Showing posts with label Leadership. Show all posts
Showing posts with label Leadership. Show all posts

Ketika Aksi Dilakukan Tanpa Kompetensi

oleh : M Arief Rahman Nasution, CH, CHt, CI

Catatan ini sebenarnya ingin bercerita tentang bagaimana seorang muslim bisa berlaku cerdas.
Kenapa saya harus sebut cerdas? Bukankah cerdas namanya, saat seseorang hanya melakukan sesuatu yang di-ilmu-inya terlebih dulu?

"wala taqfu ma laisa laka bihi 'ilmun, inna sam'a walbasara wal fuada, kullu ulaika kana 'anhu mas'ula.."
"Dan janganlah kalian mengikuti sesuatu yang kalian tak memiliki ilmu tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati itu akan dimintai pertanggungjawabannya"
(QS. Al Israa : 36) 

oke, tolong di save ya bagian diatas. :)

Kisah teman yang saya sampaikan di status itu pun agaknya bermula dari sini.

Teman saya itu ceritanya punya riwayat kehamilan yang kurang baik. Kandungannya lemah. Beberapa waktu lalu ia sedang hamil anak kedua. Teman saya ini punya aktifitas yang luar biasa padatnya. Dengan padatnya aktifitasnya itu, otomatis punya resiko besar terhadap  kehamilannya.

Tapi ternyata ia punya punya semangat yang luar biasa. Ia menganggap bahwa aktifitasnya itu bukan aktifitas sia-sia. bahkan aktifitasnya itu adalah aktifitas da'wah. "saya yakin Allah akan menolong saya saat saya menolong agama Allah"

Sekilas, kalimat teman saya itu terdengar gagah sekali. Ya, Allah pasti menolong kita saat kita menolong agama Allah. Benar sih. Tapi bagi saya, untuk kasus yang sedang ia alami ini, kalimatnya itu kurang tepat. Teman saya ini agaknya belum begitu memahami, atau bisa jadi beliau lupa, bahwa dalam Islam ada kaidah ; Menghindari mudharat itu lebih diutamakan dari mencari manfaat.

Beraktifitas da'wah itu mulia sekali. Da'wah itu kewajiban setiap orang yang beriman. Tapi, kondisi teman saya itu bukan kondisi yang prima. Beberapa teman lain sepertinya sudah mengingatkan. Tapi dia tetap keukeuh dengan prinsipnya.

Dalam obrolan saya bersama isteri, saya sempat bercerita kepada isteri tentang kisah seorang sahabat Rasulullah. Ceritanya sahabat Rasulullah yang satu ini mengalami luka yang cukup parah di bagian kepala akibat perang. Saat itu sahabat ini mengalami mimpi basah. Karena ada sahabat lain yang mengatakan bahwa ia harus mandi junub, maka ia pun mandi. Ternyata lukanya semakin parah, dan akhirnya meninggal.

Rasulullah yang mendengar ini sampai marah. Karena seharusnya, dalam kondisi luka parah seperti itu, sebenarnya sahabat itu boleh bertayamum saja. Jangan mengira semua sahabat Rasulullah paham urusan fiqh ya. Mereka juga bisa punya peluang untuk tidak mengerti sesuatu. Jika mereka begitu, bagaimana dengan kita? :D

Disini pentingnya sebuah pembelajaran. Membaca, menulis, berbincang, berdiskusi adalah sarana pembelajaran yang selayaknya jadi budaya. Minimal pada diri kita masing-masing.

Dalam konteks lain yang agak ekstrim, kisah teman saya itu kan sama saja dengan seperti ini;

Dani adalah seorang siswa yang baru saja mendapat pencerahan. Ia begitu bersemangat menjalankan Islam. Semangatnya meledak-ledak. Suatu hari Dani melakukan puasa sunnah. Seharian ia beraktifitas. Sampai tiba waktu magrib, saatnya berbuka. Ia berpikir, "saya masih kuat. Biar pahalanya makin banyak, saya ngga usah buka dulu deh. Nanti saja jam 10 malam saya buka puasanya!" hehe.. dibenarkan? tentu saja tidak.

Atau Udin. Ia begitu baik. Sehingga suatu hari sebelum shalat di masjid, dan saat akan berwudhu, seharusnya ia yang berwudhu duluan. Tapi karena ia melihat seorang kakek di belakangnya, ia mempersilakan sang kakek duluan berwudhu. LAKI banget kan kelihatannya? mendahulukan orang tua. hehe.. dibenarkan kah? TIDAK. Kita tak dibenarkan mendahulukan orang lain dalam konteks ibadah.

ah! saya jadi teringat jika kita bepergian dengan pesawat. Di dalam pesawat biasanya pramugari akan menjelaskan cara memakai masker oksigen, ya? Jika dalam kondisi darurat dan harus mengenakan masker oksigen, dan ada seorang ibu yang membawa anak, siapa yang seharusnya mengenakan masker oksigen duluan?  sang ibu atau si anak? BENAR! si IBU lah yang seharusnya mengenakan masker oksigen lebih dulu! Sekilas, mungkin ada yang menjawab bahwa anak lah yang seharusnya diberikan masker.

saya kurang tau pasti alasannya. Nanti coba tanyakan sendiri ya ke pramugarinya ya. Logika saya sih agar si ibu mampu menolong anaknya jika terjadi sesuatu. Ya, kurang lebih begitu lah. Amal yang dilakukan tanpa sebuah ilmu itu pasti tertolak.  Persis seperti kita yang tak tau seluk beluk sebuah TV, lantas bongkar TV. Bisa jadi jika yang tadinya hanya satu komponen yang rusak, saat kita bongkar malah jadi lima yang rusak.

Kembali ke kisah teman saya tadi. Singkat cerita, teman saya itu mengalami pendarahan hebat saat melakukan aktifitasnya. Dan ia pun kehilangan janin yang dikandungnya. Pemahaman keliru yang membenarkan pemahaman yang sebelumnya akan berkata, "ya, itu sudah takdirnya begitu.."

Agama ini mengajarkan intelektualitas kan? Agama ini mengajarkan bagaimana seseorang hanya melakukan sesuatu yang ia telah punya ilmu tentang sesuatu itu. Bahkan syetan,kata Rasulullah, itu lebih takut kepada orang berilmu yang sedang tidur, daripada seorang yang tak berilmu yang sedang shalat.

okelah begitu dulu. kapan-kapan kita sambung lagi.

oya, anda mungkin bertanya, kenapa judulnya "Ketika Aksi Dilakukan Tanpa Kompetensi"? padahal tak ada kata Aksi dan Kompetensi di catatan ini.

jawabnya gampang :
1.  Tak ada aturan bahwa kata-kata yang ada di judul harus ada di isi! ^_^
2.  Aksi & Kompetensi, sama-sama punya suku kata akhiran "si".
     Jadi ya, biar saya terkesan pintar saja. Kan keren tuh kata-kata yang berakhiran 'si'.
     Seperti transisi, reboisasi, arogansi, personalisasi, indikasi..dan lain-lain lah.. :D
3.  Notes ini kan saya yang bikin, suka-suka saya donk! :p

sampai jumpa di episode yang akan datang!

Salam lebih jernih

Arief Rahman
- orang yang sedikit lagi berilmu-

Membangun Organisasi (Lagi)

Ada yang terlewat dari tulisan saya yang lalu. Saya mengatakan bahwa ada setidaknya 6 hal yang perlu dilakukan untuk membangun organisasi yang kuat. Hal selanjutnya adalah “Rasa Saling Percaya.”

Rasa saling percaya dengan anggota organisasi, baik dia sebagai atasan atau bawahan. Hal ini juga terkait dengan membangun loyalitas bawahan. Sering kali kita mendapati sebuah organisasi di huni oleh orang-orang yang mengedepankan sikap iri, cemburu dan dengki. Dalam sebuah makalah dalam untuk membangun tim, ada tiga hal yang dapat menghancurkan tim, yaitu sikap kurang percaya diri, cemburu, dan sinis.

Dalam beberapa tahun belakangan ini saya mengamati sebuah organisasi yang pernah saya huni dan besarkan. Dahulu, sikap saling percaya, dukungan dari bawah dan atas, tidak pernah ada sikap iri dan dengki atau sinis. Organisasi ini tumbuh menjadi kekuatan besar yang disegani hingga tingkat provinsi. Namun dalam beberapa tahun belakangan sikap saling percaya itu mulai pudar. Hal ini terjadi karena ada pihak (oknum) yang hanya mementingkan diri sendiri. Sehingga ia menebarkan sikap sinis, iri dan mengobarkan api fitnah di dalam organisasi. Sayangnya, banyak anggota tim yang terpengaruh, sehingga organisasi ini timpang dan sekarang adalah sisa-sisa kejayaan masa lalu. Hanya satu penyebab organisasi ini masih bertahan, karena organisasi ini milik pemerintah.

Sikap iri, dengki dan tidak percaya dengan anggota tim ini terkadang terbangun begitu saja dan sering kali tanpa kita sadari. Kita mulai menyadari saat ada anggota tim yang punya pengaruh besar akhirnya keluar atau menjauhi pusaran kekuatan organisasi ini. Dan mulai terasa adanya ketimpangan yang terjadi. Keseimbangan organisasi terganggu dan terjadi penurunan produktifitas.

Saling percaya adalah modal besar untuk menjadi besar. Saat memberikan instruksi kepada teman-teman di tim futsal Teknik Industri Universitas Sumatera Utara, saya juga menekankan untuk mempercayai teman dalam tim. Beri bola kepada dia walau kita tahu bahwa kemampuannya tidak sebaik yang lain. Namun, sikap saling percaya ini akan menumbuhkan yang namanya kepercayaan diri. Seorang anggota tim yang lemah akan menjadi percaya diri dan akhirnya dapat memunculkan potensi terbaiknya atau minimal kekurangan yang ada padanya akan te-reduksi dan tertutupi.

Inilah satuhal lagi yang harus kita bangun dalam membangun tim, yaitu sikap saling percaya dengan semua anggota tim. Apakah pimpinan mempercayai bawahannya atau sebaliknya bawahan menaruh kepercayaan kepada pimpinannya. Semoga bermanfaat.

KESALAHAN FATAL YANG DILAKUKAN MANAJER (Disarikan dari Buku 13 Kesalahan Fatal yang Dilakukan Manajer)

Mencoba mengendalikan hasil; bukan mengendalikan cara berpikir

Seringkali kita melihat sebuah departemen diisi oleh orang-orang yang sama dalam hal kemampuan, namun selalu terjadi perbedaan kualitas pekerjaan. Di dalam organisasi bisnis departemen yang paling terlihat perbedaannya adalah departemen penjualan. Kadang ada dua orang wiraniaga dengan kemampuan yang sama namun terjadi perbedaan hasil atau produktivitas. Sebagai seorang manajer/ pimpinan tentunya keadaan seperti ini menjadi sebuah kekhawatiran.

Ternyata, yang terjadi adalah orang-orang yang “berhasil/ sukses” telah mengembangkan sebuah kebiasaan yang sangat berbeda dengan orang-orang yang “gagal”. Inilah perbedaanya. Bagi mereka yang berhasil mereka telah mengembangkan dalam dirinya sebuah kebiasaan yang baik, sehingga hal tersebut berpengaruh dalam kehidupan dan pekerjaannya.

Kebiasaan adalah serangkaian kegiatan yang saling bergantung satu sama lain. Serangkaian kegiatan itu adalah 1) pikiran, 2) perasaan, 3) kegiatan, 4) kebiasaan, 5) hasil. Artinya seperti ini, pertama, pikiran harus dapat diterima oleh akal budi (nurani) seseorang, lalu pada gilirannya pikiran itu akan mempengaruhi perasaannya, selanjutnya perasaan akan mempengaruhi kegiatan seseorang. Kegiatan yang terus dilakukan maka akan mempengaruhi kebiasaan seseorang. Kebiasaan akan berakhir pada hasil dari setiap individu.

Jika dalam pikirannya dipengaruhi oleh motivasi untuk berprestasi, maka dengan sendirinya ia akan membangun kebiasaan-kebiasaan berprestasi. Akhirnya akan dapat diprediksi, bahwa ia akan menjadi seseorang yang berprestasi. Begitu juga dengan sebaliknya, jika ia mengembangkan proses berpikir yang salah atau negative, maka dengan sendirinya akan terbangun kebiasaan yang negative dalam hidupnya. Dengan kebiasaan yang negative itu, ia akan memperoleh hasil yang negative.

Banyak manajer/ pimpinan organisasi yang tidak menyadari hal ini. Mereka sibuk mendorong bawahannya untuk menghasilkan banyak output (hasil). Namun, ia lupa untuk membangun kebiasaan berprestasi pada bawahannya. Ia tidak mencoba mengubah jalan pikiran bawahannya kepada jalan berpikir sebagai seorang pemenang. Akhirnya ia akan kehabisan tenaga dan produktivitas bawahannya tidak meningkat secara signifikan.

Oleh sebab itu, para manajer sering mengadakan sebuah seminar motivasi bagi karyawannya. Karena dalam seminar motivasi yang diberikan adalah sebuah penyadaran akan salahnya jalan pikir kita selama ini. Sehingga banyak dijumpai, setelah mengikuti seminar motivasi, para pekerja mengalami peningkatan produktivitas.

KESALAHAN FATAL YANG DILAKUKAN MANAJER (Disarikan dari Buku 13 Kesalahan Fatal yang Dilakukan Manajer)

Gagal Mengembangkan Orang

Tujuan utama manajemen adalah untuk memastikan bahwa kelangsungan bisnis atau organisasi akan terus berlanjut, walaupun sudah terjadi pergantian orang-orang di dalamnya. Bisnis atau organisasi yang baik adalah organisasi yang dapat bertahan dalam kesuksesan yang berlangsung lama (baca: puluhan tahun).

Sering kali kita menjumpai manajer atau pemimpin organisasi yang kerap mengontrol jalannya organisasi setiap saat. Apalagi saat mereka (manajer) tidak sedang berada di antara anak buahnya. Mereka akan selalu menelpon untuk memastikan bahwa semuanya berjalan dengan baik. Bagi kita yang awam akan mengatakan bahwa mereka (manajer) tadi adalah orang-orang yang luarbiasa. Karena memiliki perhatian yang luarbiasa. Namun sadarkah mereka, bahwa mereka sebenarnya sedang menggali kuburan mereka sendiri. Karena kecengengan yang mereka “ciptakan” itu akan membuat tim mereka menjadi “lemah”.

Kita tidak pernah tahu berapa lama kita hidup atau kita tidak mungkin selamanya berada di antara orang-orang yang kita pimpin. Oleh karena itu manajer yang baik bukanlah mereka yang dapat menyelesaikan banyak masalah, tapi manajer yang baik adalah mereka yang banyak memberi masalah dan membimbing anak buahnya hingga akhirnya memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah-masalah lain yang muncul tanpa harus anda (manajer) langsung turun tangan.

KESALAHAN FATAL YANG DILAKUKAN MANAJER (Disarikan dari Buku 13 Kesalahan Fatal yang Dilakukan Manajer)

Selalu Mencari Kambing Hitam Atas Kesalahan

Hal inilah yang kadang sangat sulit diterima oleh banyak orang. Banyak manajer tidak mau menerima tanggung gugat pribadinya. Maksudnya seperti ini, sering kali jika terjadi kesalahan dalam organisasi, manajer langsung mencari dalih (baca: kambing hitam) atas masalah tersebut. Misalnya terjadi penurunan penjualan, orang-orang yang tidak mau menerima tanggung gugat pribadinya akan berkata, “Persentase penjualan kami berkurang karena saat ini inflasi sangat tinggi sehingga daya beli masyarakat menurun.”

Pada intinya, mereka (baca:manajer) tidak mau disalahkan atas kegagalan yang terjadi. Mereka akan mencari dalih untuk melindungi diri. Mereka mencoba untuk lari dari tanggung jawab atas pekerjaan mereka.

Manajer atau pemimpin yang baik adalah mereka yang berani mengambil tanggung jawab atas semua yang terjadi. Jika terjadi sebuah kegagalan di dalam organisasi, maka mereka langsung mengintrospeksi diri, apakah ada kesalahan dalam pelaksanaan rencana dan lain sebagainya. Selanjut mereka langsung menyingsingkan baju dan melakukan apa yang terbaik dapat mereka lakukan untuk memperbaiki keadaan.

Hidup Itu Untuk

Hidup itu adalah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya.

Kalimat adalah kalimat sakti yang diucapkan seorang guru luar biasa, Pak Harfan. Seorang guru berdedikasi tinggi yang mengajar di SD Muhammadiyah Gantong. Dari kalimat inilah muncul orang-orang luar biasa dari sebuah SD miskin yang lebih mirip gudang kopra dari pada sekolah tempat menuntu ilmu.

Senada dengan sebuah hadist Rasulullah, bahwa manusia yang paling baik di antara kamu sekalian adalah manusia yang paling banyak manfaatnya buat orang lain. Kata-kata bermanfaat itu sangat dekat maknanya dengan memberi. Semakin banyak kita memberi kepada orang-orang yang ada di sekitar kita, maka semakin bermanfaat kita buat orang lain.

Namun, terkadang ego yang ada dalam diri kita yang menahan kita untuk berbagi dengan orang-orang disekitar kita, terutama kepada orang-orang yang kekurangan. Memberi bukan hanya dalam makna harta, ada banyak lagi yang dapat kita bagi kepada orang lain, informasi, pengetahuan dan lain sebagainya. Hidup akan menjadi indah dengan berbagi. Manusia dilahirkan dengan tidak sempurna, ia memiliki banyak kekurangan, dan kekurangan tersebut akan dapat tertutupi dengan ia berbagi dengan orang lain. Boleh jadi ia memiliki kelebihan di bidang matematika, namun ia kurang di bidang bahasa inggris, ia akan dapat menutupi kekurangannya di bahasa inggris dengan bertanya/ berbagi pengetahuan dengan teman yang memiliki kemampuan di bidang bahasa inggris.

Sama seperti sebuah tim sepak bola. Tim ini tidak akan menang jika seluruh pemainnya ingin menjadi penyerang. Tetap harus ada yang menjadi penjaga gawang, pemain belakang, dan pemain tengah. Masing-masing lini harus bekerja sama membantu tim untuk menang. Setiap orang di tim sepakbola ini memiliki kelebihan masing-masing, tidak semuanya mememiliki kemampuan mencetak gol, ada yang memiliki kelebihan dalam bertahan dan ada pula yang memiliki kemampuan membagi bola dan mengatur tempo permainan.

Hidup akan semakin indah jika kita menyadari bahwa kehidupan ini bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya, namun untuk memberi sebanyak-banyaknya. Jika kita hanya menjadi penerima maka sesungguhnya kita adalah semiskin-miskin manusia.

John F Kennedy berkata, “Jangan Tanya apa yang telah diberikan Negara untukmu, namun apa yang sudah kau berikan buat negaramu.”

Mulai hari ini ubah pardigma kita dalam hidup ini. Jadilah seorang manusia yang senantiasa berbagi, memberi, dengan ini sesungguhnya kita sedang berusaha membuat diri kita semakin berarti dan semakin baik.

Medan, 28 oktober 2008

Dia...

Selalu ada semangat yang menyelusup ke dalam hatiku, setiap aku melihat wajahnya. Wajah yang keras, karena memang hidup yang dilalui begitu keras. Namun, saat engkau berkenalan dan akhirnya berinteraksi bersamanya, engkau akan menyadari bahwa hatinya begitu lembut. Sangat lembut malah. Ia tidak mampu melihat orang lain kesulitan, ia selalu selangkah di depan jika ada orang yang membutuhkan bantuan. Sampai-sampai dirinya tidak ia perhatikan lagi. Pernah ku katakan kepadanya, bahwa kelemahan pada dirinya itu hanya satu, ya Cuma catu, yaitu ia begitu baik dengan orang lain, hingga kadang ia tidak memperhatikan dirinya lagi.

Selalu ada semangat yang menyelusup ke dalam hatiku saat aku melihatnya. Tubuhnya begitu kuat, sepertinya Allah memang menciptakannya sebagai tempat bersandar orang-orang di sekitarnya. Tangannya yang kasar, menunjukkan ia begitu sering bekerja keras. Tidak peduli panas atau hujan, jika kebaikan memanggil ia akan terus berangkat. Kadang kami malu, ia yang hidup dalam kesulitan dalam hal ekonomi, namun tidak pernah mengeluh. Tidak pernah ku lihat ia mengeluhkan dirinya yang begitu lelah. Pernah ku lihat ia mengangkat meja yang biasa di angkat oleh dua orang, “Biar cepat selesai.” Katanya saat ditanya kenapa diangkat sendiri.

Ya..selalu ada semangat yang mengalir lembut masuk dari ubun-ubunku. Saat ku melihatnya hendak berangkat bekerja. Pekerjaan sederhana dan menguras tenaga, namun dengan pendapatan yang minim, namun ia tidak pernah menunjukkan ketidaksukaan, terus semangat. Itulah Allah, Ia akan membalas kebaikan dengan kebaikan, bahkan kebaikan yang berlipat-lipat. Itu yang kulihat darinya. Keyakinan akan adanya pertolongan dari Allah begitu kental, ia begitu yakin bahwa kebaikan yang dilakukannya akan dibayar kontan oleh Allah. Dan Allah tidak akan menyiakan hambanya.

Selalu ada semangat yang hadir saat ku mendengarkan ia berbicara. Kadang memang apa yang ia katakan tidak pernah ku sangka sebelumnya. Selalu ada ide baru dan membangun saat ia diminta untuk berpendapat. Sampai-sampai ia kadang enggan datang ke rapat-rapat, karena ia menginginkan teman-temannya berpikir sendiri dan tidak terlalu tergantung padanya.

Selalu ada semangat dari setiap gerak langkahnya. Membuat kami selalu ingin berjalan beriring dengannya. Berusaha untuk menjajari langkahnya.

Namun, ia hanya manusia biasa yang kadang boleh untuk bersedih. Bersedih karena ia belum sempat berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Hanya selaksa doa yang terus ia panjatkan kepada Allah, agar kiranya Allah menjaga kedua orang tuanya yang berada jauh di sana. Puisi-puisinya yang memberitakan kepadaku betapa ia merindukan kedua orang tuanya. Dalam sebuah perbincangan dengannya, ia bercerita, “Sepertinya orang tuaku tidak mengizinkan aku merantau sejauh ini, aku merasa perjalanan ini sepertinya begitu berat, aku khawatir kalau-kalau orang tuaku tidak meridhoi perjalanan ini.” “Ah itukah hanya perasaanmu saja, hati-hati syetan merasuki perasaan kita, sehingga menimbulkan rasa was-was dan akhirnya berprasangka buruk. Serahkan semua pada Allah, biar Allah yang mengatur semua.” Aku menimpali.

Adalah sebuah keberuntungan besar bagiku menjadi salah satu teman dekatnya. Aku banyak belajar tentang kehidupan darinya. Aku berharap bahwa kebersamaan kami ini diteruskan hingga akhir hayat dan bersambung di syurga kelak. Aku teringat kisah dua orang yang bersahabat karena Allah, suatu ketika salah satu di antara mereka meninggal dunia dan ia mendapat kabar gembira dengan mendapatkan Syurga sebagai balasan. Kemudian ia berdoa kepada Allah, Ya Allah si fulan adalah temanku, darinyalah aku mengenalmu, ia yang banyak mengingatkan akan pertemuan denganmu, oleh sebab itu sepeninggalku ini, selamatkan ia duhai Allah. Kemudian Allah menjawab, “Sesungguhnya jika engkau tahu balasan yang ku berikan kepadanya, engkau akan banyak tersenyum daripada menangis.” Ah .. aku berharap menjadi salah satu di antara mereka berdua.

Ya… selalu ada semangat saat bersamanya, saat melangkah bersamanya, saat berbicara dengannya, saat melihatnya. Sosok sederhana, dan namanya… (Medan, 24-01-2008).

Karena Kamu Basi, Aku Datang**) (Sebuah Coretan Atas Buku Excuse Me Your Life Is Waiting karya Bambang Q Anees)

Baru sekarang aku merasakan bahwa dengan Membaca membuat hidup ini lebih hidup, seperti mendapatkan energi yang tidak pernah kering, terus bersemangat, serasa ingin hidup selamanya. Setiap deretan kata-kata itu memiliki energi, dengan membaca kita menyerap energi itu ke dalam tubuh kita.
(Ibnu Adam Aviciena/ Penulis)


Who am i?
Siapa saya? Pertanyaan sederhana ini mestinya senantiasa kita pertanyakan untuk membangkitkan kesadaran dalam hidup ini. Apa yang berharga dari diri saya? Seandainya ada orang yang membutuhkan kita, kita tidak lagi bingung kalau ternyata tidak ada apa-apa di dalam diri kita yang dapat dihargai. Dengan selalu membangkitkan kesadaran, siapa saya? Ini akan menjadikan diri kita enggan untuk menunda-nunda pekerjaan, kebiasaan mengatakan “masih ada waktu” sedikit demi sedikit akan terkikis. Hal ini akan hadir jika kita menyadari, “kapan dan dimana kita berada sekarang.”

Masukilah ruang dan waktumu (Socrates)
Mengapa saya menangkat sebuah pertanyaan dari Socrates ini? Karena saat ini kita sedang tidak berada pada ruang dan waktu kita sendiri. Saat ini kita berada pada ruang dan waktu orang lain. Artinya sekarang kita hanya mengikuti kebiasaan orang-orang disekitar kita. Oleh sebab itu, kita tidak berada di ruang dan waktu kita sendiri. Saat kita berada di ruang dan waktu kita sendiri, maka saat itu kita benar-benar berkuasa atas apa yang kita lakukan. Kita tidak peduli dengan perkataan orang yang mencemooh pekerjaan kita dan saat itu kita benar-benar berbeda dengan orang lain. Itulah yang disebut dengan berada pada ruang dan waktu kita sendiri. Dengan kata lain, kita menyadari keberadaan kita, “kapan dan dimana kita berada sekarang.”
Banyak diantara kita mungkin tidak memiliki kesadaran saat berjalan di muka bumi ini. Dalam buku Kamu Gak Bego Kok! Dikatakan bahwa kesadaran itu dibedakan atas 3 jenis. Pertama adalah kesadaran magis, yaitu kesadaran yang hanya pasrah dengan kenyataan, tanpa usaha, tanpa pertanyaan, sehingga rela dalam kehidupan yang membuat susah. Kemudian kita tersadar bahwa kesusahan itu adalah akibat kelicikan kekuasaan. Kita berontak, lantaran kurang iman, kita pun larut/ meniru kelicikan itu. ini yang disebut sebagai kesadaran naif, disatu sisi kita membenci, namun disisi yang lain kita melakukan hal – hal yang dibenci itu. pada saat kita mencapai kesadaran kritislah kita akan menemukan cahaya yang menuntun kita ke arah yang benar. (hal.23)

Ruang dan Waktu kita
“Sebentar ribut dan langsung melupakannya.” Inilah yang menjadi kebiasaan kita, sebentar membicarakannya dan kemudian langsung melupakannya. Orang-orang terkena penyakit amnesia, penyakit lupa atas apa yang baru saja terjadi. Tidak ada keseriusan dalam melihat kejadian sekitar akan membuat kita cepat melupakan apa yang baru saja terjadi. Lebih tepatnya disebut sebagai tindakan penyepelean masalah. Hal ini akan berbeda saat kita sedang mengintip. Mengintip dari lubang yang kecil, kita akan berusaha keras untuk melihat. Keras sekali usaha yang kita lakukan, dan hasilnya memang kita akan senantiasa ingat akan apa yang baru saja kita lihat itu. dengan kata lain saat mengintip kita tidak menyepelekan masalah.

Mengapa ini terjadi? Jawab benyamin Franklin adalah, karena kita terjebak pada kemoderenan. Ciri orang modern adalah mengejar kemajuan sampai mati. Khususnya kemajuan teknik. Kalau di kampung kita belum ada mall, maka kampung kita belum modern. Kemajuan diukur dengan materi. Karena orang modern terus menerus mengejar kemajuan yang tidak berujung. Ibarat mengejar batas langit (cakrawala). Mengapa orang mengejar kemajuan? Jawabnya adalah karena kemajuan itu agung dan keren, sebaliknya diteriaki norak, kuno adalah menyakitkan.

Lalu kita mengejar kemajuan itu dengan usaha yang sungguh-sungguh. Waktu kita habis untuk itu. dan lebih dari itu kitapun main sikut kiri dan kanan untuk mendapatkan yang kita cari. Yang ada dalam pikiran saat itu adalah bagaimana dapat terus tampil modern dengan cara apapun.

Lebih mirip arloji
Orang-orang modern itu, menurut Benjamin Franklin lebih mirip dengan jarum arloji. Kita tentu pernah melihat jarum arloji. Ia berputar dari angka 1 ke 2 dan seterusnya sampai akhirnya ia mengulangi lagi perbuatannya itu. terus menerus. Dan parahnya lagi saat berputar itu ia tidak memikirkan apapun. Yang ada dalam pikirannya adalah bagaimana terus berputar. Saat orang lain jalan-jalan ke mall, malu jika tidak ikut. Pokoknya apa yang dikerjakan kebanyakan orang, di situ ia akan ikut, tanpa tujuan. Tidak ada upaya dari dirinya untuk melawan. (takut dibilang norak dan kampungan).

Bagaimana jalan keluarnya? Patahkan jarum arlojimu. Mulai saat ini jangan hanya mengikut kebanyakan orang. Kita memiliki langkah hidup sendiri yang hanya kita yang dapat menikmatinya. Saat lahir kita sendiri, matipun nanti dikubur sendiri. Jadi, mengapa harus mengikuti kebiasaan orang kebanyakan, kalau akhirnya kamu sendiri yang menanggung akibat buruknya. Buang perasaan harus sama dengan orang lain. Sama dalam berpakaian, kebiasaan dan lain-lain. Memang sama adalah fatwanya orang modern. Akhirnya kita akan kehilangan jati diri kita sendiri. Kita hanya bayang-bayang.

Coba tanyakan pada diri kita sendiri, apakah kita sama dengan orang lain? Masa lalu? Keluarga? Dan lain-lain. Jika masih sama artinya kita sudah kehilangan kekhasan diri yang diberikan Allah kepada kita. peliharalah kenangan masalalu kita. kenangan itu yang akan membuat kita tidak lupa diri. Dengan begitu kita tidak perlu berputar-putar mengikuti orang-orang. Kita sudah memiliki tujuan yang akan kita tuju nantinya.

Teruslah mencari
Jangan pernah berhenti dalam mencari kesejatian, kesadaran kritis yang telah kita dapatkan bukan berarti akhir dari perjuangan kita. Hidup ini bukan semudah mengupas salak atau jeruk yang sekali kupas kita sudah menemukan buahnya yang manis dan langsung melumatnya hingga habis. Mencari kesejatian itu ibarat mengupas bawang, kita tidak akan menemukan akhir dari usaha kita mengupas bawang tersebut. Sampai akhrinya kita tidak mendapatkan apa-apa.
Mintalah fatwa kepada hatimu (hadist). Pertanyakan kepada hati kita, apakah kita merasa nyaman dengan kehidupan kita saat ini. Jika belum, cari dan terus mencari sampai kita menemukan sesuatu yang menenangkan hati kita.

Kamu basi, aku datang
Karena kamu basi, maka aku mendatangimu. Basi? Kalau kita melakukan tindakan yang hanya mengulangi tindakan orang lain, atau sekedar ikut-ikutan, itu artinya basi. Persis makanan yang sudah dijamah orang lain, pastilah basi namanya. Apakah kita suka makanan basi? Pasti tidak bukan, jadi mengapa kita melakukan tindakan, omongan, dan gaya berpakaian yang basi. Basi di sini adalah perbuatan yang tidak jelas tujuannya dan jauh dari nilai-nilai kebenaran.

Susun Tujuan hidupmu
Terakhir, saya hanya berpesan hidup hanya sekali, jangan diisi dengan kegiatan yang basi. Temukanlah sesuatu yang uniq dari dirimu. Kamu berbeda dengan orang lain dan jangan mau disamakan. Anak kembar sekalipun enggan disama-samakan begitu juga kita. Buka mata dan telinga kita, lahirkan kepedulian bagi sesama. Banyak-banyak membaca tulisan-tulisan kehidupan yang ada di sekeliling kita. dengan itu semua akan memperkaya diri kita dengan hal-hal yang luarbiasa.

**)Disampaikan pada acara bedah buku “Excuse Me Your Life Is Waiting”

FENOMENA UJIAN NASIONAL

Hanya tersisa waktu sekitar tiga minggu lagi dari hari ini (Sabtu, 28 Maret 2009), siswa-siswa SMA akan menghadapi pertarungan besar mereka. Sepertinya hidup mati mereka di pertaruhkan di sini. Sepertinya semuanya akan berakhir atau berawal dari Ujian Nasional ini. Jika lulus maka itu menjadi awal kehidupan selanjutnya (pendidikan), jika gagal maka itu juga dapat berarti bagi kehidupan pendidikan mereka. Sehingga UN ini selalu menjadi momok yang menakutkan bagi setiap siswa SMA dimana saja. Tidak hanya siswa yang ketakutan, pihak guru, kepala sekolah dan pejabat di dinas pendidikan pun menjadi ketakutan pula. Mengapa? Karena mereka (baca: guru, kepala sekolah, pejabat dinas pendidikan) tidak mau di “cap” gagal oleh atasannya jika ada siswa SMA di sekolah atau daerah yang menjadi tanggung jawabnya tidak lulus (baik banyak atau sedikit).

Memang kondisi ini memaksa siswa, guru, kepala sekolah dan seluruh perangkat pendidikan menengah atas di suatu daerah untuk berpikir keras agar seluruh anak didiknya lulus dengan nilai baik (baca: lulu). Namun, sangat disayangkan ketika kondisi “kompetisi” ini diciptakan pemerintah pusat untuk meningkatkan mutu pendidikan, justru ada sebagian oknum yang menghalalkan berbagai cara agar sekolahnya, atau daerahnya mendapat ancungan jempol karena seluruh siswanya lulus (100 %). Bagi kita yang biasa di dunia industri, untuk mencapai angka 100 % produk tanpa cacat ( zero defect) adalah suatu yang hampir mustahil. Sangat sulit mencapai angka itu, paling tidak mendekati angka 100 %.

Saat di dunia pendidikan selalu mencapai 100% lulus, tentunya ada sedikit pertanyaan, apa benar bahwa seluruh siswa itu mampu mengerjakan soal itu dengan benar. Untuk sekolah-sekolah yang memang berkualitas, mulai dari seleksi penerimaan, guru, bahan ajar dan perangkatnya memang berkualitas adalah hal yang wajar jika 100 % siswanya lulus. Karena mereka (baca: siswa) sejak awal sudah diberikan sesuatu yang berkualitas, mulai dari kualitas input dan kualitas proses, sehingga outputnya berkualitas. Dan untuk mencapai angka zaro defect itu juga sulit, karena yang kita olah/ produksi ini adalah manusia bukan barang. Lalu, bagaimana dengan sekolah yang “maaf” kurang atau tidak berkualitas. Kalau dalam bahasa seorang guru saya adalah sekolah 24, sekolah yang masuknya jam 2 siang dan keluarnya jam 4 sore. Kita sama-sama tahu kualitas input maupun kualitas prosesnya. Ajaibnya, sekolah-sekolah inipun 100 % lulus, zero defect. Luarbiasa!

Selidik punya selidik, menurut pengakuan guru-guru yang berdedikasi terhadap pendidikan berkualitas, saya mendapatkan bahwa kondisi ini (100% lulus) ini sudah menjadi kesepakatan para “oknum guru” guna mencapai angka 100 %. Mereka malu jika ada anak didiknya yang tidak lulus. Jadi, mereka “membantu” siswa dengan memberikan jawaban atas ujian nasional yang sedang berjalan. Pada saat penyelenggaraan ujian nasional, malamnya soal dibocorkan, kemudian diberikan kepada guru-guru bidang studi untuk mengerjakannya. Keesokan harinya lembar jawaban itu (yang telah diisi oleh guru bidang studi), diedarkan ke kelas-kelas yang sedang menjalani ujian nasional. Betapa menyedihkan.

Ada kejadian yang menggelikan, pernah disebuah sekolah, seorang guru yang bertugas menyebarkan lembar jawaban yang telah disi tadi, salah memberikan lembar jawaban. Akibatnya ada 7 orang yang tidak lulus di kelas tersebut. Maksudnya salah ini, guru tadi, memberikan jawaban Matematika IPS di kelas IPA.

Para oknum guru ini telah salah dalam mengartikan kata-kata “MEMBANTU SISWA” mengapa? Karena jika mereka ingin membantu siswa, proses membantu itu bukan di kelas saat ujian berlangsung. Tapi di kelas saat belajar sedang berlangsung. Membantu memberikan motivasi terus menerus, membantu bagaimana mengerjakan soal-soal yang sulit, membantu mengatasi masalah pribadinya (kejiwaannya yang tertekan), membantu mengatasi hambatan-hambatan belajar, dan intinya membantu siswa sebelum ujian berlangsung. Saat ujian berlangsung, maka biarkan mereka bekerja sendiri. Jika kita masih membantunya, maka kita telah MEMBUNUH siswa itu sendiri. Kalaupun mereka lulus, mereka hanya akan menjadi siswa-siswa yang selalu mengharapkan belas kasihan orang lain. Mereka akan kehilangan kepercayaan diri dan akhirnya tidak pernah dipakai oleh orang lain.

Pengalaman ini telah diceritakan siswa-siswa yang telah masuk ke perguruan tinggi. Kebanyakan mereka yang lulus dengan usaha sendiri akan bercerita kepada guru-gurunya dengan mengatakan “Terima kasih pak/bu, telah membantu kami dalam belajar sehingga kami menjadi percaya diri.” Di kampusnya mereka tetap berprestasi. Lain halnya dengan siswa-siswa yang lulus dengan “bantuan” tadi, mereka akan masuk universitas negeri namun tidak akan bertahan lama, paling lama adalah satu semester. Setelah itu mereka pindah ke universitas swasta, dan hingga semester 12 belum tamat juga.

Seperti kata pepatah, “Biarkan waktu yang akan menjawab ini semua.” Apa akibat saat kita berbuat curang dan apa akibat saat kita berbuat jujur. Waktu yang akan menjawabnya. Percayalah.

Kotabumi, Sabtu, 28 Maret 2009

Si Ferry Kecil

Hari menunjukkan pukul 18:24 artinya azan magrib baru saja berkumandang. Aku dan adikku yang masih dalam perjalanan menuju rumah beristirahat sebentar di sebuah SPBU,di daerah Kali Balangan, sekitar 12 km dari rumahku. Matahari sudah masuk ke peraduaannya, yang tersisa hanya goresan jingga di ufuk barat, artinya malam telah datang menjelang.

Saat sedang duduk-duduk melepas lelah setelah menempuh perjalanan hamper 200 km, datang seorang anak kecil, ku taksir umurnya baru 8 atau 9 tahun. Rambutnya tipis, kemerahan tandanya ia sering berjemur di teriknya siang. Memakai kaus oblong yang sudah pudar warnanya, dan celana merah, celana sekolahnya. Ia mendekatiku sambil menenteng barang dagangannya, tahu goreng, telur puyuh dan kacang bawang.

“Om, tahunya om?” katanya sembari duduk di sebelahku

“Berapa tahunya?” aku bertanya, walau aku tidak begitu berminat membelinya.

“Seribu, om?” jawabnya

“Semuanya seribu?” tanyaku lagi

“O.. gak om, telur puyuhnya 2000?” feri menjawab.

Aku teringat dengan uang seribuan yang ada selembar, kembalian pembelian bensinku tadi. Ah… kenapa tidakku berikan saja pada anak ini, sembari ku beli barang dagangannya.

“Tahu-nya ngambil dimana?” aku bertanya lagi

“Di pabrik om…” jawab

Hari semakin gelap, sedangkan SPBU ini bukanlah SPBU yang ramai. Saat aku disini, tidak ada satupun kendaraan yang mengisi bahan bakar di tempat ini. Aku berpikir seberapa besar pendapatan si Ferry dalam sehari.

Aku bertanya, “Sehari biasanya ferry dapat berapa?”

“Kadang 40.000 kadang 20.000, om.” Jawab Ferry sembari tersenyum

“Dari pabrik Ferry beli tahunya harga berapa?” kutanyakan modalnya untuk berjualan.

“7000 dapet 10 bungkus tahu om.”

O, sekitar 30 % keuntungannya sehari. Jika ia mendapatkan rata-rata 30.000 sehari, maka dalam sehari ferry mengantongi sekitar 9000 rupiah.

“Ferry udah kelas berapa?”

“Kelas 2 MIN (Madrasah Ibtidaiyah Negeri – setingkat SD)) Balangan”

“Kok ferry jualan?” aku kembali bertanya.

“Buat bantu mamak, Om”

“Emang mamak ferry kerjanya apa?”

“Mamak kerjanya nyuci piring di rumah orang.”

“Kalo bapak?”

“Bapak supir angkot, om”

“Ferrry berapa bersaudara, punya berapa adik dan kakak?”

“Kakak ada 2, adik ada 3 orang.”

“Kakak gak ikut jualan?”

“Ikut, tapi udah pulang.”

“Kok Ferry belum pulang?”

“Nunggu dijemput mamak.”

Ingin terus bercerita dengan anak ini, tapi aku harus terus berjalan, masih ada 12 km yang harus ku tempuh. Aku belum sholat maghrib, dan daerahku ini sekarang rawan pembegalan. Terlalu malam pulang, sama saja bunuh diri. Aku teringat beberapa hari yang lalu, pagi-pagi sekitar pukul 05.30, di gang tempatku tinggal terjadi pembegalan. Korbannya adalah seorang ibu yang hendak ke pasar bersama anaknya yang masih kecil. Sedangkan pembegalnya datang berdua sambil mengancungkan sebilah golok.

Semoga saja perjalananku ini aman-aman saja. Terimakasih Ferry yang sudah menemaniku bercerita.

Kotabumi, 22 Maret 2009

Konsep Diri (Part II)

Ubah konsep diri ke arah positif

Sejauh apapun kita telah melangkah ke arah negatif, yakinlah bahwa kita masih memiliki waktu untuk kembali dan memulai hidup dengan sikap yang lebih positif. Yang paling penting adalah keinginan yang kuat untuk mengubah diri kita menjadi lebih baik. Untuk mengubah sikap kita terhadap diri kita sendiri, coba anda ikuti langkah-langkah berikut ini:

Mulai dengan affirmasi positif
Afirmasi positif adalah kegiatan “meneriakkan” kata-kata positif ke dalam otak kita. Katakan, jika perlu dengan teriakkan kata-kata, “aku mampu”, “aku bisa”, “tidak ada yang tidak mungkin”, “setiap masalah ada jalan keluarnya”, “aku adalah pemenang”, “aku adalah juara”. Hal ini dilakukan untuk meng-instalkan kata-kata positif tersebut ke dalam pikiran kita dan juga untuk men-delete program-program negatif dalam pikiran kita. Satu lagi, lakukan kegiatan ini, (mengatakan kata-kata positif) pada saat anda akan tidur di malam hari. Lakukan berulang kali, hitungannya dapat anda sesuaikan sendiri, apakah 10, 20 atau hingga anda tertidur.

Bersikap objektif terhadap diri sendiri, jangan musuhi diri sendiri
Setiap manusia pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Tidak ada manusia yang diciptakan Allah tanpa kelebihan satupun. Berdasarkan penelitian Howard Gardner, ia menemukan bahwa ada delapan kecerdasan yang bebeda satu sama lain. Setiap manusia pasti memiliki salah satu dari kedelapan kecerdasan itu.
Jadi, hentikan sikap dan pikiran yang menganggap diri ini tidak mampu, tidak bisa dan tidak berguna. Mungkin pada satu pekerjaan kita tidak mahir dan di pekerjaan lain kita dapat mengerjakannya dengan cemerlang. Tugas kita adalah menemukan dan menggali terus menerus potensi yang diberikan Tuhan kepada kita. Terus mencari hingga akhirnya kita menemukan kelebihan unik yang diberikan Tuhan kepada kita. Sayangnya memang, sistem pendidikan kita tidak mendukung upaya penggalian potensi itu. Karena kita dihadapkan pada sistem pendidikan yang general (umum) bukan khusus, sesuai dengan keunikan diri kita.
Satu lagi, jangan pernah memusuhi diri sendiri. Dengan memaki-maki kekurangan diri sampai-sampai tindakan itu menutupi kelebihan yang ada pada kita.

Catat keberhasilan-keberhasilan yang anda capai
Sediakan sebuah buku khusus (Prof Wiseman mengatakan buku ini sebagai “Luck Diary”) untuk mencatat keberhasilan-keberhasilan (baik besar atau kecil) dalam hidup kita. Hal ini penting karena dengan ini kita akan terus mengingat keberhasilan-keberhasilan yang pernah kita capai, jadi dalam hidup ini kita tidak hanya mengingat kegagalan yang pernah terjadi.

Beri hadiah atas prestasi yang anda capai
Rayakan setiap keberhasilan dengan memberikan hadiah kepada diri kita sendiri. Hal ini menjadi penting, karena dengan hadiah itu, jiwa ini menjadi senang, dan lebih percaya diri, selanjutnya jiwa ini akan terus meminta untuk merasakan lagi hadiah-hadiah itu. Tentunya dengan mencapai keberhasilan-keberhasilan lain.


Penutup

Tidak ada yang tidak mungkin. Pertanyaannya adalah Mau atau tidak. Jika kita memilih mau, maka seluruh bagian tubuh ini akan bangkit mendorong untuk mencapai apa yang kita inginkan. Begitu juga sebaliknya, jika kita memilih tidak mau, maka dengan sendirinya tubuh ini akan diam dan tidak mau bergerak. Sehingga jadilah kita pencundang-pecundang kelas teri yang berani hanya pada seekor tengik (Puisi Hamzah Sinaga). Semoga bermanfaat.
Kinantan058@gmail.com

KONSEP DIRI (part I)

Pendahuluan

Sering kita melihat di sekeliling kita, ada orang-orang yang dengan prestasi akademis yang biasa-biasa saja namun memiliki prestasi hidup yang luarbiasa. Dan tidak sedikit pula kita temukan orang-orang yang memiliki prestasi akademis yang luarbiasa, namun memiliki prestasi hidup yang biasa-biasa saja. Seperti dalam sebuah ungkapan disebutkan bahwa, “manusia itu ibarat sebuah computer, sehebat apapun hardwarenya, tanpa didukung system operasi yang handal, computer itu tidak akan mampu berdayaguna secara maksimal.” Begitu juga manusia, sepintar apapun kita, tanpa didukung oleh mentalitas yang kuat hanya akan menjadi pribadi yang biasa-biasa saja. System operasi/ mentalitas pada diri manusia itulah yang sering disebut sebagai konsep diri.

Konsep diri secara umum diartikan semua perasaan dan pemikiran seseorang mengenai dirinya sendiri. Hal ini meliputi kemampuan, karakter diri, sikap, tujuan hidup, kebutuhan dan penampilan diri. Gambaran pribadi terhadap dirinya meliputi penilaian diri dan penilaian sosial. Pengetahuan terhadap diri sendiri ini menjadi sangat penting, karena kebanyakan masalah yang terjadi pada manusia saat ini, sebagian besar disebabkan oleh kesalahan penilaian atas diri sendiri. Seperti merasa tidak mampu, minder, hilang kepercayaan diri, hingga merasa diri ini tidak berguna, tidak memiliki potensi dan putus asa, dan tidak merasa perlu ada di dunia ini lagi. Paling parah adalah dengan membunuh diri sendiri.

Faktor-faktor yang mempengaruhi Konsep Diri

Konsep diri terbentuk dari interaksi atau sentuhan kita (diri dan pikiran) dengan lingkungan. Konsep diri bukanlah sebuah takdir. Konsep diri bersifat dinamis, terus berkembang. Seiring berjalannya waktu, konsep diri seseorang dapat berubah ke arah positif atau negatif. Berikut ini adalah beberapa faktor yang mempengaruhi konsep diri seseorang:

Faktor Eksternal
Pengaruh eksternal terdiri dari pola asuh orang tua dan interaksi dengan lingkungan sekitar.

Pola Asuh Orang Tua
Saya memiliki seorang saudara, sejak kecil ia tidak pernah diperbolehkan oleh orang tuanya untuk memanjat pohon. Walaupun pohon itu hanya pohon kecil. Yang terjadi saat ini adalah beliau tidak pernah berani untuk memanjat pohon, walaupun hanya pohon yang kecil
Ketika kita masih kecil atau sekarang kita perhatikan bagaimana orang-orang tua disekitar kita mendidik atau mentransfer “nilai” kepada anaknya. Kebanyakan (tidak semua) nilai-nilai yang ditransfer oleh orang-orang tua tersebut adalah nilai-nilai yang negatif. Menurut sebuah penelitian seorang anak paling tidak mendengar kata-kata “jangan” (negatif) sebanyak 40 kali sehari.
Untuk itu, penting bagi kita orang tua atau yang belum menjadi orang tua untuk hati-hati dengan kata-kata yang yang kita keluarkan di depan anak-anak kita. Seperti kata pepatah, “anak-anak itu seperti selembar kertas kosong” hendak diisi apa kertas itu, kita-lah orang tua yang menuliskannya. Jika kata-kata negatif yang senantiasa kita ucapkan, maka mereka (baca: anak-anak) akan menuliskan dan merekam hal-hal negatif dalam memorinya. Begitu juga jika kita senantiasa mengucapkan hal-hal positif, maka positiflah yang akan terekam dalam memorinya.

Interaksi dengan lingkungan

Lingkungan adalah faktor paling dominan dalam mempengaruhi sikap dan perilaku seseorang. Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa, jika engkau ingin mengetahui tabiat seseorang, lihatlah kawan-kawannya. Dalam hadist yang lain disebutkan, siapa yang berteman dengan seorang penjual minyak wangi, maka ia akan mendapatkan wanginya. Sedangkan siapa yang berteman dengan seorang tukang besi, maka ia akan mendapatkan panas dan bau yang kurang sedap.
Seseorang yang awalnya adalah orang yang “baik-baik”, akan dapat berubah menjadi orang yang “tidak baik-baik” karena dipengaruhi lingkungannya. Begitu juga sebaliknya ada orang yang awalnya “tidak baik-baik”, saat bergaul dengan orang baik-baik, ia berubah menjadi orang “baik-baik”.

Faktor Internal
Selain pengaruh pihak luar, konsep diri juga dipengaruhi faktor internal pribadi. Faktor internal itu adalah sikap atas kegagalan. Kegagalan demi kegagalan yang dialami seseorang jika tidak disikapi dengan positif, - dengan terus mengatakan bahwa kegagalan yang terjadi adalah investasi untuk meraih kesuksesan – akan menjadikannya semakin terpuruk. Pikirannya akan mengatakan bahwa dirinya memang tidak mampu, tidak berbakat, tidak beruntung, dan kata-kata negatif lainnya. Tanpa ia sadari, kata-kata negatif itu akan terus menggerogoti mentalnya menjadi semakin hancur berantakan.

bersambung

THE GREATEST MARKETER

World great marketer dapat sukses karena kemampuannya mengkombinasikan otak kiri dan otak kanan, intelejensia dan imajinasi, berpikir outside-in selain inside-out, berpikir jangka pendek maupun panjang, serta dapat membumikan ide-ide radikal ke dalam kegiatan praktis. (Marketing, 02/VIII/Februari/ 2008)

Dalam edisi 02/VIII/Februari/ 2008, majalah marketing menuliskan setidaknya 20 orang yang sukses dalam menjual produk dan idenya. Kesuksesan mereka diukur berdasarkan seberapa besar pendapatannya, kemudian seberapa besar market share yang mereka kuasai, seberapa banyak outlet/ cabang yang mereka miliki di dunia ini, hingga seberapa besar trust and awareness pelanggan mereka. Keduapuluh marketer terbesar dunia ini (menurut majalah marketing) mulai dari Honda, Jack Welch, Anita Roddick, hingga Larry Page dan Sergei Brin. Produk mereka dari otomotif, film animasi, hingga mesin pencari di internet.

Beberapa waktu yang lalu, di sebuah pertemuan rutin yang kami lakukan di Medan. Dalam pembukaan acara, pembawa acara menyebutkan sebuah nama yang merupakan world greatest marketer sesungguhnya. Siapa ia…? Ia adalah manusia yang telah dijamin oleh Allah untuk masuk Surga. Manusia tanpa kesalahan (karena Allah melindunginya dari kesalahan). Manusia dengan mimpi besar, jauh melampaui zaman dan tempat tinggalnya.

Ya, ia adalah Muhammad saw. Nabi akhir zaman yang membawa risalah kebenaran yaitu Islam. Timbul pertanyaan apa tolok ukuran sehingga si pembawa acara berani mengklaim bahwa Muhammad saw adalah marketer terbesar sepanjang masa?

Jawabnya adalah kita membaca sejarah, Muhammad adalah seorang anak yatim piatu sejak kecil (6 tahun), sejak usia 12 tahun sudah mengikuti perjalanan bisnis milik pamannya hingga ke negeri syam. Di usia 20 tahunan ia telah menjadi kepercayaan seorang pengusaha besar di Mekkah untuk menjalankan usahanya dan beliau berhasil. Kemudian fase kehidupannya berubah total sejak Allah menunjuknya menjadi Nabi akhir zaman yang diutus untuk seluruh umat manusia dan seluruh dunia.

Muhammad menjalani misi yang maha besar. Membawa risalah (sebuah ide tentang ketuhanan yang esa) ini ke seluruh umat manusia di dunia. Pekerjaan ini tidak akan mampu dipikul oleh orang-orang yang bermental tempe. Muhammad telah menjadi fenomena yang mengejutkan dunia. Bagaimana tidak, ia berhasil menyebarkan sebuah ide/ konsep tentang ketuhanan, dimana konsep itu secara akal sangat sulit di terima manusia saat itu. Bagaimana mungkin ada sebuah kekuatan yang tidak terlihat mampu mengatur jalannya dunia ini. Secara logika saat itu, konsep ini sangat tidak dapat di terima. Muhammad mendapat pertentangan yang sangat sengit dari kaumnya sendiri. Ia yang dijuluki al amin (dapat dipercaya) mendapatkan hinaan dari orang-orang yang membencinya sebagai tukang sihir, pembual, pemimpi dan sebagainya.
Selama 13 tahun Muhammad “menjual” konsep ini di Makkah, dan hasilnya hanya beberapa puluh orang saja. Kemudian Allah memerintahkan Muhammad dan umatnya meninggalkan Mekkah dan membangun peradaban di kota Yastrib (kemudian dikenal dengan Madinah). Di Madinah Muhammad mendapat sambutan yang sangat menggembirakan dari warga Yastrib. Sebelum Muhammad hijrah (pindah) ke Yastrib, Muhammad telah mengirim seorang utusan guna mengenalkan Islam ke Yastrib.

Selang beberapa bulan, Muhammad kembali ke Mekkah dengan kekuatan seratusan ribu pasukan. Peristiwa ini yang akhirnya kita kenal sebagai Fathu Makkah. Terus selanjutnya hingga akhirnya Islam terus berkembang ke Negara-negara lain. Setelah ia wafat, para penerusnya melakukan ekspansi ke Negara lain. Hingga hari ini, konsep ketuhanan yang esa (tauhid) dapat di terima oleh 20 persen penduduk dunia. dan proses marketing dari konsep ini akan terus berlanjut ke seluruh penjuru dunia.

Inilah yang melandasi mengapa Muhammad adalah marketer terbesar sepanjang sejarah umat manusia. Ia telah berhasil membangun pondasi system pemasaran yang tangguh, ia berhasil menciptakan marketer-marketer yang terus tanpa henti memasarkan Islam ke seluruh penjuru dunia, ia telah berhasil membangun sebuah trust and awareness seluruh “pelanggan”nya, sehingga “pelanggan-pelanggannya ini tidak hanya menggunakan produknya, namun ikut berperan serta membesarkan pasar dengan terus mempromisikan produk yang dibawa Muhammad yang namanya sebuah konsep tauhidullah (Mengesakan Allah).

Sudah sepatutnya kita sebagai umat Islam meniru bagaimana seorang Muhammad saw, melakukan proses-proses marketing, sehingga produk yang dibawanya (yaitu Islam) dapat diterima semua orang, tidak tanggung-tanggung produknya dapat bertahan hingga 14 abad, tanpa ada cacat ataupun terdiferensiasi. Produk yang ia bawa telah melawan hukum siklus hidup produk, setelah melalui masa pertumbuhan, produk akan melalui masa kedewasaan dan akhirnya ditinggalkan. Namun produk Islam tak pernah lekang dimakan zaman, selalu bertumbuh dan bertumbuh tidak ada masa kedewasaan ataupun penurunan, kecuali dunia ini berakhir nantinya. Wallahu’alam.
(Kotabumi, 15 Maret 2009)

Pemimpin dan Kepemimpinan

“Pemimpin adalah seorang penjual harapan, melalui kejelasan visi dan
kekuatan misi” (Mario Teguh)

“Kepemimpinan adalah sebuah proses untuk mempengaruhi individu atau organisasi untuk mencapai urutan hasil dalam urutan tindakan yang setia pada semua misi.” (Mario Teguh)

Yup benar sekali pak Mario. Sering kita melihat bahwa pemimpin-pemimpin besar yang pernah ada di dunia, pada awalnya mereka adalah “pemimpi besar”, mereka menjual mimpi mereka dalam bentuk “harapan-harapan” kepada orang-orang disekitarnya. Namun, mereka tidak hanya sekedar memberikan “harapan-harapan kosong”. Mereka (baca: pemimpin) juga memberikan visi (goal atau tujuan) yang jelas, apa akhir dari perjuangannya.

Selain itu, mereka juga memiliki kekuatan misi (langkah-langkah). Artinya mereka memiliki “kerangka kerja” yang kuat untuk mencapai mimpi atau harapan yang telah mereka jual itu. Sehingga pribadi-pribadi pemimpin ini (mereka yang memiliki mimpi dan harapan, serta didukung oleh misi yang kuat) mampu “menyihir” (baca: mempengaruhi) orang-orang disekelilingnya untuk ikut bersama dengannya mewujudkan mimpi-mimpi yang ia hembuskan terus menerus.

Sekarang banyak sekali pemimpin. Ya banyak pemimpin, mulai dari ketua kelas, pemimpin departemen, pemimpin divisi, ketua organisasi ini dan itu, hingga tingkatan tertinggi pemimpin bangsa yaitu presiden. Dari banyaknya posisi pemimpin itu, tidak semua dari mereka memiliki kemampuan untuk memimpin atau yang kita sebut sebagai KEPEMIMPINAN. Banyak pemimpin yang sebenarnya hanya SIMBOL tanpa memiliki sebuah PENGARUH kepada bawahannya. Ini dia inti masalahnya, PEMIMPIN TANPA PENGARUH.

Lalu bagaimana menjadi pemimpin yang berpengaruh? Ikuti tulisan saya berikutnya.

Perkataan-Perkataan Negatif

Banyak sekali kata-kata negative yang ku terima dalam beberapa hari ini. Semua itu terkait dengan keputusanku yang sedikit kontrovesial. Keputusan untuk akhirnya membangun daerahku. Agak berlebihan sepertinya. Lebih tepatnya keinginan untuk kembali ke rumah dan mulai mengembangkan apa yang ku tahu dan apa yang harus aku lakukan untuk lingkunganku.

Luarbiasa memang pengaruh dari lingkungan. Penolakan dan ungkapan-ungkapan negatif itu memang sempat menggoyahkan keyakinanku. Ungkapan itu antara lain, “Kamu akan memasuki dunia baru dan memerlukan energi yang besar untuk beradaptasi.”; “Mau ngapain kamu di Lampung ini.”; “Apa yang mau kamu kerjakan di sana”; dan lain-lain.

Yang ingin ku ceritakan disini adalah, ternyata pengaruh kata-kata negatif itu sangat luar biasa. Seseorang dapat kehilangan kepercayaan dirinya setelah digempur habis-habisan oleh pernyataan-pernyataan negatif dari lingkungannya.

Selanjutnya, yang perlu kita lakukan setelah kita mengetahui bahwa ada godaan berupa perkataan negatif yang kita terima adalah:

- Menjaga niat; mengingat kembali niat kita saat mengambil keputusan tersebut. Jika kita sadar bahwa niat yang kita bawa adalah niat yang baik. Yakinlah bahwa Allah akan mewujudkan niat itu, cepat atau lambat. Itulah sebabnya Ibnul Qayyim Al Jauziyah mengingatkan bahwa niat itu harus dijaga pada tiga tempat, pertama di awal/ sebelum melakukan sebuah pekerjaan, kedua, saat melakukan pekerjaan dan ketiga saat hendak/ telah menyelesaikan pekerjaan. Dengan mengingat niat kita akan temukan kembali pikiran positif kita.

- Bangun kembali mimpi kita. Bangun kembali ingatan/ imajinasi tentang hadiah atau hasil yang akan kita capai setelah pekerjaan ini selesai. Apa hasil yang ingin kita capai dengan terwujudnya pekerjaan ini. Apakah berupa materi atau yang lainnya. Bangun terus imajinasi akan hasil yang akan kita capai.

- Hindari atau buang jauh-jauh pikiran negatif atau pembicaraan yang hanya akan menghancurkan bangunan imajinasi kita tadi. Jangan biarkan orang lain mengaburkan mimpi kita tentang keberhasilan.

- Bergabunglah dengan orang-orang yang memiliki visi dan misi yang sama dengan kita. Mereka akan terus menjaga kita untuk tidak pernah jauh dari niat, mimpi dan visi/ misi yang telah kita rencanakan.

- Carilah dukungan (tim) yang akan mewujudkan mimpi itu. Dengan tim ini, dengan sendirinya kita menciptakan sebuah komunitas orang-orang yang berpikiran positif. Dan kita akan saling menguatkan satu sama lain.

- Jangan pernah ragu dengan apa yang kita kerjakan, selama kita yakin bahwa pekerjaan ini tidak bertentangan dengan hati nurani kita. Jalan terus, nanti biarkan Allah yang akan menunjukkan jalannya.

Hidup ini adalah sebuah perjalanan panjang. Akan banyak sekali godaan dan rintangan yang akhirnya akan menerpa kita. Saat rintangan menghadang, teriakan dalam hati dan pikiran kita, “Aku harus menang, karena memang aku pemenangnya.”

*) tengah malam, bandar lampung, saat pikiran diserang ingatan-ingatan negatif tetang kegagalan

MENJAGA TEMPO

Aku membaca buku yang ditulis John Wood, seorang executive di perusahaan yang bernama Microsoft. Judulnya, “Leaving Microsoft, To Change The World”, dan buku ini belum selesai ku baca. Namun ada beberapa catatan awal yang mungkin perlu kita pelajari bersama.

Aku baru sampai di Bab 5(lima) ketika si John sedang mengantar buku-buku untuk anak-anak di kaki pegunungan Himalaya, Nepal. Ada satu kata kunci yang ku temukan dari beberapa lembar kisah john di buku ini. Kata kunci itu adalah “OPTIMIS”. Sekali lagi OPTIMIS.

Optimisme ini terlihat dari kepercayaan diri John saat mendapatkan tugas menyusun strategi pemasaran (karena john adalah direktur pemasaran Microsoft Asia), untuk system e business atau bisnis elektronik atau sekarang lebih di kenal sebagai bisnis online. Pesaing utama Microsoft, IBM, telah menggelontorkan dana miliaran dolar amerika untuk memenangkan pasar. Dan john mendapatkan tantangan itu dari direktur pemasaran Microsoft. John berkata kepada pimpinannya yang sudah terlihat ketakutan itu dengan sebuah kalimat, “Anda tenang saja, kita akan memenangkan pertarungan ini.” Dan terbukti dalam tempo setahun, mereka memenangkan persaingan dengan IBM.

Aku jadi bertanya, “Mengapa orang-orang di barat sana, lebih percaya diri, lebih optimis dan kepercayaan diri mereka (dari satu orang) akan terus menular kepada orang-orang di sekitarnya. Sedangkan banyak di antara teman-temanku (dan termasuk aku sendiri) sulit untuk menjaga kepercayaan diri dan rasa optimis secara kontinu”

Temanku menjawab, “itu semua karena mereka mampu MENJAGA TEMPO, tempo dari optimisme mereka, tempo kepercayaan dirinya, tempo pikiran positif-nya. Dalam artian mereka menjaga tempo itu pada kisaran yang stabil.”

Kata kunci kedua yang ku temukan, “STABIL”. Mereka-mereka itu (orang-orang seperti John Wood) telah berhasil menciptakan suasana hati dan pikiran optimis pada tempo yang stabil. Memang ada fluktuasi, namun mereka mampu terus menjaga agar saat kondisi semangat sedang turun, mereka dapat segera tersadar dan kembali pada jalur yang sebenarnya.

Hal yang berbeda terjadi pada diri kita di Indonesia (Tidak Semua), kita terkadang kesulitan untuk menjaga kondisi optimisme pikiran dan jiwa kita pada level yang senantiasa/ relative sama di setiap waktu. Dari hasil diskusi dengan teman-teman, aku mencatat bahwa kondisi ini terjadi karena lingkungan yang kurang mendukung dan kondisi spiritual pribadi banyak orang mau berusaha untuk optimis, namun lingkungannya tidak mendukung perubahan kondisi jiwanya bahkan cenderung meremehkan dan merendahkannya. Sehingga ia-pun “malu” untuk berpikir berbeda.


Untuk itu perlu bagi kita untuk menjaga kondisi pikiran dan jiwa kita untuk terus optimis dan berpikir positif. Caranya adalah carilah lingkungan yang dapat menjaga kondisi jiwa dan pikiran kita untuk terus optimis dan positif. Lingkungan yang buruk kurangi atau mungkin tinggalkan.