleh Jepang, volume perdagangan dan lain-lain. Dan ia berharap, masyarakat Amerika kembali bangkit dan merenggut kejayaan yang hilang pada diri mereka. Akhirnya, kepercayaan diri itu muncul dan Amerika kembali menguasai dunia.
Harapan akan adanya kehidupan yang lebih baik, akan memicu orang untuk bekerja mencapainya. Seperti dalam hadist Rasulullah tentang rejeki, burung yang keluar dari sangkarnya pada pagi hari Allah kenyangkan perutnya saat kembali di sore hari, masa’ sih manusia tidak mendapatkan apa-apa, setelah berusaha seharian. Ingatan-ingatan akan harapan-harapan kita, akan memotivasi berbuat lebih baik. Dengan motivasi ini munculah mentalitas juara pada diri manusia.
Mulai dari Rumah
Lingkungan yang bersaing itu dimulai dari keluarga. Keluarga yang selalu membangun suasana yang dinamis akan berpengaruh positif kepada si anak saat berada di lingkungan lain, di luar lingkungan keluarganya. Sudah banyak contoh di lingkungan kita. Siswa-siswa berprestasi adalah siswa yang memiliki dukungan penuh dari keluarganya. Walau bukan dari keluarga mampu secara materi, jika si anak dibesarkan dengan dukungan, motivasi untuk berprestasi, bukan tidak mungkin ia akan mengalahkan anak-anak orang yang “punya.” (juli 2006)
Melejitkan Potensi Diri
Ada 3 langkah yang harus kita lakukan jika kita ingin menjadikan diri kita berdaya guna secara maksimal. Pertama yang harus kita lakukan adalah kita MENIKMATI setiap tugas dan tanggung jawab yang diberikan kepada kita. Seberat apapun tugas dan tanggung jawab tersebut, kita harus menikmatinya. Oleh karena, kata-kata menikmati adalah modal dasar yang paling kuat untuk akhirnya membongkar “mental block” diri kita. Semua orang yang sukses dalam hidupnya adalah pribadi yang menikmati setiap tugas dan tanggung jawab yang datang kepadanya.
Memang, menikmati saja tidak cukup, harus dibarengi dengan “4 AS” lainnya, apa itu? Ikuti dulu langkah kedua yang harus kita lakukan agar kita berdaya guna secara maksimal. Langkah kedua yang harus kita lakukan adalah hasil dari dari langkah pertama, kita tidak akan pernah mencapai langkah kedua, sebelum kita menempatkan kaki kita pada langkah pertama, yaitu menikmati. Langkah kedua itu adalah MEMAHAMI. Ya memahami, setelah kita menikmati setiap tugas dan tanggung jawab yang dibebankan kepada kita. Lambat laun kita akan memahami, jika kita awali semuanya dari menikmati pekerjaan kita. Siswa di sekolah akan memahami pelajarannya, jika mereka menikmati kegiatan belajarnya.
Langkah ke tiga yang akan dicapai seseorang yang menikmati pekerjaannya adalah MENEMUKAN. Sekali lagi MENEMUKAN. Semua penemu, semua ilmuan yang memberikan manfaat pada kehidupan kita adalah mereka-mereka yang menjalani ketiga langkah di atas,mereka menikmati, kemudian mereka memahami dan akhirnya mereka menemukan.
Satu lagi bukti langkah-langkah ini adalah kita semua pasti mengenal Thomas Alva Edison. Yap betul, beliau adalah penemu lampu pijar. Edison adalah sosok yang sangae menikmati pekerjaannya dalam meneliti. Sebuah fakta sejarah mengatakan bahwa ia harus mencoba ratusan cara hingga akhirnya ia menemukan lampu pijar. Mencoba berbagai jenis bahan hingga akhirnya menemukan “wolfram” sebagai bahan yang paling tepat untuk membuat lampu pijar. Semua langkah Edison itu berawal dari sebuah kata menikmati.
Seperti disinggung di atas, bahwa menikmati saja tidak cukup, harus dibarengi dengan 4 AS, yaitu, kerja kerAS, kerja ikhlAS, kerja cerdAS, dan kerja tuntAS. Keepat AS ini harus dikerjakan berbarengan, tidak bisa dipisahkan satu sama lain.
Inilah langkah-langkah guna melejitkan potensi diri kita. mulai dari menikmati, akhirnya akan memahami dan akhirnya menemukan. Semua itu harus dibarengi dengan 4 AS. Ok.
Salam Hangat
Bag Kinantan, ST
Trainer di Super Gila Learning and therapy center
www.supergila.com
www.boemikoo.blogspot.com
Belajar Mendengar Lebih Dalam
Ada sebuah kisah dari sebuah negeri di antah berantah. Negeri ini memiliki seorang Raja yang bijak. Raja ini memiliki seorang anak tunggal laki-laki. Ia akan menjadikan anak tunggalnya ini menjadi orang yang akan menggantikan posisinya sebagai raja kelak. Namun sebelum itu terjadi, ia hendak mempersiapkan si anak terlebih dahulu. Si anak dikirimkan kepada seorang guru untuk dididik menjadi seorang pemimpin masa depan.
Di hari yang telah ditentukan, si anak berangkat menuju rumah sang guru. Rumah sederhana dipinggiran kota, di situlah sang guru tinggal melalui hari-harinya. Si anak memulai hari-harinya menuntut ilmu. Pelajaran yang pertama sekali ia terima adalah ia harus belajar mendengar. Sejak pagi hingga malam ia harus duduk di tengah-tengah hutan, tugasnya adalah ia harus mendengarkan suara-suara yang ada di hutan itu.
Hari pertama dimulai dan di sore harinya ia berlari menuju rumah sang guru, ia yakin sudah mampu mendengar. Ia mengatakan sudah mampu mendengar suara dari kera yang ada dipohon, suara burung-burung di dahan-dahan yang tinggi, dan suara hewan yang lain. Jawaban singkat dari sang guru, “Kau belum mampu mendengar, anakku.” Berangkatlah si anak raja kembali ke hutan tempat ia belajar mendengar.
Kali ini ia berusaha dengan keras untuk mampu mendengarkan lebih dalam, bukan suara-suara yang kemarin. Kali ini ia lebih lama di hutan itu sampai suatu hari ia kembali dan berkata kepada gurunya bahwa ia sudah mampu mendengar dengan baik. Ia mampu mendengar suara daun yang jatuh dari rating. Sayangnya jawaban yang sama ia dapatkan dari gurunya, “Kau belum mampu mendengar, anakku.” Kembalilah si pangeran ke hutan melanjutkan usahanya belajar mendengar.
Ia bertekad untuk tidak gagal kali ini. Ia semakin lama di dalam hutan dan semakin keras berusaha mendengarkan apapun yang terjadi di sekitarnya. Kali ini ia mampu mendengar suara air embun yang jatuh mengenai daun, suara bunga yang mulai merekah, suara dahan yang tumbuh dan lain-lain. Ia kembali dengan keyakinan ia sudah mampu mendengar. Lagi-lagi gurunya menggelengkan kepala dan berkata, “Kau belum mampu mendengar, anakku.”
Selanjutnya sang guru memberikan penjelasan, mengapa ia mengatakan bahwa sang pangeran belum mampu mendengar dengan baik. Sang guru berkata bahwa ada suara-suara yang kadang tidak terdengar dari balik tembok istana. “Suara itu adalah suara keluh kesah dari rakyatmu, suara kesulitan dari hati rakyatmu, suara rintihan, suara perut yang kelaparan dari rakyatmu, mampukan engkau mendengarkan suara itu anakku?” Begitu penjelasan sang guru. pangeran hanya menunduk diam, menyimpan kata-kata itu dalam hatinya. Pulanglah pangeran ke Istana dan menjadi raja menggantikan posisi ayahnya yang sudah tua.
Ia benar-benar menjalankan nasehat gurunya, hasilnya ia menjadi pemimpin yang mampu menyenangkan banyak orang. Itu semua terjadi karena ia benar-benar memfungsikan kedua telinganya untuk lebih banyak mendengar daripada satu mulutnya untuk memerintah. Ia mampu menjadi pendengar yang baik dari suara-suara rakyatnya.
Pemimpin yang mampu mendengar ini yang dicari oleh banyak orang. Di lingkungan kita banyak pemimpin tapi tidak semuanya adalah pemimpin yang mampu menjadi pendengar yang baik. Pemimpin yang ada disekitar kita sekarang adalah pemimpin dengan tipe ingin “didengar” ketimbang mendengar. Banyak kasus yang membuktikan jika pemimpin kita ini memiliki kemampuan mendengar yang rendah. Suara-suara arus bawah tidak mampu ia dengar, ia lebih mementingkan suaranya sendiri dan menjalankannya. Pemimpin semacam ini lambat laun akan ditinggalkan sama sekali oleh rakyat yang dipimpinnya.
Mungkin itulah hikmah mengapa Tuhan memberikan kita dua telinga dan satu mulut, yaitu agar kita lebih banyak mendengar dari pada berbicara. Dalam konteks yang lebih luas sebagai pemimpin sebuah organisasi, departemen, daerah, negara, kemampuan “mendengar” adalah syarat utama sebagai seorang pemimpin.
Saya pernah menjumpai sekelompok mahasiswa sedang sibuk menentukan pemimpin di antara mereka. Mereka terbentur karena ada seorang dari mereka sangat ngotot untuk menjadi ketua. Sedangkan teman-temannya tidak menginginkannya. Saya mencoba untuk menanyakan apa masalahnya jika ‘dia’ menjadi ketuanya. Jawabannya seragam, dia otoriter, tidak mau mendengarkan pendapat anggota yang lain, tahu sedikit seperti sudah tahu semuanya, dan banyak alasan lain yang muaranya ‘dia’ memiliki kemampuan mendengar yang rendah.
Itulah sebabnya saya menuliskan bahwa pelajaran pertama dan paling utama untuk seorang pemimpin sebelum ia belajar memanajemen adalah pelajaran tentang mendengar. Mendengarkan suara-suara dari bawah yang kadang tidak terdengar dari balik tembok “istana.” Kalau sekiranya semua pemimpin mampu melakukan ini ia akan disukai orang-orang yang dipimpinnya, disegani musuh-musuhnya dan ia akan dimudahkan urusannya.
Semoga saja, banyak yang mampu bercermin dari kisah si pangeran, yang sebelum memangku jabatan sebagai raja ia belajar mendengar terlebih dahulu. Begitu juga setiap diri kita yang ingin menjadi pemimpin, atau sudah menjadi pemimpin tanyakan pada diri kita sudahkah kita memiliki kemampuan mendengar yang baik. Jika belum, tidak ada salahnya jika kita belajar untuk mendengar, dan belajar menjadi pendengar yang baik buat semua orang. Semoga.
Medan 12 November 2006
*) penulis adalah mahasiswa Teknik Industri USU ‘03,
Sek-Jend Senat Mahasiswa Fakultas Teknik USU 2006-2007
Apa yang dilakukan saat menunggu
Hari itu adalah hari selasa, ada sekitar tigapuluhan orang yang duduk dengan pikiran mereka masing-masing. Ada yang tertidur, sibuk ngobrol dengan teman sebangkunya, ada yang sibuk sendiri dengan game di HP nya, dan ada beberapa kegiatan lain. Sore itu kami sedang menunggu asisten yang akan mengasistensikan hasil pekerjaan kami. Asisten sedang berada di ruangannya. Agak lama kami menunggu, sehingga sebagian besar mahluk yang duduk di ruangan itu bosan menunggu dan mulai mencari cara untuk menghilangkan kebosanannya. Di saat itu muncul ide untuk mengumpulkan jawaban dari teman-teman mengenai kegiatan mereka saat menunggu. Terutama seperti kasus sore itu.
Dari beberapa kuisioner yang saya sebar, ada beberapa jenis jawaban dan hampir seragam. Jawaban yang diberikan sebagian besar adalah mendengarkan musik, ngobrol (baca: ngegosip), sebagian membaca, dan ada yang menuliskan tidur sebagai cara untuk menghilangkan kebosanan menunggu.
Jawaban sederhana dan spontan itu adalah diri kita sebenarnya. Apakah selama ini kita termasuk orang-orang yang memanfaatkan waktu yang diberikan kepada kita dengan kegiatan bermanfaat atau tidak. Dari beberapa jawaban yang ada di atas, membaca adalah kegiatan yang paling bermanfaat. Kadang kita tidak menyadari bahwa waktu-waktu kita telah dicuri. Pencuri itu sudah mencuri waktu-waktu produktif dalam hidup kita. akhirnya waktu itu berlalu tanpa kegiatan yang berdaya guna bagi diri atau lingkungan kita.
Kegiatan menunggu memang bukan kegiatan produktif dan kesannya membosankan. Namun saat waktu tidak produktif itu kita isi dengan kegiatan produktif, maka waktu itu bernilai produktif pula. Perbedaan yang mendasar dari orang yang berilmu dengan yang tidak berilmu adalah pada kemampuan memilih mana yang baik untuk dirinya dan menghindari yang buruk untuknya. Kalau selama ini kita tidak mampu memilihkan yang baik untuk diri kita sendiri, apa beda kita dengan orang-orang yang tidak berilmu.
Kegiatan membaca, menulis, atau membicarakan perkara yang bermanfaat dapat menjadi pilihan bagi kita yang sedang bosan menunggu. Pembicaraan sia-sia adalah salah satu pencuri waktu kita. dengan kehidupan kita yang singkat di dunia ini, apa kontribusi positif bagi lingkungan kita. (nov 2006)
Antara Lebah dan Lalat
Kita semua tahu bahwa lebah adalah hewan yang mengambil sari bunga untuk dijadikan madu. Artinya yang diambil dan diolah oleh lebah adalah bahan yang baik. Kemudian lebah juga memakan madu, artinya apa yang ia makan adalah sesuatu yang baik pula. Dan yang mereka keluarkan adalah madu untuk manusia, yang kita ketahui bersama, madu adalah obat dari banyak penyakit. Jadi, lebah adalah hewan yang memakan yang baik, mengumpulkan sesuatu yang baik, dan mengeluarkan yang baik.selain itu, di mana ia hinggap tidak ada dahan yang patah. Artinya hidup lebah penuh manfaat bagi lingkungannya. Banyak pihak yang diuntungkan dengan adanya lebah.
Lain halnya dengan lalat. Seperti kita ketahui bersama, lalat adalah hewan yang banyak tinggal atau hidup di tempat yang kotor. Ia makan, hinggap dan mengumpulkan yang kotor. Apa yang keluar dari dirinya adalah penyakit. Bukan berarti tidak ada manfaat dari lalat, kita tidak melihat sisi itu sekarang. Kita hanya melihat dari sisi masukan dan keluaran dari hewan lebah dan lalat. Itulah lalat, apa yang ia makan adalah bahan yang kotor, ia senang tinggal di tempat yang kotor, dan kebanyakan ia membawa banyak penyakit dan menyebarkan penyakit itu ke lingkungan lain. Kadang ia menjadi masalah di satu tempat.
Itulah kedua hewan lebah dan lalat yang Allah berikan sebagai pelajaran untuk kita manusia. Kedua hewan ini sudah memberikan bukti bahwa apa yang kita makan akan di mana kita tinggal, apa yang kita kumpulkan. Kesemua itu akan membentuk diri kita sebenarnya. Apa yang keluar dari diri kita adalah cerminan dari apa yang kita makan dan lingkungan kita. Kadang juga kita sering tidak sadar kalau kita sudah menjerumuskan diri kita menjadi seperti lalat. Hidup di tempat yang kotor, makan-makanan yang kotor (haram), sehingga buah pikiran atau tindakan kita akan kotor pula..
Perlu ada koreksi diri kita masing-masing. Sudahkah kita menjadikan diri kita seperti lebah. Atau kita justru lebih mirip lalat. Itu semua kita yang menentukan, bukan siapa-siapa. (16-17 nov 2006, pukul 23.38-00.03)
Kepemimpinan
apa itu...?
pertama
seorang pemimpin itu harus Loyal to the principle, dia harus loyal dengan prinsip-prinsip kebenaran yang hakiki, loyal pada nilai2 moral universal, jujur, dan lain lain
kedua
pemimpin itu juga harus Enthusiasm, artinya antusias.. ini harga mutlak, pribadi yang antusias adalah pribadi yang selalu bersemangant, dan yakin lah bahwa ketika kita semangat, atau antusias, maka lingkungan kita akan terpengaruh menjadi bersemangat pula... sebagai pemimpin anda harus menjadi pribadi pertama yang antusias.
ketiga
seorang pemimpin itu harus Accomodate and accompany... artinya seorang pemimpin itu bukan hanya memberi perintah ini dan itu, tapi lebih dari itu, mereka harus mengakomodasi keluhan, pertanyaan, sanggahan dan apapun masukan dari bawahan, dan kedua ia juga harus menemani perkembangan bawahannya menjadi seperti dirinya... paham?
keempat
pemimpin yang baik adalah mereka yang Developing others, artinya mereka mengembangkan orang lain, tidak hanya dirinya... ia sadar sekali bahwa ia tak selamanya hidup, dan harus ada orang lain yang melanjutkan perjuangannya... oleh sebab itu ia harus membangun pemimpin-pemimpin baru untuk melanjutkan perjuangannya.
kelima
Empowering, pemimpin harus terus memberdayakan orang lain terutama bawahannya... ia hidup bukan untuk dirinya sendiri, tidak ada ketakutan dalam hatinya bahwa suatu saat aku akan "disalip" oleh bawahannya. malahan ia merasa bangga karena telah mampu melahirkan pemimpin baru... seperti dirinya
keenam
pemimpin harus memiliki responsibility, tanggung jawab, semua yang terjadi akibat pekerjaannya ialah orang yang pertama menjadi pribadi yang bertanggung jawab.. ia tidak menyalahkan orang lain sebagai "kambing hitam" tapi ia langsung instrokpeksi diri.. apa yang salah..?
keenam prinsip ini berasal dari keenam huruf di kata2 LEADER
L : Loyal to the prinsiple
E : Enthusiasm
A : Accomodate, accompany
D : Developing others
E : Empowering
R : Responsibility
Salam Hangat
Bag Kinantan, ST