Showing posts with label Bisnis. Show all posts
Showing posts with label Bisnis. Show all posts

sarjana, wiraswasta, tidak sarjana

orang-orang yang memiliki ijazah sarjana, biasanya memiliki banyak pilihan untuk bekerja dan biasanya menjadi pengusaha menjadi pilihan terakhir, bahkan ada sebagian yang gak kepikiran sama sekali untuk punya usaha sendiri...

ada untungnya juga yang tidak memiliki ijazah sarjana, kalo mau hidup jadi wiraswasta, gak terlalu jadi beban...hehehe

yang istimewa, punya ijazah sarjana, tapi membangun usaha sendiri juga...

kira-kira kamu termasuk yang mana kawan??

sarjana atau tidak sarjana

Apa itu Kaya?

Salah satu yang akan saya capai saat saya masih hidup adalah saya berusaha agar saya menjadi orang KAYA. kenapa? Saya ingin agar dapat membantu banyak orang dengan harta saya, namun, bukan berarti saat saya belum "kaya" saya tidak membantu orang lain. Untuk itulah, saya kira kita perlu juga mendefinisikan makna kaya itu apa? 

Sebagian orang mengatakan bahwa kaya adalah memilki penghasilan yang banyak, gaji yang tinggi...

Sebagian yang lain mengatakan bahwa, orang kaya adalah orang yang memiliki aset yang banyak....

dan masih banyak lagi definisi yang lain. bagi sebagian orang, penghasilan yang hanya 2-3 juta rupiah per bulan itu sudah sangat cukup, namun bagi sebagian orang lainnya, penghasilan 20 juta ke atas per bulan masih kurang.

Robert T Kiyosaki mengatakan bahwa, yang dimaksud dengan kaya adalah KEMAMPUAN untuk tetap hidup dengan gaya hidup yang ada sekarang (saat masih bekerja) meski anda sudah tidak bekerja (secara aktif untuk mendapatkan aktive income) lagi. 

Nah, saya agaknya lebih sepakat dengan bung robert ini. Sebesar apa nilai PASSIVE INCOME kita dan mampu membiaya gaya hidup kita saat masih memiliki AKTIVE INCOME itulah yang disebut kekayaan atau orang kaya. 

Untuk mengujinya mudah saja, Misalnya hari ini anda memiliki pekerjaan yang mapan, atau bisnis yang bagus, kemudian besok anda berhenti bekerja, berhenti mengurus bisnis, dan anda hidup dengan dibiayai oleh aset yang anda miliki baik berupa aset lancar atau aset tak lancar...seberapa lama anda dapat bertahan hidup dengan gaya hidup yang sama? jika sekiranya anda mampu hidup sangat lama berarti anda kaya. 

mungkin seperti itu...hehehe

salam.


Bisnis = Pikiran Kreatif


Beberapa malam yang lalu saya mengunjungi seorang teman yang saat ini ia berprofesi sebagai teknisi komputer di usahanya sendiri dan pada malam harinya ia berjualan jamu. (sebuah profesi yang bertolak belakang).

Malam itu, saya sengaja datang karena ingin membeli jamu (herbal sesungguhnya) untuk mengurangi rasa sakit di punggung saya akibat sedikit bekerja berat. Sembari menikmati jamu yang disajikan, kami ‘ngobrol’ banyak hal, salah satunya tentang usaha komputer yang teman saya ini jalankan.

Awalnya, beliau berkata, “kayaknya saya mau kerja ke pabrik lagi.” Saya pikir setelah kontrak dengan pabrik selesai sekitar sebulan yang lalu, teman saya ini akan fokus berbisnis saja, menjalankan apa yang selama ini sudah ia jalani. Saya tanya, “emang ada lowongan?” “iya” jawab beliau.

Selanjutnya beliau bercerita panjang lebar tentang “sulitnya” menghidupi keluarganya kalau hanya mengandalkan dari usaha komputer yang ia miliki sekarang, ditambah beberapa usaha lain seperi menjual pulsa, agen JNE, dan jamu.

Kemudian, beliau juga bercerita, kalo mau bisnis di bidang komputer kita harus punya modal yang kuat, paling gak sekitar 60 jutaan. Karena pesaing kita sesama toko komputer, servis komputer, laptop, printer, mereka semua menang di modal. Dengan modal yang kuat, mereka bisa membeli alat misalnya untuk refill dan servis printer, sementara kita manual. Dan lain sebagainya. Intinya beliau “takut” tidak mampu bersaing dengan toko yang lain sehingga beliau tidak dapat pelanggan dan ujung-ujungnya juga kebutuhan dapur tidak terpenuhi.  

Saya diam dan mendengar dengan seksama. Salahkan yang beliau sampaikan? Tidak juga, banyak benarnya malah. Cuma saya akhirnya berpikir, mengapa pemikiran beliau yang takut dengan pesaing, karena pesaing lebih kuat secara modal, peralatan dan stok barang kita balik?

Jadikan pesaing itu sebagai rekanan, bisa gak? Saya pikir bisa. Itulah mengapa bisnis itu kita harus punya banyak sekali jaringan, karena hal ini akan membantu kita dalam mengatasi masalah-masalah yang timbul di dalam bisnis kita. Tidak melulu menyelesaikan masalah finansial, namun juga masalah-masalah lain seperti kekurangan alat, stok atau keahlian. Siapa tahu, pesaing kita memiliki apa yang kita tidak punya, dan kita dapat bekerjasama dengan mereka mengatasinya, ya tentunya bagi hasil. Minimal sekali, pelanggan kita tidak lari dari kita karena ada beberapa keterbatasan yang kita miliki.

Seperti kasus teman saya yang punya usaha komputer ini, pasti beliau punya teman yang berprofesi sama, sama-sama teknisi komputer? Mengapa tidak dimulai dari sana, bangun silaturrahim, komunikasi dan kemungkinan-kemungkinan kerjasama bisnis.

Hanya saja, jika memang tuntutan dari keluarga jauh lebih besar, saya sih berpikir coba sembari bekerja sebagai karyawan, bangun kembali bisnis, kalau sekiranya bisnis kita nantinya sudah mampu menghidupi kita, kita bisa mengambil keputusan untuk berhenti jadi karyawan dan memulai hidup sebagai pemilik usaha.

Saya tidak katakan profesi karyawan sebagai sesuatu yang hina, hanya saja, ada banyak hal yang agak sulit dilakukan karyawan biasa, sering kali karyawan terbentur masalah ‘waktu’. Kadang kala ada orang lain yang membutuhkan kita, sering kali kita tolak karena berbenturan masalah waktu. Apalagi kita yang sehari-hari aktif dikegiatan sosial, menjadi pebisnis adalah pilihan profesi yang paling fleksibel dari segi waktu. Tapi semua kembali kepada anda yang menjalaninya.

Akhirnya saya Cuma ingin katakan bahwa, sekali-sekali coba buat pikiran yang kreatif, berpikir terbalik, berpikir melawan arus, kadang pikiran kita akan menjadi lebih ringan jika kita menghadapi masalah dengan pikiran yang positif, yang dibalut dengan kreatifitas dalam berpikir. Coba saja.

salam

Cara Dapatkan Modal

Sering kali masalah modal menjadi hal yang sangat mengganggu setiap pengusaha pemula/ bisnis kecil. Padahal, ada banyak jalan yang dapat ia tempuh untuk mengatasi masalah ini. Dalam pengalaman saya, ada beberapa tempat untuk kita mendapatkan modal, antara lain:


  1. Modal yang bersumber dari kita pribadi, lewat menabung atau kerja di tempat orang lain, kemudian gaji yang didapat dikumpulkan sedikit demi sedikit. Setelah cukup, dijadikan modal untuk membangun dan mengembangkan usaha.
  2. Modal dari suami/ istri, orang tua/ mertua, dan saudara. hehe, walau kadang awalnya kita malu untuk mengungkapkan permohonan bantuan kepada mereka-mereka, tapi, tidak ada salahnya juga jika ini dijadikan salah satu alternatif. Saya juga pernah memulai usaha dengan meminjam uang dari bibi, walau usahanya tidak begitu berhasil, paling tidak pinjam ke saudara masih memungkinkan, yang paling penting adalah integritas. Karena modal yang mereka pinjamkan, harus kita kembalikan.
  3. Pinjam ke Bank, kalau saya pribadi sih tidak terlalu merekomendasikan sumber yang satu ini. hehehe, tapi tidak ada salahnya juga di coba, toh ada beberapa pinjaman yang digulirkan pemerintah melalui bank-bank pemerintah yang rendah bunga dan ada yang tanpa agunan. Hanya saja, pinjaman melalui bank ini jangan sampai macet, karena nanti kita akan di blacklist oleh bank indonesia (semua pinjaman ada datanya di bank indonesia).
  4. Modal yang didapat dari Pinjam ke teman. Pinjam ke teman ini bisa terbagi menjadi dua, satu pinjaman murni (dalam jangka waktu tertentu harus diganti) atau pinjaman yang sifatnya investasi, nah,...kalo investasi, kita dan teman kita artinya bekerjasama untuk membangun usaha ini. Si teman, bisa menjadi investor aktif (aktif di manajemen usaha) atau hanya pasif (cukup terima bagi hasil). untuk pilihan-pilihan ini, anda dan teman anda bisa berbicara secara lebih detail, baik pembagian kerja dan pembagian hasil. Uang investasi bisa di tarik, jika kerjasama berakhir, atau anda dan teman anda bisa membuat kesepakatan, berapa lama kerjasama ini berlangsung.
  5. Hutang ke pelanggan. biasanya ini saya praktekkan untuk penjualan produk yang harus saya kirim ke pembeli (pembeli berada di kota lain), misalnya, ada teman saya pesan bibit f2 jamur tiram sebanyak 50 botol. harga bibit perbotol Rp. 7500, ongkos kirim Rp. 100.000, total Rp. 475.000. Setelah uang di transfer, bibit baru saya kirim. Uang yang dari pelanggan tadi saya jadikan modal untuk memproduksi bibit atau membeli bibit dari tempat lain yang harganya dibawah harga saya (atau bahasa kerennya jadi makelar).
itulah beberapa cara kita untuk mendapatkan modal, berdasarkan apa yang pernah saya alami selama ini. untuk bisnis yang tanpa modal, menurut pengalaman saya adalah menjadi makelar produk teman-teman kita kepada teman-teman kita yang membutuhkannya, caranya menggunakan cara di no 5. jadi rajin-rajin mencari produk yang bisa dijual dan rajin-rajin mencari teman yang membutuhkan jasa atau barang tertentu, siapa tahu kita bisa menjadi 'perantaranya', ya...untung sedikit, upah mendengar...hehehe

semoga bermanfaat dan dapat diaplikasikan di rumah untuk bisnis rumahan anda.

salam

Target

Dalam bisnis/ usaha, target menjadi satu yang harus kita miliki. Target ini menjadi tolok ukur yang harus kita capai dan menjadi standar penilaian terkait usaha/ bisnis yang kita punya. Saya pernah di tegur oleh pelatih bisnis, beliau bertanya, "tim anda yang di daerah, diberi target berapa?" saya katakan waktu itu, "tidak ada, biarkan mereka sendiri yang membangun dan mengembangkan diri." si pelatih bisnis mengatakan, "wah, bahaya bisnis anda kalau tim anda tidak diberi target."

Dan setelah beberapa waktu, kata-kata yang di sampaikan  pelatih bisnis tadi menjadi kenyataan, usaha saya yang di jalankan teman-teman saya yang tidak saya beri target tadi, selama beberapa bulan tidak mendapatkan penjualan satu pun. betul-betul bahaya. 

Lalu, target juga menjadi faktor penyemangat kita dalam bekerja. Ada tujuan yang hendak dicapai. Sungguh sangat menggelikan jika kita hidup atau berjalan tidak memiliki tujuan yang jelas. Target menjadikan usaha/ bisnis kita memiliki tujuan. di dalam tulisan sebelumnya, bekal pengusaha pemula, hal pertama yang harus kita miliki adalah tujuan. selama ini, kita melihat, banya usaha-usaha yang bermunculan tidak memiliki tujuan, terlalu sering berganti tujuan, produk, cara dan sebagainya, sehingga usahanya tidak bertahan lama.

Selain itu, target juga dapat membantu kita dalam menyusun strategi pemasaran yang efektif  dan juga besaran anggaran yang tepat untuk menjaga keberlangsungan bisnis kita.
 
Nah, jika kita memiliki bisnis rumahan (atau bisnis lain), target itu menjadi penting, bukan untuk terlihat gagah, namun menjadi faktor penyemangat dan membuat kita bergairah untuk menjalankan bisnis dan agar kita dapat fokus pada tujuan kita, fokus untuk mencapai apa yang kita inginkan. 

Sudahkan bisnis anda memiliki target?

Bekal Pebisnis Pemula

Jika Anda pernah memainkan permainan olahraga apapun, Anda pasti mengetahui seberapa pentingnya menguasai dasar-dasar dari hal tersebut. Anda pasti pernah memiliki pelatih yang mengajak Anda untuk menikmati proses persiapan dan latihan yang dibutuhkan untuk meraih kesuksesan.
Hal yang sama berlaku dalam dunia bisnis. Tapi sekarang ini sudah terlalu banyak informasi yang beredar, sehingga seringkali sangat sulit untuk berfokus pada beberapa dasar yang simpel tapi dibutuhkan untuk menyukseskan startup Anda.
Beberapa entrepreneur terlalu sibuk mengejar-ngejar “sesuatu yang baru.” Mereka mencari sudut pandang baru atau “peluru ajaib” yang bisa menyelesaikan semua masalah mereka. Tapi pada akhirnya, “peluru ajaib” adalah sesuatu yang tidak nyata. Yang ada adalah prinsip-prinsip yang sudah terbukti dan harus Anda latih dan kuasai jika ingin bisnis Anda berkembang dan tetap sukses.
Berikut ini adalah beberapa prinsip dasar dan cara untuk menguasainya:
1. Tentukan kemana arah perusahaan Anda, dan kenapa Anda ingin mencapainya.
Jika dalam sebuah perjalanan, Anda mengetahui kemana tujuan Anda dan kenapa Anda ingin pergi kesana, akan lebih mudah untuk tetap termotivasi dan terfokus apa tujuan Anda, bahkan jika Anda mengalami pecah ban atau mogok.
Sama halnya dengan sebuah visi yang akan menuntun Anda saat masa-masa sulit dan akan membantu mengarahkan pelanggan ke bisnis Anda. Jadi cobalah sering-sering bertanya pada diri Anda sendiri, kemana arah yang ingin Anda tuju dengan bisnis ini—dan yang lebih penting, kenapa? Apa alasannya?
Setelah Anda menentukan visi untuk perjalanan panjang dalam kehidupan entrepreneur, Anda bisa menentukan tujuan-tujuan bisnis yang spesifik, lalu membaginya dalam perencanaan, aksi, dan tugas-tugas. Anda akan terkejut saat mengetahui apa yang bisa dicapai dengan memecah sebuah proyek yang tampaknya sangat sulit menjadi tugas-tugas yang bisa dilakukan sehari-hari.
Anda juga akan terkejut oleh banyaknya hasil yang bisa Anda capai dalam 5 atau 10 tahun kedepan dengan sebuah visi yang solid tentang tujuan Anda dan bagaimana cara Anda untuk mencapainya.
2. Bisnis tidak akan berjalan tanpa penghasilan, jadi belajarlah cara menjual
Kita semua pasti pernah melihatnya ribuan kali: sebuah perusahaan yang memiliki logo yang sangat bagus, kartu nama, kop surat, dan kantor yang luas dan memadai, tapi memiliki sangat sedikit penjualan dan pelanggan.
Setiap bisnis, tentunya, memerlukan pelanggan, dan sampai Anda memilikinya, Anda tidak benar-benar memiliki sebuah bisnis. Artinya Anda harus belajar sebanyak mungkin tentang penjualan dan bagaimana melakukannya berulang kali setelah penjualan pertama Anda.
Jika Anda adalah seorang yang berbakat untuk menjadi sales, berbahagialah Anda! Tapi Anda juga harus memastikan Anda menjual dengan harga yang tepat, keuntungan yang akan memastikan Anda sukses dan menghindari kecenderungan untuk menjual dengan harga diskon hanya untuk menaikkan penjualan Anda.
Ini  adalah hal yang penting bahkan untuk perusahaan yang sudah besar. Tapi tentunya jauh lebih penting untuk startup karena tujuan pertama Anda haruslah untuk menghasilkan sebanyak mungkin arus kas secepat yang Anda bisa.
3. Jual sesuatu yang ingin dibeli orang
Kita juga sudah sering melihat banyak perusahaan yang ingin meraih sukses di pasar yang baru dan belum dites sebelumnya, hanya untuk mengetahui bahwa pasar yang mereka targetkan ternyata tidak ada sama sekali, atau mereka hanya berusaha mendapat sesuatu yang sangat kecil.
Untuk menghindarinya, berpikirlah dalam skala kategori yang besar terlebih dahulu. Sebagai contoh, kebanyakan orang sudah membeli sepatu, pakaian, teknologi, dan hiburan, tapi mereka akan membayar lebih lagi jika ada produk atau jasa baru yang menarik untuk mereka. Pasar baru yang bisa menguntungkan biasanya didapatkan dari menggali dalam kategori-kategori yang sudah sukses.
Jadi mulailah dengan sesuatu yang besar, lalu mulai berfokus pada hal-hal khusus. Seringkali Anda akan dapat menemukan lebih banyak kesemaptan daripada Anda memulai dari arah sebaliknya.
4. Ciptakan arus kas terlebih dahulu, baru incar keuntungan
Saya mendukung siapapun untuk mendapatkan keuntungan, tapi pertama-tama Anda harus membangun arus kas yang konsisten. Beberapa pemilik bisnis tergila-gila pada sistem dan pembentukan tim, dan itu bukanlah hal yang tepat, selama itu adalah sebuah sistem yang juga menghasilkan arus kas.
Silahkan jika Anda ingin membangun sistem lain. Tapi pastikan Anda mendapat arus kas terlebih dahulu. Jika Anda ingin membentuk tim yang hebat, silahkan. Tapi ingatlah untuk mendapat arus kas terlebih dahulu.
Jika Anda ingin mendapatkan pendapatan yang lebih besar, dapatkan arus kas yang lebih konsisten.
Akhirnya, yang terpenting adalah melaksanakannya. Semua visi, mimpi, tujuan, perencanaan, dan gambaran Anda hanya akan berguna sesuai dengan sebanyak apa aksi dan usaha yang Anda lakukan untuk menjalankannya.
Dan hati-hatilah dengan godaan untuk mencoba sesuatu yang baru. Sebagai gantinya, biasakan untuk mengaplikasikan prinsip-prinsip dasar yag akan membantu Anda mencapai tujuan. Anda akan menyadari bahwa perkataan guru dan pelatih Anda dulu adalah hal yang benar.(startupbisnis.com)

Bisnis dari rumah, mulainya dari mana ya??

Bisnis dari rumah, mulainya dari mana ya??

Nah, ini dia pertanyaan yang sering kali muncul saat kita sudah mulai memutuskan untuk punya usaha sendiri. Kita kebingungan, mulainya dari mana ya? Iya ya..mulainya dari mana?

Kebanyakan orang, pertama sekali yang terlintas dalam pikirannya saat ia pengen punya usaha adalah modal (uang), betul tidak? Lalu lupa bahwa dia sebenarnya memiliki banyak sumber modal lain yang sama, bahkan lebih penting dari modal uang.

1. manfaatkan teman (di lingkungan, sekolah, kampus, dunia maya, no kontak di HP, dll)
Begini, kita pasti punya teman, kan? Bermacam-macam profesinya, mulai dari tukang bangunan, tukang pijat, pegawai bank, pegawai negeri sipil, pegawai BUMN, anak-anak, atau remaja tanggung dan lain-lain. Pasti ada di antara teman kita tadi yang punya profesi sebagai wirausahawan/ti, ya kan? Dan mereka si wirausahawan/ti tadi pasti punya produk yang ia buat dan di jual.

2. Tawarkan diri untuk jadi agen usahanya teman kita tadi
Nah, mengapa kita tidak mulai dari sana? Kita tawarkan bantuan kita untuk menjadi “agen” dari usahanya. Tidak usah di bayar, cukup komisi hasil penjualan saja. Makin banyak kita jual, makin besar pendapatan kita, cukup adil bukan? Memenangkan semuanya kan? Sedikit masukan, bagusnya anda cari produk yang memang anda suka membicarakannya, suka memakainya, suka lah...biar anda nyaman dulu jualannya. Repot juga kalau anda tidak nyaman dengan produk yang anda jual. Seperti beberapa kasus teman-teman distributor di MLM atau asuransi, mati-matian mereka “memaksa” saya untuk bergabung dengan jaringan mereka, tapi saya gak mau, ya ...mau gimana lagi, saya memang gak nyaman menjalankan bisnisnya.

3. Offline atau online
Dan metode penjualan kita bisa offline atau online. Offline gimana, kan gak punya toko? Lho kemaren kan dah saya bilang, kita bisa jualan di rumah, ya kan? Caranya kita buat display produk di rumah, cantumkan no telepon kita, Atau kita manfaatkan no kontak di HP, kirim sms informasi tentang kita yang memiliki produk ini dan itu, dan seterusnya dan seterusnya. Terus, kita berikan jasa delivery, kita berikan bonus, dan lain-lain.
Kalau jualan online, silahkan tanya sama ahlinya. Tapi, kalo kita lihat teman-teman yang jualan di dunia maya, mereka memanfaatkan ‘pertemanan’ mereka untuk memasarkan produknya. Balik lagi kan, memanfaatkan pertemanan hehe. Dan pemanfaatan ini bukan hanya meminta teman-teman kita tadi untuk membeli produk kita, tapi meminta bantuan mereka untuk ikut menyebarluaskan usaha kita ke orang lain, siapa tau ada pihak lain yang memang membutuhkannya

4. Jaga hubungan baik dengan orang yang pernah beli produk kita (layanan purna jual)
Silaturrahim jangan putus, tetap jaga kontak, siapa tau beliau tadi bisa jadi pelanggan kita yang dengan senang hati menawarkan produk kita ke orang lain.

Intinya, saya mau katakan bahwa, kalo mau memulai usaha, jangan terlalu fokus memikirkan modal uang saja. Ada banyak cara lain yang dapat kita manfaatkan untuk dapat memulai usaha dengan modal yang nyaris Rp. 0,- caranya ya yang tadi saya sampaikan, MANFAATKAN TEMAN-TEMAN KITA hehe.

Salam, semoga bermanfaat dan selamat memulai bisnis dari rumah.

Bisnis dari Rumah

Bisnis dari rumah? Kenapa tidak? Hehe...

Sering kali kita begitu ketakutan, jika harus berbisnis, apa lagi dari rumah. Ada saja alasan untuk menyangkalnya. Ah..rumah saya kan gak di tepi jalan besar, bagaimana orang lain bisa tau kalau saya punya bisnis/usaha. Lokasi kan penting??

Ya, lokasi memang penting, tapi saya juga menemukan rumah makan yang lokasinya agak terpencil, agak masuk ke dalam gang sempit, namun tidak sepi pengunjung. Lokasi memang penting, namun memutuskan jalan atau tidaknya usaha kita juga penting, bahkan lebih penting. Kalo kata pengusaha-pengusaha beken sih...mulai aja dulu usahanya, setelah berjalan nantikan bisa di evaluasi kelebihan dan kekurangannya. Betul gak? Dan mungkin ada banyak alasan lain yang kita kemukakan untuk menyangkal ide ini, hehehe

Saya mencatat beberapa keuntungan yang bisa kita dapat dari memulai bisnis dari rumah, antara lain:

Tidak ada biaya sewa tempat, ya jelas lah, lha wong rumah sendiri. Kalaupun rumah kita masih kontrakan, toh biaya kontraknya jadi gak double.

Hemat ongkos kali ya, hehehe, kan gak ada biaya ongkos ke tempat usaha (jika tempat usaha/ kerja berjauhan)

Waktu dengan keluarga lebih banyak,

Lebih nyaman, kadang banyak orang lebih senang tinggal di rumah, mengapa tidak kita manfaatkan waktu-waktu di rumah dengan sesuatu yang bernilai lebih. Dan biasanya kalau sudah nyaman, produktifitas akan lebih tinggi.

Bebas mengatur waktu masuk dan pulang, hehehe.

Ah..pokoknya banyak lagi keuntungan lain kalau kita punya bisnis yang dikelola dari rumah.

Namun, satu yang paling penting adalah, kalau memang kita berniat kuat untuk memiliki bisnis atau usaha sendiri, sebaiknya segera saja buka, mulai, jangan terlalu banyak berhitung atau menimbang-nimbang. Jalani saja, di jalan kita akan bertemu dengan berbagai hal dan kita bisa belajar banyak dari hal tersebut. So, bisnis dari rumah, kenapa tidak?

Terimakasih semoga bermanfaat 

Bisnis Sampingan

Seorang teman sedang mengalami kebingungan, antara menekuni bisnis atau melanjutkan kuliah S2nya. Jika menekuni bisnis, dia bingung, kira-kira bisnis apa yang akan digelutinya, sedangkan jika hendak melanjutkan S2-nya, dia-pun terkendala dengan masalah dana.

Beberapa hari yang lalu kami chatting, dia ceritakan masalah yang dihadapinya. Tidak banyak yang dapat saya sarankan, karena memang saya tidak begitu ahli di masalah ini. Namun, saya hanya mencoba membawa pikirannya agar ia dapat menemukan sendiri jawabannya.

Saya lihat, kawan saya ini memiliki 2 hal yang membingungkannya, satu sisi ingin berbisnis untuk menghasilkan uang, disisi lain ia ingin melanjutkan S2, karena merasa sudah lama sekali ia tidak serius belajar, namun terkendala masalah biaya. Ohya, teman saya ini bekerja sebagai freelancer konsultan di jakarta.

Untuk masalah bisnisnya, saya hanya bisa mengatakan, hal apa yang menjadi kesukaannya? Biasanya, bisnis yang diawali dengan sesuatu yang disukai akan memberikan semangat/ motivasi yang lebih kepada pemiliknya. Dalam tulisan saya yang lalu, saya sebut sebagai passion. Memang tidak semua bisnis yang diawali dengan kesukaan atau hobi akan berhasil, tapi paling tidak, si pelaku bisnis tidak langsung putus asa jika ia menemui kesulitan di tengah jalan. Biasanya juga, jika memang sudah suka, ia akan berusaha keras menyelesaikan masalah yang dihadapinya.

Kemudian, saya juga bertanya beberapa hal, terkait pengelolaan waktunya, berapa banyak waktu yang ia habiskan untuk kegiatan pekerjaan, perjalanan, tidur, dan lain lain. Dari seluruh waktu itu, adakah sisa waktu? Tidak perlu banyak sebenarnya, kita hanya perlu 1-3 jam perhari yang kita gunakan secara optimal untuk membangun dan mengembangkan bisnis kita. Apapun bisnis yang hendak kita bangun, jika memang kita ingin memulainya dengan bisnis sampingan, waktu 1-3 jam perhari sangat cukup untuk dimanfaatkan dan saya kira akan memberikan hasil yang sangat signifikan, sebelum akhirnya kita akan serius atau full 24 jam berbisnis. Langkah-langkah yang perlu kita ambil jika kita ingin full berbisnis namun belum dapat meninggalkan pekerjaan saat ini, insya Allah saya berikan di tulisan sebelum anda keluar dari pekerjaan anda.  

Memang hasil berbisnis dengan 1-3 jam perhari dibandingkan dengan full timer business man, jelas berbeda, kita hanya perlu mencari cara yang paling optimal dalam membangun dan mengembangkan bisnis kita. Mulai dari produk, sistem bisnis dan metode pemasaran. Banyak kok, part timer business man yang punya penghasilan jauh lebih tinggi dari full timer. Karena bisnis itu seperti seni, masing-masing orang akan mendapatkan hasil berbeda, dengan cara yang berbeda.

Jadi, untuk berhasil di bisnis sampingan, anda harus –pandai-pandai- mencari produk yang pas dengan diri anda (maksudnya anda nyaman untuk menceritakan produk ini ke teman-teman anda, atau anda-pun nyaman jika harus menggunakannya), kemudian anda perlu cari cara paling efektif untuk memasarkannya, ingat produk sebagus apapun jika kita gagal memasarkannya tetap tidak ada penghasilan. Untuk pemasaran hari ini, ada cara konvensional (buka toko, direct selling, dan lain-lain) atau dengan cara yang lebih murah, via media online (sosial media, blog, web, dll). Masing-masing memiliki keunggulan dan kekurangan, semua kembali lagi ke anda. Selanjutnya untuk berhasil di usaha sampingan, manfaatkan sebaik-baiknya jaringan yang anda miliki, teman di sosial media, teman di HP, komunitas-komunitas, teman sekolah, kampus dan lain-lain, manfaatkan mereka. Tidak hanya untuk membeli produk kita, tapi juga untuk membantu kita memasarkan produk-produk kita dengan meminta mereka menceritakan produk kita ke orang lain yang mereka kenal.

Ok, segitu dulu deh, lain waktu kita sambung. Terimakasih sudah mau baca. (2012-05-08)

12 Langkah Meluncurkan Bisnis Anda

Berikut ini adalah 12 langkah untuk meluncurkan bisnis anda yang saya kutip dari buku the big idea (donny deutsch), 

  1. Tulis Pernyataan Misi Anda
  2. Deskripsikan Ide Produk atau Jasa Anda
  3. Lakukan Riset Pasar
  4. Buat Rencana Bisnis Anda
  5. Bangun Jejaring Anda
  6. Formalkan Ide Anda
  7. Buatlah Purwarupa
  8. Selenggarakan Diskusi Kelompok
  9. Temukan Perusahaan Pembuat dan Distributor
  10. Luncurkan Situs Web Anda
  11. Publikasikan Ide Anda
  12. Persuasilah Pelanggan/ Pemasok Potensial

terkait tentang ide

ide itu mahal...

ide lah yang menyebabkan manusia bisa terus hidup, kehidupan semakin membaik dari hari ke hari.

dan jika kita ingin menggapai kesuksesan dalam hidup, maka ide-lah yang akan menjadi titik awal kesuksesan anda. jangan pernah meremehkan ide brilian sekecil apapun.

dalam beberapa diskusi dengan teman-teman yang ingin memiliki usaha, rata-rata mereka mengatakan bahwa mereka kesulitan memulai usaha karena mereka tidak memiliki modal, uang. namun, aku katakan bahwa modal uang itu adalah modal yang menempati urutan ke 14, modal utama yang harus kita miliki adalah modal IDE, karena dari ide-lah semua bermula.

dalam film the social network, kita menemukan bahwa ide menjadi titik awal kesuksesan sebuah situs jejaring Facebook.

jadi, jangan sekalipun meremehkan ide sekecil apapun, karena seperti yang kita saksikan dalam film the social network, hanya penyesalan yang akan hadir. jika kita yakin bahwa ide tersebut akan bernilai jutaan rupiah, mengapa tidak kita mulai ambil langkah pertama untuk mewujudkannya, karena kita tidak tahu akan ada orang lain yang mengetahui ide itu, kemudian mengembangkannya dan akhirnya kita hanya dapat gigit jari saat ide itu menuai apa yang di sebut dengan kesuksesan.


Permintaan Mereka

Banyak orang yang mengatakan kepadaku mereka ingin menjadi seorang pengusaha, sama seperti apa yang sedangku jalani sekarang. Rata-rata mereka yang mengatakan bahwa mereka ingin jadi pengusaha adalah teman-teman yang sebenarnya sudah punya pekerjaan yang relative tetap. Aku tak ingin menebak-nebak apa yang bergelayut pada pikirannya, saat berkata kepadaku, “bang, pengen jadi pengusaha seperti abang. Ajari ya..bang pengalamannya?” Aku hanya tersenyum.

Memang bagi sebagian orang ‘awam’ melihat bahwa profesi sebagai pengusaha sangat menjanjikan. Kita memiliki kebebasan waktu, kebebasan mengatur penghasilan,bahkan kita bisa menjadi salah satu solusi bagi negeri, menyediakan lapangan pekerjaan. Ya, memang seperti itu adanya. Kami, yang saat ini punya ‘pekerjaan’ sebagai pengusaha, memang memiliki kebebasan dalam mengatur waktu, kebebasan mengatur penghasilan, dan membantu kehidupan orang lain untuk dapat memiliki pekerjaan atau pengalaman kerja.

Namun, untuk menjadi seorang pengusaha yang ‘sukses’, kita harus melalui berbagai macam rintangan, yang kalau hendak ku tuliskan di sini, tidak akan cukup. Terkadang, kebanyakan orang hanya melihat ‘ujung’ dari kondisi pengusaha yang terbilang sukses tadi. Kebanyakan kita jarang sekali melihat proses menjalani hari-hari sebagai pengusaha. Ada banyak hal yang akan memakan berlembar-lembar kertas untuk menceritakannya. Cerita yang menggambarkan bahwa hari-hari sebagai pengusaha itu benar-benar tidak mulus-mulus saja.

Ada banyak hal yang harus dikorbankan di awal usaha kita mendirikan usaha, bahkan harga diri yang kita agung-agungkan, harus sedikit kita turunkan. Title sarjana atau apapun namanya harus kita lupakan, dan cerita sukses kita sebagai pelajar dan mahasiswa harus kita tinggalkan di rumah. Satu langkah kita keluar dari pintu rumah, dan menjalani hari sebagai pengusaha, adalah hari tanpa identitas, tanpa gengsi, tanpa gelar tanpa semua embel-embel yang biasa melekat pada diri kita. Inilah dunia nyata yang ibarat rimba raya, hanya mereka yang kuatlah yang akan bertahan dalam seleksi alam ini. Menurut sebuah penelitian, hanya 10 orang dari 100 orang yang mampu menggapai sukses saat menjalani kehidupan sebagai pengusaha, 90 lainnya, melalui seleksi alam yang ketat, mereka hilang di telan gelombang pasang kehidupan.

Hati-hati dengan keputusan-keputusan hidup anda. Indah memang jika kita membayangkan ujung dari kehidupan sukses sebagai pengusaha. Namun, jika memang keinginan menjadi pengusaha itu hanya sebagai pelarian atas kondisi ‘pekerjaan’ yang saat ini kurang ideal, ada baiknya anda berpikir ulang.

Setiap orang yang menemui jalan sukses dalam perjalanan karirya adalah mereka yang menganggap bahwa meniti karir ini sebagai panggilan jiwa, apakah karir itu sebagai karyawan atau sebagai pengusaha. Karena dengan hal ini, panggilan jiwa, kita akan memiliki kesabaran yang berlapis-lapis.

Saya melihat, bahwa kesabaran berlapis-lapis inilah salah satu modal utama untuk menemukan jalan sukses anda. Jika anda telah memilikinya, saya yakin anda akan menemui jalan kesuksesan anda sendiri. Dimanapun itu, pekerjaan apapun itu, pengusaha atau karyawan.

Tentang Pengusaha

Rangkuman :

Bagi teman-teman yang ingin menjadi pengusaha, berikut ini ku rangkum beberapa hal yang diperlukan untuk menjadi pengusaha, antara lain:

  • Keberanian
  • Kemauan yang keras dan konsisten
  • Kerja Keras dan cerdas
  • Memiliki Inisiatif untuk menjadi yang pertama
  • Memiliki Semangat untuk menjadi yang terbaik
  • Kreatif yang menjadikan dirinya Berbeda
  • Lingkungan yang mendukung
  • Mimpi yang besar
  • TARGET yang TERUKUR dan BERANI
  • ....
apa lagi?

Masih tentang Kerja

"Aku sudah mengirim lamaran ke 30 perusahaan di Medan ini, dari 30 itu, yang dipanggil cuma 10 dan dari yang 10 itu, aku di terima di 1 perusahaan. sekarang, akupun keluar dari perusahaan itu, karena gak cocok juga kerjanya."

Itu kata teman se-kostku dulu saat kami bertemu di depan papan pengumuman Pusat Jasa Ketenagakerjaan (PJK) Universitas Sumatera Utara. Satu hal yang ku catat, bahwa "mencari kerja" itu memang sulit. Mungkin itu juga sebabnya hingga hari ini aku tidak mencari pekerjaan. Aku berusaha mengembangkan pola pikir terbalik yang bagi sebagian besar orang 'ngaco atau gila'. Aku tidak mencari pekerjaan, tapi aku berusaha untuk "menciptakan" pekerjaan, minimal untuk diriku sendiri.

Dahulu, sewaktu masih kuliah, sebuah fakta yang agak menyedihkan bahwa kebanyakan pengangguran yang ada di negeri ini, adalah mereka-mereka yang mengenyam pendidikan tinggi. Seharusnya, pola pikir mereka jauh lebih baik dari mereka yang tidak mengenyam pendidikan tinggi.

Itulah, sampai aku punya pemikiran bahwa, "Masalah pengangguran di Indonesia tidak akan pernah selesai, jika angkatan kerja di negeri ini berpikir mencari pekerjaan, karena jumlah lapangan kerja tidak akan mampu menampung mereka. Sebaiknya, masing-masing kita, minimal mampu untuk hidup 'mandiri' dengan usaha sendiri, jika belum mampu menciptakan lapangan kerja."

Medan, Desember 2010


Akhirnya ku temukan beberapa alasannya, mengapa sebagian besar orang tua kita, menginginkan kita -anaknya- menjadi pegawai atau karyawan di sebuah perusahaan selepas --daripada menjadi wiraswasta/ pengusaha-- kita menyelesaikan pendidikan formal kita.

  1. Mereka menginginkan kita tidak sulit-sulit 'mencari uang' , cari yang pasti-pasti aja.
  2. Mereka banyak melihat orang-orang (terutama anggota keluarga yang lain) GAGAL dalam usahanya menjadi wiraswasta.
  3. Mereka ingin agak kita memiliki jaminan hari tua, sama seperti mereka (yang PNS)
  4. Sayang ijazah yang sudah di dapat dengan susah payah, bertahun-tahun dan jauh-jauh (bagi yang merantau.
  5. Kalau nanti sakit, gimana? siapa yang ngurus...?

atau ada kawan-kawan yang memiliki jawaban lain...?

Ternyata Semudah Yang Ku Bayangkan

Antitesis atas tulisan yang pertama, “ternyata tidak semudah yang ku bayangkan.” Dalam tulisan ini, saya tersadar dari sebuah sms dari teman baik saya. Saat tesis di atas saya ganti menjadi ‘ternyata tak sesulit yang kubayangkan’, ia mengatakan bahwa, tema-nya telah positif, namun dalam redaksi yang negative dan tetap memberikan hasil yang negative. Coba ganti, “ternyata semudah yang kubayangkan”, dengan tema yang positif, didukung dengan redaksi yang positif pula, tentunya akan membawa hasil yang positif, insyaAllah.

Tanya Kenapa?

Seorang bapak bertanya padaku, kenapa ya, orang-orang yang kuliah, punya keterampilan, setelah tamat, justru sedikit yang mengembangkan usaha dari keterampilannya itu, kenapa mereka justru sibuk nyari kerja, jadi pegawai, karyawan, atau PNS?

Kenapa ya? Aku juga bingung menjawabnya. Ku katakan saja bahwa aku tidak tahu. Masing-masing orang memiliki pilihan sendiri dalam hidupnya. Yang dengan pilihan itu ia bisa hidup bahagia. Sebagian orang (tamatan kuliah, punya keterampilan) merasa untuk apa harus berlelah-lelah membangun usaha, jika kita bisa bekerja di perusahaan yang bonafid, yang dengan gajinya kita cukup untuk hidup.

Memang jalan berpikir masing-masing orang berbeda. Mereka memiliki kepala yang berbeda. Bahkan dua orang kembar identik saja, biasanya memiliki jalan berpikir yang berbeda satu sama lain.

Jadi, memang sulit mencari jawaban pasti pertanyaan di atas. Mudahnya, kembalikan saja ke pribadinya masing-masing. Siapa yang biasa untuk hidup ‘aman’ cukup jadi pegawai, insyaAllah anda aman. Setiap bulan ada uang gaji, fasilitas kesehatan. Rumah (mungkin) dan fasilitas lain. Namun, jika anda senang menghadapi tantangan, menyenangi ketidakpastian dan siap untuk hidup dengan penghasilan yang tidak terbatas, senang membantu orang lain (dalam artian membantu dari segi ekonomi, bukan hanya dengan sedekah, tapi pekerjaan) ada baiknya anda menjadi pengusaha.

Satu hal lagi, pilihan hidup tadi juga menentukan kualitas hidup kita. Siapa saja yang bersungguh-sungguh, maka Allah akan membukakan jalanNya untuk kita, percayalah. (agustus-2010)

Kekuatan Inisiatif

Mungkin ini dia perbedaan mendasar orang-orang yang mengalir di dalam darahnya semangat enterpreneur dengan yang tidak. Kecepatan dalam bertindak, saat melihat ada peluang baik di depannya. Ia lebih mendahulukan intuisinya dalam mengambil keputusan. Jika dalam pikirannya ia mampu dan yakin berhasil, maka tidak ada salahnya jika hal itu ia lakukan.

Ini satu hal yang ku tangkap dari seorang kepala desa. Beliau adalah kepala desa wonomarto di prokimal lampung utara. Darinyalah aku banyak belajar tentang bertindak cepat saat melihat ada peluang baik, sekecil apapun peluang itu. Selanjutnya serahkan hasilnya kepada Yang Diatas.

Beberapa hari yang lalu saat aku mengunjungi rumahnya di pedalaman prokimal. Ku tangkap semangat itu, yang juga menular kepadaku. Luarbiasa, beliau masih muda, berperawakan tinggi besar, persis sekali dengan semangatnya yang menggebu-gebu. Di tunjukkan beberapa usahanya yang telah ia rintis, baik yang ada hasilnya atau yang tidak ada hasilnya. Sampai akhirnya ia ingin memfokuskan diri mengembangkan usaha di bidang jamur tiram. Dan sangat kebetulan kami memiliki jenis usaha yang sama. Sehingga telah tercapai sebuah kesepakatan lisan antara kami berdua, bahwa kami akan bekerja sama secara serius mengembangkan usaha ini.

Ya, sebagai seorang pengusaha, apalagi yang masih terhitung baru, ada baiknya kita terus mengasah intuisi kita dalam bertindak. Karena banyak penemuan besar itu bukan dari pemikiran yang mendalam, tapi melalui kilatan pikiran yang muncul selintas, kemudian kita merasa itu baik dan dapat dikerjakan, kemudian langsung diambil tindakan segera. Masalah hasil? Kita perbaiki sambil berjalan. Yang penting adalah sungguh –sungguh dan fokus.

Belajar (Catatan Hari2 'katanya' Pengusaha)

Belajar itu seperti apa yang ku katakan di beberapa tulisan sebelum ini. Ia seperti air yang tak kenal lelah mengalir, terus menerus. Ia tak akan berhenti jika akhirnya ia membentur sesuatu, ia akan mencari jalan untuk bisa melewatinya, apakah lewat atas, bawah, samping kanan atau kiri. Hingga akhirnya ia menemukan sungai yang mengantarkannya ke Laut. Apakah ia berhenti? Ternyata tidak, lewat bantuan matahari ia memulai lagi langkah-langkahnya.

Ya, belajar tak mengenal kata berhenti, jika ia berhenti, maka ia akan seperti air yang menggenang, tidak mengalir. Ia akan membusuk, dan menjadi sumber berbagai penyakit. Dan satu hal lagi, air yang mengalir akan terus suci zatnya, walau ada kotoran yang mengalir bersamanya.

Itulah sebabnya dalam Islam kita mengenal sebuah sabda nabi SAW yang begitu masyhur, menuntut ilmu dari buaian hingga liang lahat. Hanya kematian yang mengakhiri ini semua. Ya, hanya kematian. Sebelum kita mati, maka belajar harus terus kita lakukan.

Itu pulalah sebabnya, kita, manusia, diberikan otak yang ternyata memiliki daya tampung yang tidak terbatas. Paling tidak hingga sekarang belum ada satupun ahli yang dapat memberikan angka pasti, berapa besar daya tampung otak manusia. Karena, otak manusia akan terus berkembang, jika ia terus dikembangkan. Sehingga, kata belajar itu memiliki arti kurang lebih seperti ini, melihat, mendengar, merasakan, kemudian mencoba, lalu setelah mencoba kita menghadapi masalah, menyelesaikan masalah tersebut, kemudian bertemu masalah lain, kemudian diselesaikan lagi, hingga akhirnya didapatkan hasil yang paling optimal dari upaya penyelesaian itu.

Setidaknya aku dapat menarik sebuah kesimpulan, bahwa belajar itu tidak pernah mengenal kata berhenti. Beda lubuk, beda pula ikannya. Artinya dengan masalah yang sama, namun pada waktu yang berbeda, akan ada perbedaan cara menyelesaikannya.

Seperti halnya menjadi pengusaha, ini adalah profesi yang tidak pernah mengenal kata berhenti dari mencoba, dan terus mencoba. Baik hal baru atau memodifikasi yang pernah dilakukan oleh orang lain. Ketika seorang pengusaha berhenti dari upaya mencoba, maka sebenarnya ia sedang menggali kuburnya sendiri. Walaupun kita melihat ia (baca : pengusaha) telah menyatakan diri pensiun. Ia mungkin dapat pensiun dari pekerjaannya, namun aku yakin ia tidak akan pernah mampu mempensiunkan otaknya, hasratnya untuk mencoba hal baru. Karena bagi mereka, hidup seperti itu-itu saja adalah hal yang paling membosankan di dalam hidup mereka.

Inilah akhirnya kata yang coba ku maknai dan coba kulakukan terus menerus, sampai akhirnya aku menemukan jalan yang paling optimal, efektif dan efisien. Sebagai newby di real world, enterpreneur, aku harus banyak belajar, membuka lebar-lebar mataku, telinga, dan otakku. Kemudian mencoba, memodifikasi, dan akhirnya harus ku temukan formula terbaiknya.

Oh ya, buat teman-teman yang ingin mengikuti jalan kami ini, ada baiknya anda siap untuk berpeluh keringat dalam kegiatan belajar ini. Agar anda tidak berdarah-darah dalam pertempuran yang sebenarnya.

Terkait Niat (masih hari2 'katanya' pengusaha)

Ternyata, niat memiliki peran yang sangat strategis dalam menentukan kesuksesan seseorang. Apakah sukses dalam berusaha atau kegiatan yang lain. Niat atau dalam kata lain motif seseorang melakukan sesuatu akan menjadi dorongan (motivasi) dari dalam dirinya dan dalam kajian LOA, motivasi ini juga mendorong alam semesta untuk mendukungnya menarik semua keinginnannya. Seperti telah terjadi percakapan antara jiwa seorang manusia dengan alam semesta ini, saat hati manusia berniat (apakah baik atau buruk), maka secara otomatis, niat itu akan didengar dan di bantu oleh alam untuk di wujudkan.

Jika dalam kajian akidah, setiap manusia berniat atau terbersit sebuah persangkaan atau dalam bahasa saya semacam “harapan/ hope” maka Allah berkata, permintaanmu Ku kabulkan. Dalam sebuah hadist qudsi, Allah berfirman, Aku adalah berdasarkan persangkaan hambaKu.

Seperti dalam perbincangan siang tadi bersama dua orang teman. Salah seorang teman menceritakan kisah keberhasilan adiknya dalam memperbaiki taraf hidupnya. Dari kondisi yang minus (tidak memiliki asset, malah memiliki hutang hingga 48 juta), menjadi kondisi yang plus (memiliki aset berupa tanah seluas 4 hektar ditanami sawit dan usaha koperasi yang menampung hasil panen petani sawit).

Pertanyaannya apa yang menyebabkan ia begitu bersemangat mengumpulkan pundi-pundi hartanya. Ternyata satu, motifnya adalah “Saya harus melunasi hutang-hutang saya.” Itu yang terbesit dalam hati dan pikirannya, yang kemudian ia jadikan bahan bakar untuk terus bekerja mengumpulkan uang guna membayar semua hutangnya. Setelah hutangnya selesai, apakan selesai? Tidak, ia ganti motifnya memperbaiki ekonomi keluarganya yang awalnya miskin menjadi lebih baik. Bahkan jika memungkinkan membantu saudara-saudaranya yang lain.

Oh ya, sebelum terlupa, kesuksesan yang diraih oleh pahlawan kita ini bukan yang terjadi tiba-tiba. Hanya dengan mengucap ‘simsalabim’ maka langsung terjadi. Namun, ia harus menjalaninya bertahun-tahun, menyusuri jalan yang berliku, naik dan turun, terkadang tubuhnya ‘terpaksa’ harus diistirahatkan, karena tidak mampu mengimbangi kerasnya keinginan hati dan pikirannya.

Jadi milikilah motif yang kuat, mengapa saya harus berhasil. Dan kalau bisa, motif itu harus nyata, dalam artian tertulis dengan nyata (di tulis di kertas, buku atau yang sejenisnya) tidak hanya kita tulis dalam ingatan saja. Jika ini telah kita lakukan, maka yakinlah seluruh alam semesta ini akan membantu kita dan yang paling utama adalah Allah akan mengabulkan apa saja yang menjadi permintaan kita, tentu saja jika kita memang menginginkanya dan mengejarnya dengan sungguh-sungguh. Percayalah.