Showing posts with label Film. Show all posts
Showing posts with label Film. Show all posts

TIDAK ADA KEBETULAN

Tidak ada kebetulan di dunia ini. Semua berjalan dengan apa yang telah direncanakan dan ditentukan. Termasuk masa depan kita, apakah kita ingin berhasil atau justru kita hanya ingin menjadi seperti yang itu-itu saja, semua harus dan semestinya kita rencanakan. Seorang pakar manajemen, Peter Drucker pernah mengatakan, “Cara terbaik untuk mengetahui masa depan kita adalah dengan menciptakannya.”

Keputusan-keputusan yang kita ambil di masa lalu, hasilnya akan kita tuai di masa sekarang atau masa yang akan datang. Oleh sebab itu banyak orang bijak mengatakan “Hati-hati dengan pikiranmu, karena ia akan mempengaruhi niatmu, jika niat sudah tertanam maka ia akan melahirkan sebuah tekad, tekad akan mendorong kepada perbuatan. Perbuatan yang dilakukan berulang-ulang akan menjadikannya sebuah kebiasaan. Kebiasaan akan membentuk sebuah karakter atau kepribadian, karakter seseorang itulah yang akhirnya menentukan nasibnya, berhasil atau tidak.”

Seperti kisah Kungfu Panda, yang bagi saya tidak hanya sebuah film kartun komedi yang membuat kita terhibur, lebih dari itu, film kartun ini telah mengajarkan sebuah pelajaran penting, bahwa di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan. Termasuk di dalamnya seekor panda gendut yang akhirnya terpilih menjadi the dragon warrior. Sebuah jabatan tertinggi di dunia per-kungfu-an.

Awalnya si Panda (namanya Poo) hanya punya mimpi, ya mimpi yang ia semai di dalam pikirannya, bahwa ia mencintai kungfu dan berharap suatu hari ia akan menjadi ahli kungfu. Akhirnya kesempatan itu datang, hari di mana pemilihan the dragon warrior tiba. Master Oogway, kura-kura bijak bestari, yang memiliki penglihatan jauh melebihi orang-orang di sekelilingnya, memilih si panda gendut, yang “secara tidak sengaja jatuh” tepat di depan Master Oogway. Namun, ternyata memang si panda inilah yang dipilih master oogway.

Master Oogway berkata kepada sahabatnya, Shifu, tidak ada kebetulan, termasuk pilihannya kepada panda itu. Sekarang, kata Master Oogway kepada Shifu, “Tugasmulah untuk menjadikanya the dragon warrior sesungguhnya.”

Sekali lagi tidak ada kebetulan, semua berawal dari pikiran dan hati kita yang mengkristal karena mendapat tempaan dari berbagai ilmu yang kita pelajari, buku yang kita baca, nasehat-nasehat orang-orang tua kita, pengaruh lingkungan tempat tinggal kita, pengaruh televisi, Koran dan sebagainya. Semuanya berkumpul menjadi satu, mengasah dan menempa buah pikiran yang telah disetujui hati tadi menjadi pilihan hidup kita. Dan kita jangan pernah menyerah sebelum akhirnya, Tuhan, menunjukkan hasil akhir dari pilihan hidup kita itu. Karena takdir itu berada di ujung dari usaha-usaha keras kita, manusia.

Oleh sebab itu, jangan heran jika anda melihat ada seorang yang sangat keras kepala memegang prinsip yang mungkin bagi kita “ada-ada aja” atau “anak ini cari susah saja” atau “hari gini kok masih berpikir seperti itu” dan lain sebagainya. Namun, satu hal yang harus kita pahami dan yakini bersama bahwa Tuhan yang maha kuasa tidak pernah tidur dan akan terus memeluk mimpi-mimpi kita dan mewujudkannya dengan cara yang sama sekali tidak kita duga sebelumnya. Dan saat hari itu tiba, kita akan lebih banyak tersenyum mengenang pahit dan sulitnya perjuangan dalam mewujudkannya. Semoga.

Kotabumi, 12 Maret 2010

www.boemikoo.blogspot.com

Escape From Huang Chi (Film)


Ketika sebuah pekerjaan di landasi oleh perasaan cinta, maka pekerjaan itu akan terasa indah. Walaupun, di dalam perjalanannya kita akan menghadapi berbagai halangan dan rintangan.

Cinta adalah sebuah bahasa univesal. Banyak sekali sekat-sekat budaya yang luruh saat bahasa cinta mulai berbicara.


Berangkat dari sebuah kisah nyata di masa perang dunia, saat Jepang yang kala itu mengekspansi China daratan. Seorang jurnalis dari Eropa masuk ke Cina untuk menyaksikan langsung kondisi perang saudara yang terjadi di daerah tersebut. Dalam film ini, si jurnalis bertemu dengan tokoh perlawanan yang menghadapi tentara pemerintah. Oleh si pemberontak ini di minta untuk mengungsi ke huang chi.

Di huang chi inilah si jurnalis bertemu dengan sebuah panti asuhan (jika boleh dikatakan seperti itu). Dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Panti ini di huni oleh belasan anak laki-laki yang telah yatim piatu karena perang.

Awalnya sangat sulit untuk dapat diterima oleh anak-anak ini. Karena memang mereka mengalami sebuah trauma dengan orang asing. Berhari-hari si jurnalis berusaha menunjukkan bahwa ia tidak bermaksud buruk –dengan bahasa isyarat tentunya --. Di rumah itu tidak ada satupun anggotanya yang mampu berbahasa inggris. Sampai akhirnya datang seorang relawan yang mengantarkan bahan makanan ke panti ini. Dari seorang relawan ini si jurnalis mengenal kondisi yang sedang terjadi di panti ini.

Si jurnalis menyadari betul bahwa untuk dapat dipahami oleh anak-anak ini, ia hanya perlu berbicara dengan bahasa cinta, mengapa karena memang bahasa itu yang dapat di terima di semua tempat. Berhari-hari si jurnalis melakukan pekerjaan yang ia lakukan atas dasar cinta bukan karena terpaksa. Demi melihat kondisi yang memprihatinkan ini, ia berusaha keras agar –minimal- ia dan anak-anak ini tidak kekurangan makanan, dapat hidup dengan sehat (rumah tempat tinggal mereka sangat jauh dari kata bersih) belum lagi anak-anak di panti ini tidak mau mandi dan hidupnya tidak teratur.

Berhari-hari, berbulan-bulan ia terus berusaha berkomunikasi dengan bahasa cinta, mulailah satu dua anak membantu dan bekerja sama dengannya. Sambil ia terus berusaha mempelajari bahasa ibu anak-anak ini. Hari berganti, ekspansi memasuki wilayah yang mereka diami ini dan sudah saatnya bagi mereka untuk meninggalkan tempat ini, menuju daerah yang lebih aman.

Kisah ini berakhir dengan manis. Anak-anak panti itu hidup dengan aman di sebuah daerah yang jauh dari zona perang. Hingga film ini di rilis, anak-anak panti asuhan yang masih hidup hingga sekarang memberikan kesan mereka terhadap tokoh jurnalis. Menurut mereka si jurnalis ini adalah malaikat yang di kirimkan Tuhan untuk menyelamatkan hidup mereka. Dan mereka memberikan ucapan terima kasih yang sangat mendalam untuk beliau.
Dalam kisah ini juga mengajarkan bahwa jangan pernah menyerah untuk mencapai apa yang telah direncanakan dan dicita-citakan. Kita tidak akan pernah tahu hasil atau akhir dari perjuangan atau pengejaran itu sampai kita melakukannya dan terus melakukannya sampai Tuhan mempertemukan kita dengan yang namanya Takdir.

Kotabumi, 1 januari 2010

Sang Pemimpi The Movie


Seperti pernah saya katakan dalam beberapa tulisan sebelum ini, bahwa mengadaptasi sebuah novel menjadi film memiliki kesulitan sendiri. Mengapa? Karena para pembaca novel tersebut telah memiliki “film” sendiri tentang buku yang mereka baca. Sehingga akan banyak pendapat yang akan terjadi setelah film di luncurkan. Mulai dari senang dapat melihat visualisasi tempat yang ada dalam novel, biasa-biasa aja dan yang kecewa karena ’film’ yang ada di pikiran mereka dengan kenyataanya ternyata sangat berbeda.

Untuk kesekian kalinya hadir sebuah film yang diadaptasi sebuah novel laris. Di lihat dari kacamata bisnis, film yang diadaptasi dari novel ini memiliki nilai komersial yang luarbiasa besar. Apalagi jika novel yang di angkat adalah novel best seller. Proses marketing film ini menjadi sangat mudah.

Sang Pemimpi The Movie yang diangkat dari novel laris karya Andrea Hirata ini kembali menyedot perhatian. Mulai dari setting tempat yang eksotik, pemeran yang masih ’hijau’ dalam seni peran dipadu dengan artis senior, produser dan sutradara yang idealis, pengisi soundstrack yang memiliki ciri khas, serta didukung oleh tim yang luarbiasa. Film ini berharap dapat sesukses kisah sebelumnya, yaitu Laskar Pelangi.

Jika saya melihat, riri riza berhasil mengangkat kisah dalam buku Sang Pemimpi. Dibandingkan dengan laskar pelangi, kisah di buku Sang Pemimpi lebih singkat dan tidak terlalu luas bahasannya. Sang pemimpi hanya kisah di masa SMA dan tokoh yang terlibat dalam kisah ini tidak terlalu banyak dan rumit, sehingga scene-scene yang diciptakan riri riza memang berhasil menggambarkan Sang Pemimpi dalam versi novel.

Sama dengan Laskar Pelangi, Sang Pemimpi sepertinya didedikasikan andrea hirata untuk guru-gurunya yang telah menginspirasinya. Dalam LP, ada sosok guru Pak Harfan dan Bu Muslimah, maka dalam Sang Pemimpi ada sosok Pak Mustar yang galak namun memiliki tujuan mulia untuk mempersiapkan mental anak didiknya, dan seorang guru muda yang enerjik, Pak Balia, guru dengan sejuta inspirasi. Pak Balia ini yang diceritakan oleh Andrea sebagai sosok yang ’mempertajam’ mimpinya untuk ke Eropa, tepatnya Sorbonne Paris. Jika kita terus membaca buku Andrea hingga buku ke empat, maka sosok yang telah menginspirasinya untuk menuntut ilmu hingga ke Eropa adalah sahabat kecilnya yang luarbiasa, Lintang.

Sekali aku katakan bahwa Riri Riza berhasil memvisualisasikan cerita Sang Pemimpi. Dan saya sepakat dengan Andrea Hirata bahwa film Sang Pemimpi lebih baik dari Laskar Pelangi. Lebih baik dari sisi visualisasi yang berhasil dibuat dari kisah di novelnya.

Satu lagi, Theme song Sang Pemimpi, saya sangat suka. Ada Nugie ikut menulis lagunya. Semoga film-film di Indonesia mencontoh film-film seperti Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Emak Pengen Naik Haji, KCB, yang tidak hanya melihat sisi komersial saja, namun juga menhadirkan hiburan yang mendidik penontonnya. Semoga.

Door To Door

Film ini berjudul : Door To Door

filem berdasarkan kisah nyata. Kisah yang diangkat dalam film ini adalah Bill Porter, seorang dengan sedikit kekurangan dengan fisiknya, namun memiliki semangat yang mengalahkan orang2 normal di sekitarnya. 

Bill Porter adalah seorang penjual barang-barang dari perusahaan watkins. ia berjalan dari satu rumah ke rumah yang lain tanpa kenal lelah dan bosan. Penolakan? sudah menjadi sarapan paginya. Entah berapa kali ia akhirnya harus menerima penolakan yang halus maupun yang kasar. apa lagi dengan kekurangannya dalam berbicara, orang-orang sering meremehkan kegigihannya. 

Satu kekuatan yang mendorongnya untuk terus berusaha adalah Rasa Cinta nya pada pekerjaannya. Di samping dukungan penuh dari ibunya. Ada dua kata yang diajarkan oleh ibunya kepada bill porter, pertama adalah Patience (kesabaran) dan kedua Persistence (Kegigihan). dua kata ini yang terus menerus mendobrak kekurangan yang dimilikinya untuk terus mencapai apa yang harus ia capai. 

hingga kini, bill porter tetap seorang penjual. dan ia membuka situs billporter.com karir menjual yang telah ia bangun sejak tahun 60'an.

kalau anda ingin belajar tentang kesabaran dan kegigihan, tidak ada salahnya menonton yang satu ini. 

oh ya, namun ada satuhal yang menjadi kekurangan billy, ia agak keras kepala dan tidak mau mendengar nasehat orang lain. apa lagi jika ia telah nyaman dengan hal itu. Namun itu dulu, sekarang billy adalah orang terbuka (sepertinya) kenapa? karena dulu ia menolak yang namanya komputer, saat ini ia berjualan lewat internet...

satu kata, Luar biasa.

selesai

Flash Of Genius



-Lintasan Ide Brilian- "Based on True Story"

Terkadang munculnya penemuan-penemuan besar di dunia ini diawali sesuatu kejadian yang tidak disengaja. Banyak penemu yang menjadi penemu besar dikarenakan kesalahan dalam penelitian, namun menghasilkan penemuan baru. Di dalam buku Serendipity "penemuan-penemuan yang tidak disengaja" banyak sekali diceritakan kisah penemu-penemu yang mendapatkan hadiah nobel, justru penemuan mereka di dapat dari ketidaksengajaan.

Ketidaksengajaan ini bukan berarti menjadikan penemuan mereka menjadi tidak penting atau tidak berkualitas. Di sinilah keunikan penemuan ini. Di saat orang lain menganggap remeh lintasan-lintasan pemikiran mereka, para penemu ini justru menajamkan akalnya untuk mencerna dan terus menggali penemuan baru yang didasari oleh lintasan pemikiran tersebut.

Berawal dari ketidak sengajaan

Adalah seorang profesor yang sangat berdedikasi terhadap pengembangan ilmu dan mendidik anak-anak muda. Secara tidak sengaja, saat ia melihat ke cermin, ia melihat betapa canggihnya fungsi kerja matanya. Kemudian saat ia mengemudikan mobilnya di tengah hujan deras, ia teringat dengan fungsi kerja mata yang tidak berbeda dengan fungsi kerja kipas kaca depan mobil, hanya saja waktu itu (sekitar tahun 1940-an) kipas penghapus kaca digerakkan secara manual.

Ford Mobil, sebagai produsen mobil terbesar di Amerika terus melakukan penelitianuntuk menghasilkan sebuah kipas kaca yang dapat bekerja otomatis. Para peneliti ford kesulitan untuk menghasilkan alat yang tahan panas.

Nah, dari ide sederhana itulah profesor kearn melakukan penelitan kipas kaca mobil yang dapat bekerja secara otomatis. Setelah melakukan beberapa pengujian dan beberapa pengubahan bahan yang digunakan, ditemukanlah kipas penghapus kaca mobil.

Awal Masalah

Untuk memproduksi kipas penghapus kaca otomatis ini tentunya memerlukan modal yang tidak sedikit. Untuk itulah si profesor menggandeng pihak ketiga yang akan menjadi investor penemuannya. Dalam waktu yang singkat, profesor Kearn menemukan investor. Mereka berkomitmen untuk membantu Prof Kearn dan menjadikan produk penemuan professor ini sebagai kipas penghapus kaca mobil terlaris di Amerika. Bagaimana mereka bisa begitu yakin, karena Ford belum menemukannya.

Untuk mendapatkan ikan besar, kita perlu jarring yang besar pula. Untuk itulah Prof Kearn dan teman-temannya berkunjung ke Ford untuk mengajak bekerja sama. Awalnya Ford setuju dengan klausul kontrak yang dibuat diawal. Produksi dimulai. Namun di tengah produksi Ford tiba-tiba memutuskan kontrak. Ada apa gerangan? Banyak alasan yang dikeluarkan Ford. Intinya mereka ingin menguasai penemuan ini sendiri dan mengatakan pada dunia bahwa merekalah penemunya.

Perjuangan mendapatkan hak

Prof Kearn terus berusaha untuk mendapatkan haknya sebagai penemu kipas penghapus kaca dari Ford. Namun, keluarga dan teman-temannya menyarankan untuk tidak terus menuntut. Biarkan saja, toh dia (Prof Kearn) tidak menjadi hina dengan penemuan itu.

Bagaimanapun juga aku harus mendapatkan kembali hakku yang di curi oleh Ford. Itu yang dikatakan pada hatinya. Bertahun-tahun ia mencoba, sampai ia di katakana orang gila. Ia kehilangan istri, anak-anaknya meninggalkannya dan ia hidup sendiri. Di perjalannya memperjuangkan haknya, ada pihak yang bersimpati dengan ingin membantu, namun ujung-ujungnya duit. Saat Ford menawarkan damai dengan sejumlah uang (tawaran Ford dimulai 200ribu dolar di tahun 1940-an hingga satu juta dolar.). Apakah Prof Kearn bergeming? Ternyata tidak.

Ia seakan ingin mengajarkan kepada kita bahwa dalam hidup kita harus jujur. Jujur kepada diri sendiri dan kepada orang lain. Terserah penilaian orang kepada kita bagaimana namun, jangan sampai akhirnya kita menerobos batas-batas yang telah dibangun hati nurani ini.

Setelah bertahun-tahun tidak ada pengacara yang mau membelanya di pengadilan. Prof Kearn memutuskan untuk mempelajari hukum secara otodidak dan menjadikan dirinya sendiri sebagai pembelanya di pengadilan.

Akhirnya

Agak lucu juga menyaksikan orang yang membela diri sendiri di pengadilan. Namun, tidak ada jalan lain yang dapat ditempuh. Hanya itu satu-satunya cara dan hakim telah mengizinkan Prof Kearn untuk membela dirinya sendiri. Setelah beberapa kali sidang di gelar, akhirnya juri memberikan kemenangan atas Prof Kearn. Artinya Prof Kearn kembali berhak atas penemuannya yang telah dicuri oleh Ford.

Satu pelajaran lain, jangan pernah menyerah walau orang-orang besar dan kuat menghalangi. Karena TUHAN yang Maha Kuasa bersama dengan kita.

We Are Marshall


“Selalu ada cara untuk memulai”

-Based on true story-

Judul di atas adalah judul sebuah film tentang tim football Amerika (Marshall Univesity/ MU). Film ini di awali dengan kekalahan tim MU dengan tim lain di kandang tim tersebut. MU menjadi tamu dalam pertandingan ini. Namun, uniknya meraka pulang dengan kepala tegak.

Di sini drama itu dimulai, saat akan mendarat ke bandara kota Huntington, Virginia, pesawat tiba-tiba terbakar dan akhirnya meledak dan jatuh tidak jauh dari bandara. Para pendukung MU yang sedang menantikan timnya kembali, berlarian menuju bandara guna memastikan bahwa perikiraan mereka adalah salah. Namun, apa hendak dikata, ternyata pesawat yang jatuh adalah pesawat yang membawa tim kesayangan mereka. Seluruhnya tewas, ada 75 orang dalam pesawat itu, mereka adalah pemain, pelatih dan pendukung yang berada di satu pesawat.

Malam itu, seperti mimpi yang tidak pernah mereka harapkan hadir dalam kesunyian. Orang-orang yang mereka kasihi, orang-orang yang mereka cintai harus mendahuluinya. Hari itu dikenang sebagai hari berkabung kota itu. Kejadiannya sekitar tahun 1970.

Adalah sulit bagi mereka yang terlibat secara fisik dan emosional dengan tim ini untuk akhirnya dapat menerima kenyataan bahwa tim itu telah hilang. Hanya tersisa empat orang yang tidak ikut serta dalam pertandingan itu karena cidera. Sehingga muncul ide dari pimpinan universitas dan dewan kota untuk menutup program beasiswa bagi tim football di universitas itu.

Sebagai catatan, Football (atau sepakbola Amerika atau Rugby) adalah olahraga dengan kasta tertinggi di Amerika. Mereka yang masuk ke dalam tim football adalah orang-orang pilihan yang secara otomatis akan meningkatkan derajat hidup diri dan keluarganya.

Namun, selalu ada cara untuk memulai.

Keinginan untuk membangun tim football kembali hadir dari seluruh elemen mahasiswa kampus Marshall university. Mereka meminta pimpinan universitas dan dewan kota untuk menerima permintaan mereka membentuk tim kembali. Perlu diingat, tim MU tinggal menyisakan 4 orang pemain dan seorang asisten pelatih. Asisten pelatih ini tidak ikut dalam rombongan karena ada tugas “scouting” yang ia kerjakan setelah pertandingan terakhir MU.

Langkah pertama yang dilakukan adalah mencari pelatih. Hampir tidak ada pelatih yang mau menerima tugas menangani tim yang baru saja hancur dan masih meninggalkan trauma yang mendalam. Tidak hanya civitas akademika namun juga seluruh masyarakat kota itu ikut larut dalam kesedihan kehilangan tim mereka.

bersambung

Azzam yang ku kenal

Bagi yang pernah menyaksikan film Ketika cinta bertasbih atau membaca bukunya, pasti mengenal yang namanya Azzam. Seorang pemuda yang harus bekerja keras di Negara orang untuk mempertahankan dirinya dan keluarganya di Indonesia. Ia bertahan hidup dengan membuat tempe dan bakso. Ia menjalani itu tanpa rasa menyesal walau ia harus merelakan studinya menjadi molor hingga 9 tahun lamanya. Itu semua ia lakukan sebagai rasa tanggung jawab sebagai lelaki tertua di rumahnya, tertutama saat ayahnya meninggal dunia di tahun pertamanya kuliah di Mesir.

Ternyata dalam kehidupanku, banyak ku temui Azzam-Azzam yang lain. Mereka kuliah dan mereka harus bekerja guna menghidupi/ membantu biaya sekolah adik-adiknya. Salah satunya adalah ia yang sekarang akan ku ceritakan. Sebut saja namanya adalah Satria. Semua yang ada pada diri Azzam imajiner ada pada dirinya. Mulai dari ayahnya yang meninggal saat ia masih kuliah (tahun pertamanya kuliah), tentang kuliahnya yang hampir mencapai 9 tahun. Dan ia harus bertahan hidup dengan bekerja sambil kuliah, bukan kuliah sambil kerja.

Sambil mendengar Toshiro Masuda, ku coba menuliskan pengalamanku bersama “Azzam”. Satria, ia hidup 5 bersaudara, ia sebagai anak pertama dan laki-laki. Pada awalnya, kehidupannya sama seperti kita. Ia dapat menempuh pendidikannya dengan baik tanpa halangan. Saat ia kuliah sang ayah yang menjadi penopang biaya pendidikannya harus lebih dahulu menghadap yang kuasa. Sementara ia masih memiliki 4 orang adik yang masih bersekolah dan akan memasuki pendidikan tinggi juga.

Ia harus merelakan kuliahnya menjadi sedikit tersendat-sendat karena ia juga harus bekerja menghasilkan uang yang akan ia kirimkan ke kampungnya yang akan digunakan sebagai biaya pendidikan adik-adiknya. Ibunya memang PNS, namun gajinya hanya cukup untuk biaya hidup sehari-hari. Kalaupun ada, ia pasti tidak mau menyusahkan ibunya. Ia akan bilang ke adik-adiknya agar meminta uang jajan kepadanya. Namun, jika ibu memberikan uang jangan di tolak, karena ada doa didalam pemberiannya ini.

Saat ia menyelesaikan pendidikan tingginya di universitas yang hampir 9 tahun itu. Ia pulang ke rumah guna membantu ibunya (itu alasannya). Di kampungnya ia bekerja apa saja guna membantu keuangan keluarga, terutama untuk membiayai pendidikan adik-adiknya yang sudah memasuki jenjang univesitas. Satu keyakinannya adalah rejeki itu sudah ada tinggal dijemput saja. Aku ikut merasakan betapa kerasnya ia mencoba memendam rasa. Terkadang ia memiliki beberapa keinginan, namun saat ia melihat keluarganya, ia langsung menepis semua keinginan itu. Seperti ia ingin melanjutkan pendidikannya di pesantren, sambil mencicil hafalan Qur’annya. Sekali lagi, saat ia terbayang wajah ibunya, ia langsung mengurungkan niatnya. Ah, berbakti pada orang tua itu lebih penting, katanya.

Di usianya yang sudah memasuki angka 29 tahun, ia juga belum menikah. Bukannya tidak ada yang mau, tapi setiap ada yang datang, ia menolaknya dengan halus, atau ia mencoba mencari-cari alasan agar dapat menolaknya. Saat ditanya alasannya ia hanya tersenyum dan berkata, “gak tau aku.” Jika aku membaca, ia masih merasa memiliki hutang untuk menggantikan posisi ayahnya di mata adik-adiknya, dan hal itu akan sulit ia lakukan jika ia menikah saat ini.

Saat menyaksikan film ketika cinta bertasbih kemarin, aku seperti melihat Satria yang memerankan Azzam. Ia menentang kerasnya hidup untuk hidup. Oh ya, satu lagi, Satria juga hampir berangkat ke Mesir, namun jatahnya diambil orang lain. Padahal tes yang diikutnya menyatakan bahwa ia lulus untuk berangkat ke Mesir tahun itu. Tapi tidak jadi. Seandainya ia menyaksikan film ini, aku yakin pasti ia akan merasakan bahwa film ini sebagai memori hidupnya yang diputar kembali. Hanya saja dengan setting tempat dan waktu yang berbeda.

Rocky Balboa (Bagian II)

Setiap orang, setiap diri manusia bertanggung jawab atas diri mereka masing-masing. Keberhasilan dan kegagalan dalam hidup mereka adalah hasil dari pekerjaan mereka sendiri.

Pesan ini yang ingin disampaikan oleh Rocky Balboa kepada kita semua yang menyaksikan filmnya. Bagian ini adalah bagian yang paling aku sukai dari keseluruhan film ini. Bagian saat anaknya protes atas keputusannya untuk naik ring kembali. Ia protes karena ia merasa bahwa kehidupannya selalu di bawah baying-bayang nama besar “Balboa”. Coba dengarkan keluahnnya.

“Hidup bersama ayah tidaklah mudah. Orang-orang melihatku, namun mereka memikirkan ayah.”

Rocky memahami kondisi psikologis anaknya. Ia mengatakan bahwa ini adalah hal terakhir yang ingin ia lakukan. Namun si anak terus berkeras agar Rocky membatalkan rencananya tersebut. Namun perhatikan apa yang dikatakan Rocky kepada anaknya.

Kau takkan percaya, tapi kau dulu cukup dalam genggaman ayah. Ayah angkat dan ayah katakan pada ibumu, “Dia akan menjadi yang terbaik di dunia. Anak ini akan menjadi lebih baik dari siapapun.” Dan kau tumbuh dengan baik, menyenangkan melihatmu tiap hari adalah istimewa.
Lalu saat kau tumbuh dewasa, kau menghadapi dunia dan kau melakukannya. Namun entah bagaimana engkau berubah. Kau berhenti menjadi dirimu. Kau biarkan orang lain menunjukmu dan mengatakan kau tidak berguna. Saat situasi bertambah parah kau mulai mencari sesuatu untuk di salahkan. Misalnya bayangan besar.
Ayah beritahu apa yang sudah kau ketahui. Dunia tidak seperti matahari dan pelangi. Dunia sangat kejam dan keras, ayah tidak peduli sekuat apapun dirimu, dunia akan memaksamu untuk bertekuk lutut dan menahanmu jika kau biarkan.
Kau, dirimu dan tak seorangpun akan memukulmu sekeras kehidupan. Namun ini bukan mengenai seberapa keras kau memukul, tapi seberapa keras pukulan yang akan kau terima dan terus maju. Berapa banyak pukulan yang dapat kau terima dan terus bergerak maju. Begitulah kemenangan itu diraih.
Jika tahu kemampuanmu, dapatkan yang pantas kau dapatkan tapi kau harus mau dipukul dan tidak menyalahkan orang lain dan bilang kau tidak seperti yang kau mau karena dia atau siapapun pengecut melakukan itu, dan itu bukan dirimu. Kau lebih baik dari itu semua.
Tapi sebelum kau yakin pada dirimu, kau tidak akan memiliki kehidupan.

Ya, sebelum kau yakin dengan dirimu sendiri, maka kau tidak akan pernah memiliki kehidupan. Setelah ku saksikan seluruh bagian film, aku merubah pandanganku terhadap film ini, aku katakan bahwa, film ini sangat luar biasa. Ada banyak pelajaran tentang kehidupan yang berhasilku petik. Terimakasih Rocko.

Kotabumi, 26 April 2009

Rocky Balboa (Bagian I)

Beberapa bulan yang lalu, saat masih di Medan, aku mengetahui bahwa Film Rocky Balboa kembali di produksi. Teman-teman banyak yang mengatakan bahwa film ini kesannya dipaksakan oleh si “Rocky”. Setelah menyaksikan filmnya, teman-teman berkomentar sama dengan komentar saat film ini akan dibuat. Film ini kesannya dipaksakan. Karena aku belum pernah menyaksikan langsung, aku mengambil kesimpulan yang sama dengan teman-teman.

Beberapa hari yang lalu, saat berada di tempat penyewaan VCD dan DVD, aku mendapatkan VCD Rocky Balboa. Aku berpikir mengapa tidak ku saksikan saja langsung, siapa tahu pikiranku selama ini salah. Aku berpikir mungkin ada sisi positif yang dapat diambil dari film ini.

Film ini bercerita tentang kehidupan Rocky Balboa setelah menggantung sarung tinju dan membuka restoran. Kehidupannya memburuk saat istrinya meninggal dunia karena kanker. Praktis Rocky semakin kesepian, anak semata wayangnya telah tumbuh dewasa dan berusaha untuk mandiri.

Dalam kesepian itu, muncul ide “gila” dari dalam diri rocky, untuk naik ring lagi dan kembali bertinju. Padahal saat itu usianya sudah tidak muda lagi, di atas 50 tahun. Namun sisa-sisa kejayaan masa lalu itu, masih melekat di tubuhnya. Setelah usaha yang alot untuk mendapatkan lisensi bertinju lagi, rocky mendapatkan tawaran pertandingan eksebisi dengan petinju terbaik saat ini. Awalnya ia ragu, karena ia hanya berpikir untuk bertanding dalam skala kecil, local saja, bukan pertandingan akbar seperti tawaran yang datang kepadanya tersebut.

Ia ragu, dan itu adalah hal yang wajar. Karena niat awalnya hanya untuk melakukan sesuatu yang ia sukai. Itu saja. Melakukan apa yang ia sukai. Seorang temannya, “Little Marie” berkata padanya pada saat ia mengantarkannya pulang. Little Marie mengatakan, “Kita memiliki semangat, namun biasanya tidak memiliki kesempatan untuk mengguna-kannya lalu hal tersebut hilang. Inilah dirimu, kau akan selalu seperti ini, kau tidak menyingkir untuk siapapun hingga kau siap menyingkir. Tak penting akan terlihat seperti apa bagi orang lain, yang penting adalah terlihat seperti apa bagimu. Jika ini yang ingin dan harus kau lakukan, maka lakukanlah.”

Penting bagi kita dalam menjalani kehidupan ini untuk melakukan dan mengerjakan sesuatu yang kita sukai. Rasa suka adalah awal dari sebuah hadirnya energi besar dalam diri untuk terus berjalan menentang badai kehidupan yang datang menghadang. Rasa suka adalah pupuk yang menyuburkan semangat, semangat akan terus tumbuh dan tumbuh. Perhatikan sekeliling kita, orang-orang yang mengerjakan apa yang ia sukai akan mendapatkan hasil pekerjaan yang sangat baik. Coba perhatikan pula orang-orang yang mengerjakan apa yang tidak ia sukai, maka hasil pekerjaannya tidak pernah baik dan berhasil. Cobalah.

Bersambung. (kotabumi, 26 April 2009)

Inside Man

Menarik. “Two Thumbs Up!”

Setiap film yang diperankan oleh Denzel Washington, selalu menarik perhatianku. Mengapa? Ketika menyaksikannya, kita tidak dibiarkan untuk sekedar terhibur, namun juga berusaha untuk menganalisis situasi. Dan berusaha untuk memecahkan teka-teki yang terjadi di dalam film itu sendiri. Karena memang peran-peran Denzel kebanyakan sebagai seorang detektif, atau pihak yang berusaha mencari kebenaran atas suatu kejadian. Dari beberapa film Denzel yang ku saksikan, mulai dari Bone Collector, Man on Fire, De Javu, dan termasuk di dalamnya film yang baru saja ku saksikan ini.

Dalam film yang didukung oleh Jodie Foster dan Clive Owen ini, ending-nya seperti apa, tidak berhasil ku temukan jawabannya di awal. Aku mendapatkannya di sepertiga bagian yang akhir. Itupun hanya gambaran perampoknya keluar dari kepungan polisi, tentang keberhasilan gemilang perampoknya, itu kudapatkan di akhir cerita.

Yang ku pelajari dari film ini adalah, sikap untuk tetap tenang dalam kondisi apapun. Baik dalam keadaan tertekan ataupun dalam keadaan menekan. Kedua, tetap percaya dengan kemampuan yang kita miliki. Jangan cepat terpengaruh dengan situasi yang memburuk atau tidak sesuai dengan rencana, jalankan rencana yang lain. Satu lagi, untuk memenangkan negosiasi, tetap tenang, fokus dengan kekuatan diri, dan menangkan (untuk awal) pihak lawan untuk mendapatkan kemenangan yang lebih besar lagi. Selanjutnya adalah, untuk teliti dengan apa yang sedang dikerjakan. Awasi setiap detailnya, jangan ada yang salah atau terlewatkan. Karena kesalahan kecil akan berakibat fatal.

Kotabumi, 26 April 2009

Seputar Sinetron

Mungkin tulisan ini bukanlah tulisan pertama yang mengangkat tema tentang sinetron Indonesia. Sudah sejak lama saya ingin menuliskannya, namun baru kali ini pikiran dan tangan ini sejalan untuk menuliskannya.

Kemarin, saya (secara tidak sengaja) menyaksikan sebuah sinetron di sebuah stasiun televisi swasta, saya memang tidak menyukai acara sinetron apapun bentuknya. Karena menghabiskan energi ke tempat yang kurang produktif (menurut saya). Selesai shalat magrib saya duduk sebentar di depan televisi dan ikut menyaksikan sinetron yang kerap di tonton orang tua saya. Alasan orang tua saya, “Cuma ini hiburannya.”

Dari sekitar semenit saya menyaksikan salah satu scene sinetron ini, saya semakin muak. Memang pemerannya saya akui cantik secara fisik. Acting biasa-biasa saja, namun yang membuat saya muak adalah isi dari cerita sinetron ini. Jika saya menarik benang merahnya, tema-tema yang diangkat hanya tentang “kebencian, iri, dengki, dan pendangkalan akidah.” Belum lagi pemeran anak-anak dalam sinetron ini mereka seperti mendapatkan “pendidikan gratis” tentang kebencian, dengki dan sifat-sifat buruk lainnya.

Dalam scene yang saya saksikan itu, seorang pemeran wanita, sedang “menghasut” seorang pemeran anak-anak (masih berusia sekitar 3 tahun) untuk membenci ibunya. Hanya karena kebencian si pemeran wanita kepada ibu si anak. Saya mencatat, efek negatif dari sinetron ini tidak hanya bagi pemirsa setia yang menyaksikan acara ini di rumah. Namun juga akan berimbas pada mental anak-anak yang menjadi pemeran anak-anak di sinetron ini. Karena secara tidak sadar, sutradara, penulis skenario dan orang-orang yang memiliki ide sinetron ini, telah memberikan pendidikan “kebencian” kepada anak-anak yang masih polos.

Dalam waktu yang lama ini akan menjadi referensi dalam hidupnya. Kejadian-kejadian saat ia kecil (termasuk di dalamnya peran dia di sinetron itu), akan mengendap dalam pikiran bawah sadarnya dan akan muncul saat ia dewasa. Ia akan tumbuh menjadi pribadi yang memandang “negatif “ lingkungannya. Hati dan pikirannya akan ditumbuhi benalu-benalu kebencian. Sejak kecil kita sebagai orang tuanya memupuki benalu agar tumbuh subur dalam pikiran anak-anak kita.

Saya hanya dapat menghimbau kepada orang-orang tua agar memberikan tontonan yang lebih edukatif kepada anak-anak kita. Kemudian kepada pekerja seni, film dan televisi agar secara sadar memperhatikan akibat buruk dari sinetron yang mereka produksi. Saya juga tahu bahwa mereka sedang mencari makan dengan produksi sinetron itu. Tapi apakah kita ingin mengorbankan masa depan anak-anak kita?

Ah.. bodoh kau bag, mereka semua itu mana peduli dengan ocehanmu.
Kotabumi, 20 April 2009

Forrest Gump


Beberapa waktu yang lalu ada seorang teman yang bercerita bahwa ia baru saja nonton sebuah film yang sangat luar biasa, judulnya forrest gump yang dibintangi oleh Tom Hanks. Seperti kebanyakan film Tom Hanks yang lain, forrest gump adalah sebuah film drama. Film yang diangkat dari sebuah novel yang di tulis tahun 1986.

Film ini tergolong sukses secara komersial, film yang dirilis july 1994 ini mendapatkan 13 nominasi oscar dan 6 nominasi mendapatkan oscar, salah satunya pemeran utama dalam film ini.

Film ini bercerita tentan seorang anak bernama Forrest gump, lahir dari keluarga yang biasa-biasa saja, kedua orang tuanya bercerai, dan sedihnya lagi ia memiliki IQ di bawah rata-rata, 75. namun ia memiliki sebuah kelebihan yaitu kemampuannya untuk berlari dengan cepat. kemampuan berlari inilah yang akhirnya membawanya mendapatkan penghargaan dari presiden amerika karena banyak menyelamatkan tentara amerika yang terluka di perang vietnam.

di samping kisah heroik gump dalam mengangkat nama amerika di dunia, ada juga sisi pahit dan manisnya kisah cinta gump dengan jenny. walau pada awalnya jenny menolak untuk menikah, namun pada akhirnya mereka menikah juga. Jenny meninggal tak lama setelah mereka menikah.

ada sebuah perkataan yang selalu diingat gump, tentang sebuah filosofi kehidupan ini. kata-kata ini ia dapat dari ibunya dan selalu dikatakan ibunya kepadanya dulu. kata-kata itu adalah

"Life was like a box of chocolates. You never know what you're gonna get."

kehidupan ini seperti sekotak coklat, kita tak kan pernah tau sampai kita membukanya. keren.

aku sebenarnya belum pernah menonton film ini langsung, namun dari teman-temanyang telah menyaksikannya mengatakan bahwa film ini wajib ditonton. bintang 5 katanya.

Laskar Pelangi 2


Film laskar pelangi bag 2

Pada cerita yang lalu, aku sedikit memberi pengantar tentang film.

Seperti kata andrea, ternyata memang film ini benar-benar indah. Scene yang diambil begitu mempesona, film inilah memang sebuah masterpiece dari seorang sineas terbaik di Indonesia (menurut Andrea).

Jalan cerita

Secara umum, cerita di film ini tidak jauh berbeda dengan apa yang terdapat dalam buku lascar pelangi. Memang ada beberapa perbedaan, untuk perbedaan itu nanti akan saya ceritakan.

Cerita di awali dari seorang ikal yang pulang kampong saat ia hendak berangkat ke prancis di tahun 1999. dalam perjalanan pulang itu ia terkenang kisahnya dulu di tahun 1970-an. Saat ia hendak sekolah.

Saat berangkat untuk mendaftar di sekolah muhammadiah, sekolah tertua dan termiskin di belitong. Alas an klasiklah yang akhirnya membuat ikal dan ke delapan kawan lainnya mendaftar di sekolah ini. Pertama dari segi biaya sekolah ini sangat murah, ia tidak menetapkan jumlah spp perbulannya. Dan kedua sekolah ini menitik beratkan pada pembangunan moral anak didiknya. Di saat bangsa ini terjadi krisis moral, sekolah ini seperti oase di padang pasir.

Namun, kegembiraan akan sekolah itu hamper sirna, karena ada surat dari pengawas sekolah, jika sekolah ini tidak mendapatkan 10 siswa, maka sekolah ini di tutup operasionalnya. Sampai pukul sepuluh hari itu, baru sembilan orang anak yang akan menimba ilmu di sekolah ini. Termasuk sosok jenius, lintang yang datang jauh dari rumahnya untuk sekolah.

Tragis memang, saat mereka ingin sekolah, di saat yang sama mereka harus mengubur mimpi untuk sekolah itu, karena jumlah mereka yang tak sampai sepuluh orang.

Adalah Harun seorang anak dengan keterbelakangan mental, teman baik ke delapan anak yang akan sekolah itu , datang sebagai pahlawan, guna menggenapkan syarat pengawas sekolah dari palembang, sepuluh siswa.

Ya… sekolah yang nyaris rubuh, yang kalau malam menjadi kandang kambing, sekolah dengan 2 orang guru yang berdedikasi tinggi, akhirnya kembali bersemangat untuk menlanjutkan nafasnya. Walau setelah itu, sekolah ini tidak lagi mendapatkan murid, namun kesepuluh anak belitong ini telah menjadi asset berharga bagi sekolah miskin ini.

Sekolah berjalan seperti biasa, hingga akhirnya mereka menyelesaikan sekolahnya. Di tambah beberapa prestasi luarbiasa yang mereka torehkan melalui dua anak jenius di kelas itu, lintang dan mahar.

perbedaan

Sepeti telah saya katakan di awal, bahwa secara umum, jalan cerita antara di film dengan di buku tidak jauh berbeda, perbedaannya ada pada pemeran bakri yang dalam buku tidak ada. kemudian kisah ini hanya terbatas pada masa SD saja, sedangkan pada buku hingga SMP, kemudian pada acara cerdas cermat SD, dimana terjadi perdebatan antara juri dengan lintang, sedangkan dalam buku yang berdebat adalah antara lintan dengan guru SD PN, dalam film guru SD PN justru membela jawaban Lintang.

Perbedaan lain adalah dalam film pak harfan meninggal dunia, sedangkan di dalam buku tidak. Dan perbedaan-perbedaan lain yang tidak prinsipil, dan menurut saya perbedaan itu dibuat sebagai "drama" dalam film atau sebagai bumbu untuk memperindah film itu sendiri. Dan saya sepakat dengan Andrea bahwa Riri Riza dan Mira Lesmana telah berhail menerjemahkan sebuah mimpinya ke dalam bentuk visual.

penutup

Andrea meneruskan mimpinya untuk membuat film laskar pelangi, walau pada awalnya banyak pembaca setiap buku ini merasa akan terjadi perbedaan mencolok antara buku dengan film yang akan digarap nantinya. namun Andrea tetap maju dan ia merasa ada kesamaan visi antara mira lesmana, riri riza dan dirinya sendiri. apa lagi setelah membaca script skenario dilm itu semakin menegaskan keyakinan itu.

Ada sebuah semangat yang mungkin itu tidak di pahami oleh para pembaca laskar pelangi. yaitu semangat untuk memiliki mimpi, karena andrea memiliki keyakinan bahwa Tuhan akan memeluk mimpi-mumpi kita. Terutama sekali untuk anak-anak Belitong, pulau paling timur di Sumatera. Siapa sangka bahwa ada 12 anak Belitong yang tidak pernah main drama, teater dan sejenisnya, akhirnya dapat bermain film layar lebar dengan sineas-sineas terbaik di negeri ini. Itu yang sebenarnya hendak ia sampaikan bahwa setiap orang di negeri ini memiliki hak yang sama untuk bermimpi dan mewujudkan mimpinya. dan lewat film ini, Andrea ingin menyampaikan pesan ini kepada kita semua.

Terima Kasih Andrea Hirata

FILM LASKAR PELANGI


25 september 2008 adalah premiere Film Laskar Pelangi di bioskop. Film yang diadopsi dari Novel Laskar Pelangi yang ditulis oleh Andrea Hirata. Pada tanggal itu, aku masih di lampung. Aku sempat berencana untuk nonton Laskar Pelangi di Lampung saja, namun saying di saat yang beberapa hari sebelum tanggal 25 september 2008, bioskop yang ada di Lampung (studio 21) melakukan rehab/ renovasi. Terpaksa aku harus bersabar untuk melihat hasil kerja Riri Riza dan Mira Lesmana nanti setelah aku kembali ke Medan. Selama di Lampung aku berusaha untuk mencari tahu, lebih tepatnya mencari bocoran tentang film itu. Sampai aku kembali ke medan, aku tidak mendapati review tentang film Laskar Pelangi ini. Kecuali ada satu review yang dituliskan oleh Andrea Hirata sendiri, bahwa ia begitu bahagia, hingga ia menangis, karena setiap scene yang ditampilkan begitu indah. Andrea merasakan seperti sedang melalui jalan yang ia telusuri waktu itu, belitong tahun 1970-an.

Seperti kebanyakan film yang di adopsi dari sebuah novel, kisah yang diangkat dalam film adalah ringkasan dari buku novelnya. Tentunya akan memakan waktu yang panjang untuk menceritakan detail isi buku ke dalam film. Dan memang tidak semua sutradara mampu memvisualisasikan cerita yang ditulis. Belum lagi benturan yang akan terjadi antara pembaca saat ia menonton hasil visualisasinya. Karena si pembaca sudah mempunyai film mereka sendiri. sehingga sering kita dapati banyak orang yang kecewa dengan film-nya, kalau saja terjadi perbedaan dengan apa yang ia baca. Kita belajar dari Film Ayat-Ayat Cinta yang banyak menuai kritik dari pembaca setianya.

Dari awal Andrea sudah memprediksi bahwa akan banyak pembaca setia Laskar Pelangi yang akan kecewa dengan keputusannya, memfilmkan novelnya ini. Andreapun menyadari bahwa setiap orang memiliki “Film Laskar Pelangi” sendiri. Namun, ia memiliki sebuah mimpi yang jauh melampaui apa yang dipikirkan oleh para pembaca Laskar Pelangi. Mengapa Andrea memilih Mira Lesmana dan Riri Riza, itu semua karena track record kedua sineas indonesia ini telah diketahui banyak orang, bahwa mereka telah berhasil membuat film-film yang indah, bagus, namun tetap idealis.

Pada pemeran dalam film ini adalah anak-anak belitong asli, dan seluruh gambar di ambil di pulau timah ini. Kesemua anak (dalam film ini ada 12 orang anak) yang menjadi pemeran laskar pelangi adalah anak-anak biasa yang belum pernah bermain film atau teater. Namun saat kita melihat aksi mereka di film ini, mereka terlihat tidak canggung dan begitu menikmati perannya.

Bersambung....

CJ 7


Film terakhir Stephen Chow ini agak sedikit berbeda dengan cerita-cerita sebelumnya. dalam film ini lebih tepat disebut sebagai film keluarga. stephen chow yang bertindah sebagai Ayah dari seorang anak bernama Dicky. Walaupun mereka dari keluarga miskin, tapi keinginan Mr. Chow untuk menyekolahkan anaknya begitu tinggi. Ia berharap bahwa pada akhirnya anaknya akan merubah nasib keluarga mereka. Mereka berdua tinggal di sebuah rumah sempit berukuran sekitar 3 x 1.5 meter. Di sanalah makan, tidur dan aktifitas lainnya. 

Ada sebuah filosofi dasar yang Mr Chow ajarkan kepada anaknya Dicky. Walaupun mereka adalah orang yang tak punya namun, jangan sampai mereka menjadi sampah masyarakat, tidak berbohong, tidak berkelahi, kita harus terus belajar keras hingga akhirnya menjadi orang yang berguna pada masa yang akan datang.

Kehidupan Dicky akhirnya sedikit mengalami perubahan setelah seekor mahluk luar angkasa datang ke rumah mereka. Dan mahluk ini memiliki kekuatan magic, dalam mimpinya, Dicky mampu mendapatkan nilai 100 dengan bantuan mahluk ini. Sehingga ini menjadi obsesi Dicky untuk dapat nilai 100 tanpa usaha keras. Karena selama ini nilainya jarang mendapatkan angka yang memuaskan. 

Sampai di sekolah, Dicky begitu berharap bahwa mahluk luar angkasa (dinamai CJ 7) dapat membantunya. namun apa yang terjadi...? CJ 7 tidak dapat melakukan apa-apa. sampai waktu ujian habis ia tidak mengerjakan satupun soal yang diberikan. hasilnya sudah di tebak bahwa ia mendapat nilai "0".

Dicky mengelabui ayahnya bahwa ia mendapat nilai 100 dengan menamahkan angka 10 di depan 0. ayahnya tidak tau dan begitu bangga padanya. di tempat kerjanya, Mr. Chow menceritakan kejeniusan anaknya kepada teman-temannya. hanya bos-nya yang tidak percaya. bosnya berkata bahwa anaknya telah melakukan kecurangan. tapi Mr Chow tidak terima. setelah bosa-nya memberi tahu kebohongan anaknya, mr chow marah karena dicky telah mengkhianati ajarannya selama ini. 

Sesampai di rumah mr chow marah dengan mengambil Cj 7. dicky yang tidak terima perlakukan ayahnya berkata bahwa ia tidak akan kembali ke rumah jika ia tidak mendapatkan nilai di atas 60. mr chow berkata "terserah, kau gunakan otakmu itu, dan kau akan dapatkan nilai 60." dicky pergi dengan hati marah dan tertantang untuk membuktikan ucapannya dan membuktikan bahwa ayahnya salah. 

Di kelas dicky serius mengerjakan ujian dan selesai lebih cepat. di saat yang sama mr chow di tempat kerja mengalami kecelakaan serius yang mengakibatkan ia jatuh dari lantai 7. mr chow mati. 

selanjutnya... CJ 7 mengerahkan semua kemampuannya untuk membantu menghidupkan kembali mr chow. mr chow berhasil hidup kembali dan Cj 7 harus kehilangan nyawanya. 

Pelajarannya adalah: 

Kita mesti percaya diri dengan kemampuan kita. kita pasti bisa jika kita mau.