- Tulis Pernyataan Misi Anda
- Deskripsikan Ide Produk atau Jasa Anda
- Lakukan Riset Pasar
- Buat Rencana Bisnis Anda
- Bangun Jejaring Anda
- Formalkan Ide Anda
- Buatlah Purwarupa
- Selenggarakan Diskusi Kelompok
- Temukan Perusahaan Pembuat dan Distributor
- Luncurkan Situs Web Anda
- Publikasikan Ide Anda
- Persuasilah Pelanggan/ Pemasok Potensial
sebuah usaha untuk menyimpan ingatan tentang perjalanan, tentang film, tentang buku yang pernah hadir mewarnai hidup kami...
12 Langkah Meluncurkan Bisnis Anda
The Big Idea
asli, saya merasa banyak sekali inspirasi di buku ini...ada baiknya kawan-kawan membacanya.
secara garis besar, buku ini bercerita tentang bagaimana agar kita mampu menjadikan IDE sederhana menjadi IDE yang bernilai Miliaran.
pesan moralnya adalah, jangan pernah sepele dengan ide anda sendiri...sesederhana apapun ide itu, karena kita tidak pernah tahu bahwa ide itulah yang akan membawa kita menemukan kesuksesan.
saya beli buku ini di bazar (pasar murah) mungkin buku ini tidak beredar lagi.
buku terakhir ku beli
- how i sold 1000 cd's in 30 days oleh pandji pragiwaksono
- menilai kinerja manajer lewat laporan keuangan oleh reni r pramono
buku yang gak sengaja terbeli karena ada bazar buku murah di gramedia beberapa hari yang lalu
secara singkat buku ini berisi tentang 'cara' menjual produk dan menilai seberapa 'sehat' usaha/ bisnis kita.
isinya singkat, mudah dipahami dan tentunya akan memudahkan kita menjalankan pesan-pesan yang terkandung didalamnya.
dan gak ada salahnya juga kalo kawan-kawan membeli buku ini, sebagai tambahan informasi yang semoga saja berguna bagi anda.
Negeri Van Oranje (catatan pembaca)
Catatan Kecil (mimpi sekolah ke eropa)
Aturan Pertama Hot Marketing
Anis Matta: Mencari Pahlawan Indonesia

Bagi kita yang senantiasa mengikuti jalannya serial kepahlawanan yang ditulis oleh Anis Matta untuk Tarbawi, kita akan dapat menemukan sebuah panduan atau manual book untuk mencari pahlawan di negeri ini. Pikiran kita akan digiring hingga akhirnya kita dapat berkata, ”aha!”. Kita menemukan apa yang menjadi pertanyaan kita di awal ketika membaca buku ini.
Buku ini di awali dari sebuah pertanyaan, Siapa Pahlawan? Pahlawan bukanlah orang suci yang diturunkan dari langit ke bumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis. Mereka tidak harus tercatat dalam buku sejarah atau dimakamkan di taman makam pahlawan. Mereka juga melakukan kesalahan dan dosa. Mereka adalah manusia biasa yang berusaha memaksimalkan seluruh kemampuan untuk memberikan yang terbaik bagi orang-orang disekelilingnya. Mereka merakit kerja-kerja kecil menjadi sebuah gunung, karya kepahlawanan adalah tabung jiwa dalam masa yang lama… (Pengantar Anis Matta)
Dari tesis ini kita akan dapat mengatakan bahwa siapa saja akan dapat menjadi pahlawan termasuk kita yang membawa buku ini. Lalu, dari mana mereka datang? Anis Matta melanjutkan, Mereka muncul di saat-saat sulit. Mereka datang untuk memikul beban yang tidak dipikul manusia di zamannya. Mereka merespon tantangan-tantangan kehidupan yang berat. (Naluri Kepahlawanan, Hal 4).
Para pahlawan menyadari betul bahwa Tantangan adalah stimulan kehidupan yang disediakan Allah untuk memancing “naluri kepahlawan”- nya muncul. Bagi mereka yang tidak memiliki naluri ini, tantangan ini dianggap beban berat, mereka akan menghindari dan menerima dengan sukarela posisi kehidupan yang tidak terhormat. (Naluri Kepahlawanan, Hal 4).
Dalam buku ini, Anis Matta juga memberikan semua perangkat yang diperlukan untuk menjadi pahlawan, apa saja akhirnya yang mendukung naluri kepahlawanan, karena naluri saja tidak cukup untuk menjadikan kita pahlawan. Anis Matta mengatakan, Jika Naluri Kepahlawanan adalah akar pohon kepahlawanan, maka Keberanian adalah batang yang menegakkannya. Tidak ada Keberanian yang sempurna tanpa Kesabaran, karena kesabaran adalah nafas yang menentukan lama tidaknya keberanian itu akan bertahan dalam diri seseorang. Dan Pengorbanan adalah bahan bakar dari ketiga hal di atas, Naluri Kepahlawanan, Keberanian dan Kesabaran…
Lalu, apa lagi stimulus yang diperlukan untuk menjadikan diri kita pahlawan, jawabannya adalah kebaikan. Mengapa? Kebaikan adalah medan kompetisi bagi para pahlawan yang akan mengeksploitasi potensi-potensi mereka. Dengarkan apa yang ada dalam pikiran para pahlawan, Setiap kali mereka menyelesaikan satu unit amal, dalam tempo yang ringkas dan cepat, dengan kualitas maksimum, dan dengan manfaat sosial sebesar-besarnya, barulah mereka dapat menikmati rentang waktu itu. Kebahagian mereka terletak pada selesainya unit-unit amal shalih yang mereka kerjakan dengan cara yang sempurna.
Langkah-langkah untuk menjadi pahlawan adalah Pertama adalah optimisme, optimisme adalah titik tengah realismen dan idealisme. Optimisme mengajarkan bahwa kita harus idealis dalam menjalani kehidupan ini, namun kita juga harus sadar bahwa kita hidup di dalam dunia yang real (nyata) yang terkadang jauh dari nilai-nilai ideal.
Kedua, Mengambil Momentum, Seseorang tidak menjadi pahlawan karena melakukan pekerjaan kepahlawanan sepanjang hidupnya, kepahlawanan memiliki momentumnya. Yang perlu kita lakukan adalah mempercepat saat-saat kematangan. Yaitu dengan mengumpulkan sebanyak mungkin potensi dalam diri kita, mengolahnya dan kemudian mengkristalisasikannya. Dengan ini kita memperluas peluang sejarah atau mengantar kita ke pintu sejarah.
Ketiga, Menjaga Kegembiraan Jiwa, untuk terus mampu berjalan jiwa ini perlu dijaga agar tetap dalam kondisi gembira. Kegembiraan adalah sumber energi bagi jiwa.
Keempat, Terus Menggali Keunikan Diri, Sejarah hanya mencatat karya-karya yang berbeda dengan yang pernah ada sebelumnya. Sejarah tidak mencatat pengulangan-pengulangan. Kecuali untuk karya di bidang sama dan memiliki kualitas yang tidak berbeda. Menjadi unik adalah beban psikologis yang tidak semua orang mampu menanggungnya. Ancamannya adalah isolasi, keterasingan dan akhirnya adalah kesepian. Jika engkau bersedia menerima takdir kesepian sebagai pajak bagi keunikan, maka niscaya masyarakat juga akan membayar harga yang sama : kelak mereka akan merasa kehilangan.
Kelima, terus bergerak Menuju Kesempurnaan, kesempurnaan adalah obsesi seorang pahlawan. Bergerak menuju sempurna adalah bergerak menuju batas maksimum, “Bagaimana mengetahui batas maksimum itu…?” Batasan itu bersifat psikologis, yaitu semacam kondisi psikologis tertentu yang dirasakan seseorang dari suatu proses maksimalisasi penggunaan potensi diri, dimana seseorang memasuki keadaan yang oleh Al Qur’an disebut sebagai “menjelang putus asa”.
Keenam, Siap Dengan Kegagalan, pertanyaannya Bagaimana mereka mampu melampaui kegagalan-kegagalannya dan merengkuh takdirnya sebagai pahlawan…? Jawabnya adalah, Mereka memiliki mimpi yang tidak pernah selesai, mereka memiliki semangat pembelajaran yang konstan, dan kepercayaan terhadap waktu, mereka menyadari bahwa segala sesuatu memiliki waktunya.
Ketujuh, Kekuatan Imajinasi.
Di akhir buku ini Anis Matta mengatakan bahwa jangan pernah menanti kedatangan mereka atau menggodanya untuk datang ke sini. Mereka tidak akan pernah datang. Mereka bahkan sudah ada di sini. Mereka lahir dan besar di sini, di negeri ini. Mereka adalah aku, kau, dan kita semua. Mereka bukan orang lain. Mereka hanya belum memulai. Mereka hanya perlu berjanji untuk merebut takdir kepahlawanan mereka; dan dunia akan menyaksikan gugusan pulau-pulau negeri ini menjelma menjadi untaian kalung zamrud kembali yang menghiasi leher sejarah. (hal. 228)
Azzam yang ku kenal
Ternyata dalam kehidupanku, banyak ku temui Azzam-Azzam yang lain. Mereka kuliah dan mereka harus bekerja guna menghidupi/ membantu biaya sekolah adik-adiknya. Salah satunya adalah ia yang sekarang akan ku ceritakan. Sebut saja namanya adalah Satria. Semua yang ada pada diri Azzam imajiner ada pada dirinya. Mulai dari ayahnya yang meninggal saat ia masih kuliah (tahun pertamanya kuliah), tentang kuliahnya yang hampir mencapai 9 tahun. Dan ia harus bertahan hidup dengan bekerja sambil kuliah, bukan kuliah sambil kerja.
Sambil mendengar Toshiro Masuda, ku coba menuliskan pengalamanku bersama “Azzam”. Satria, ia hidup 5 bersaudara, ia sebagai anak pertama dan laki-laki. Pada awalnya, kehidupannya sama seperti kita. Ia dapat menempuh pendidikannya dengan baik tanpa halangan. Saat ia kuliah sang ayah yang menjadi penopang biaya pendidikannya harus lebih dahulu menghadap yang kuasa. Sementara ia masih memiliki 4 orang adik yang masih bersekolah dan akan memasuki pendidikan tinggi juga.
Ia harus merelakan kuliahnya menjadi sedikit tersendat-sendat karena ia juga harus bekerja menghasilkan uang yang akan ia kirimkan ke kampungnya yang akan digunakan sebagai biaya pendidikan adik-adiknya. Ibunya memang PNS, namun gajinya hanya cukup untuk biaya hidup sehari-hari. Kalaupun ada, ia pasti tidak mau menyusahkan ibunya. Ia akan bilang ke adik-adiknya agar meminta uang jajan kepadanya. Namun, jika ibu memberikan uang jangan di tolak, karena ada doa didalam pemberiannya ini.
Saat ia menyelesaikan pendidikan tingginya di universitas yang hampir 9 tahun itu. Ia pulang ke rumah guna membantu ibunya (itu alasannya). Di kampungnya ia bekerja apa saja guna membantu keuangan keluarga, terutama untuk membiayai pendidikan adik-adiknya yang sudah memasuki jenjang univesitas. Satu keyakinannya adalah rejeki itu sudah ada tinggal dijemput saja. Aku ikut merasakan betapa kerasnya ia mencoba memendam rasa. Terkadang ia memiliki beberapa keinginan, namun saat ia melihat keluarganya, ia langsung menepis semua keinginan itu. Seperti ia ingin melanjutkan pendidikannya di pesantren, sambil mencicil hafalan Qur’annya. Sekali lagi, saat ia terbayang wajah ibunya, ia langsung mengurungkan niatnya. Ah, berbakti pada orang tua itu lebih penting, katanya.
Di usianya yang sudah memasuki angka 29 tahun, ia juga belum menikah. Bukannya tidak ada yang mau, tapi setiap ada yang datang, ia menolaknya dengan halus, atau ia mencoba mencari-cari alasan agar dapat menolaknya. Saat ditanya alasannya ia hanya tersenyum dan berkata, “gak tau aku.” Jika aku membaca, ia masih merasa memiliki hutang untuk menggantikan posisi ayahnya di mata adik-adiknya, dan hal itu akan sulit ia lakukan jika ia menikah saat ini.
Saat menyaksikan film ketika cinta bertasbih kemarin, aku seperti melihat Satria yang memerankan Azzam. Ia menentang kerasnya hidup untuk hidup. Oh ya, satu lagi, Satria juga hampir berangkat ke Mesir, namun jatahnya diambil orang lain. Padahal tes yang diikutnya menyatakan bahwa ia lulus untuk berangkat ke Mesir tahun itu. Tapi tidak jadi. Seandainya ia menyaksikan film ini, aku yakin pasti ia akan merasakan bahwa film ini sebagai memori hidupnya yang diputar kembali. Hanya saja dengan setting tempat dan waktu yang berbeda.
MEMBANGUN ORGANISASI YANG KUAT
1. Berorientasi pada hasil
Produktivitas seseorang atau organisasi terlihat dari hasil-hasil kerja yang mereka lakukan. Hasil-hasil ini tentunya adalah hasil-hasil kerja positif. Banyak terjadi hari ini organisasi yang ada hanya banyak melakukan pekerjaan namun sedikit dalam output kerja mereka. Mungkin sebagian dari kita masih berorientasi pada proses. Ada jargon yang sering kita dengar bahwa, “yang paling penting adalah prosesnya, hasil itu ngikut sendiri.” Jargon ini ada benarnya dan tidak selamanya benar.
Memang kita harus memperhatikan proses dari pekerjaan kita, proses yang salah akan mempengaruhi hasil. Namun, melulu menikmati proses juga bukan pekerjaan yang produktif. Tetap ada target-target output dari pekerjaan yang kita lakukan. Tetap ada target-target pencapaian waktu penyelesaian pekerjaan. Kehidupan yang dinamis saat ini memaksa kita dan organisasi kita untuk cepat merespon apa-apa yang terjadi di lingkungan kita. Keterlambatan respon atas kejadian-kejadian di sekeliling kita akan menyebabkan organisasi kita semakin tertinggal dan ditinggalkan. Ingat bahwa waktu tidak pernah menunggu.
Kita harus mengubah pola pikir kita yang tadinya ‘baru’ berorientasi pada proses menjadi orientasi kepada hasil kerja. Hal ini dilakukan bukan berarti menghalalkan segala cara untuk mencapai semua target yang telah kita canangkan. Namun tetap memperhatikan input dari proses dan proses itu sendiri. Hanya saja, proses yang kita lakukan dipaksa (kalau boleh begitu bahasanya) untuk mencapai target output dan target waktu yang telah ditetapkan di awal. Kegiatan ‘memaksa’ di sini dapat dipandang sebagai upaya-upaya seperti memperbaiki kualitas input, memperbaiki kualitas proses pengerjaan dan perbaikan-perbaikan lainnya. Hal ini semata-mata dilakukan untuk mengikuti cepatnya gerak langkah lingkungan tempat kita tinggal saat ini.
2. Jangan menyepelekan data
Informasi adalah salah satu input dalam proses pengembangan pribadi atau organisasi. Informasi yang bertebaran di sekeliling kita adalah makanan yang harus di konsumsi demi meningkatkan daya saing organisasi. Orang-orang yang ketinggalan informasi dengan sendirinya akan tercecer dari persaingan global.
Data adalah penyusun informasi itu sendiri. Dari data yang akurat maka akan didapatkan atau dihasilkan informasi yang akurat. Terutama bagi organisasi bisnis, data adalah makanan yang harus selalu dikumpulkan dan dimakan. Dari data ini keluarlah strategi-strategi untuk memenangkan persaingan.
3. Pekerjakan orang-orang cerdas
Meletakkan orang-orang cerdas di posisinya adalah cara yang paling efektif dalam mencapai tujuan-tujuan organisasi. Banyak organisasi yang gagal beroperasi karena diisi oleh orang-orang yang tidak memiliki kemampuan di bidang tersebut. Untuk itu di awal sangat penting bagi organisasi untuk melakukan seleksi yang ketat dalam menempatkan orang-orang yang bekerja dalam organisasi.
Selain itu, orang-orang yang cerdas akan memiliki energi yang jauh lebih besar dibandingkan orang-orang biasa di sekelilingnya. Akan ada selalu diskusi yang hangat ketika kita sedang membahas sebuah masalah. Akan banyak ide-ide bermunculan saat mencari solusi atas masalah yang sedang dihadapi oleh organisasi.
Dan satulagi, orang-orang cerdas akan sangat mudah untuk beradaptasi dengan lingkungan yang senantiasa berubah. Mereka akan mudah untuk terus belajar dan belajar menghadapi tuntutan perubahan lingkungan.
4. Bangun loyalitas orang-orang anda
Organisasi akan maju jika diisi (selain orang cerdas) oleh orang-orang yang loyal. Namun, membangun loyalitas adalah sebuah pekerjaan yang sulit dan memakan waktu yang tidak sebentar. Dengan menerapkan trik ini, anda akan dapat membangun loyalitas orang-orang anda. Langkah yang harus anda ambil hanya satu, yaitu : Anda harus menunjukkan loyalitas anda kepada orang-orang anda. Bagaimana caranya? Caranya adalah hargailah keberadaan mereka, jangan menganggap diri kita lebih baik dan lebih tinggi dibandingkan mereka. Pandanglah mereka sebagai rekan kerja. Tindakan nyatanya adalah sering-sering ajak bawahan anda untuk makan bersama, olahraga bersama atau kalau perlu anda ajak ke rumah, ajak menginap dan makan di rumah anda. Dengan demikian mereka akan merasa sangat dihargai dan mereka akan balik menghargai anda sebagaimana yang anda lakukan padannya.
5. Ciptakan suasana kerja yang dinamis
Pada dasarnya, manusia itu senang dengan kehidupan yang menantang dan dinamis. Jika kita membaca ulang sejarah kehidupan kita, kita akan menemui sebuah fakta bahwa sejak masih berbentuk sel sperma, kita telah berkompetisi untuk mendapatkan satu tempat di dunia ini. Dan kita membuktikan bahwa kita berhasil untuk hadir di dunia. Namun, saat kita terlahir, iklim kompetisi itu terasa terus berkurang.
Sama ketika kita melakukan kerja-kerja di organisasi, ketika iklim kompetisi (yang positif tentunya) itu hadir di tengah-tengah organisasi, setiap anggota organisasi akan berusaha untuk ikut ambil bagian. Untuk membuktikan ini, anda perlu menguji cobakan teori ini.
6. Bangun jaringan
Jaringan kerja adalah penguat eksistensi kita. Sekuat apapun modal dan fisik kita, jika kita kerja sendiri, maka hanya kehancuran yang akan kita temui. Beton, dinding itu kuat karena ada jaringan antara pasir, semen, air, batu, besi dan batu bata. Jika saja air tidak hadir maka tidak akan ada bangunan yang berdiri. Begitu juga saat kita membangun sebuah tim atau organisasi.
Inilah enam bagian yang dapat kita lakukan guna menciptakan organisasi yang tangguh. Keenam ini adalah bagian kecil dari berbagai tips untuk membangun sebauh organisasi yang kuat. Yang perlu dilakukan saat ini adalah segera mengambil tindakan nyata guna mewujudkan apa-apa yang kita cita-citakan.
KESALAHAN FATAL YANG DILAKUKAN MANAJER (Disarikan dari Buku 13 Kesalahan Fatal yang Dilakukan Manajer)
Ternyata, yang terjadi adalah orang-orang yang “berhasil/ sukses” telah mengembangkan sebuah kebiasaan yang sangat berbeda dengan orang-orang yang “gagal”. Inilah perbedaanya. Bagi mereka yang berhasil mereka telah mengembangkan dalam dirinya sebuah kebiasaan yang baik, sehingga hal tersebut berpengaruh dalam kehidupan dan pekerjaannya.
Kebiasaan adalah serangkaian kegiatan yang saling bergantung satu sama lain. Serangkaian kegiatan itu adalah 1) pikiran, 2) perasaan, 3) kegiatan, 4) kebiasaan, 5) hasil. Artinya seperti ini, pertama, pikiran harus dapat diterima oleh akal budi (nurani) seseorang, lalu pada gilirannya pikiran itu akan mempengaruhi perasaannya, selanjutnya perasaan akan mempengaruhi kegiatan seseorang. Kegiatan yang terus dilakukan maka akan mempengaruhi kebiasaan seseorang. Kebiasaan akan berakhir pada hasil dari setiap individu.
Jika dalam pikirannya dipengaruhi oleh motivasi untuk berprestasi, maka dengan sendirinya ia akan membangun kebiasaan-kebiasaan berprestasi. Akhirnya akan dapat diprediksi, bahwa ia akan menjadi seseorang yang berprestasi. Begitu juga dengan sebaliknya, jika ia mengembangkan proses berpikir yang salah atau negative, maka dengan sendirinya akan terbangun kebiasaan yang negative dalam hidupnya. Dengan kebiasaan yang negative itu, ia akan memperoleh hasil yang negative.
Banyak manajer/ pimpinan organisasi yang tidak menyadari hal ini. Mereka sibuk mendorong bawahannya untuk menghasilkan banyak output (hasil). Namun, ia lupa untuk membangun kebiasaan berprestasi pada bawahannya. Ia tidak mencoba mengubah jalan pikiran bawahannya kepada jalan berpikir sebagai seorang pemenang. Akhirnya ia akan kehabisan tenaga dan produktivitas bawahannya tidak meningkat secara signifikan.
Oleh sebab itu, para manajer sering mengadakan sebuah seminar motivasi bagi karyawannya. Karena dalam seminar motivasi yang diberikan adalah sebuah penyadaran akan salahnya jalan pikir kita selama ini. Sehingga banyak dijumpai, setelah mengikuti seminar motivasi, para pekerja mengalami peningkatan produktivitas.
KESALAHAN FATAL YANG DILAKUKAN MANAJER (Disarikan dari Buku 13 Kesalahan Fatal yang Dilakukan Manajer)
Sering kali kita menjumpai manajer atau pemimpin organisasi yang kerap mengontrol jalannya organisasi setiap saat. Apalagi saat mereka (manajer) tidak sedang berada di antara anak buahnya. Mereka akan selalu menelpon untuk memastikan bahwa semuanya berjalan dengan baik. Bagi kita yang awam akan mengatakan bahwa mereka (manajer) tadi adalah orang-orang yang luarbiasa. Karena memiliki perhatian yang luarbiasa. Namun sadarkah mereka, bahwa mereka sebenarnya sedang menggali kuburan mereka sendiri. Karena kecengengan yang mereka “ciptakan” itu akan membuat tim mereka menjadi “lemah”.
Kita tidak pernah tahu berapa lama kita hidup atau kita tidak mungkin selamanya berada di antara orang-orang yang kita pimpin. Oleh karena itu manajer yang baik bukanlah mereka yang dapat menyelesaikan banyak masalah, tapi manajer yang baik adalah mereka yang banyak memberi masalah dan membimbing anak buahnya hingga akhirnya memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah-masalah lain yang muncul tanpa harus anda (manajer) langsung turun tangan.
KESALAHAN FATAL YANG DILAKUKAN MANAJER (Disarikan dari Buku 13 Kesalahan Fatal yang Dilakukan Manajer)
Pada intinya, mereka (baca:manajer) tidak mau disalahkan atas kegagalan yang terjadi. Mereka akan mencari dalih untuk melindungi diri. Mereka mencoba untuk lari dari tanggung jawab atas pekerjaan mereka.
Manajer atau pemimpin yang baik adalah mereka yang berani mengambil tanggung jawab atas semua yang terjadi. Jika terjadi sebuah kegagalan di dalam organisasi, maka mereka langsung mengintrospeksi diri, apakah ada kesalahan dalam pelaksanaan rencana dan lain sebagainya. Selanjut mereka langsung menyingsingkan baju dan melakukan apa yang terbaik dapat mereka lakukan untuk memperbaiki keadaan.
Aku dan Buku
Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai menyukai kegiatan membaca. Mungkin dikarenakan orang tuaku adalah guru, sehingga bukunya banyak di rumah. Buku yang ada tidak hanya buku pelajaran, namun buku umum, novel, roman, biografi dan sebagainya. Sejak kecil aku sudah dikenalkan dengan namanya buku. Hanya saja yang kulakukan saat itu belum berlangsung secara sistematis, masih serabutan.
Jenis bacaan yang paling ku sukai adalah jenis cerita. Hampir seluruh cerita di buku bahasa Indonesia berhasilku lalap semuanya. Begitu juga dengan sejarah, aku paling suka membaca buku sejarah dan komik.
Berkaitan dengan komik, ternyata komik merupakan salah satu pemicu untuk meningkatkan minat baca. Karena di dalam komik kita disuguhkan bacaan yang ringan dan menghibur. Adanya gambar membuat kita tidak cepat bosan, namun tidak mengurangi maknanya, serta membiasakan kita untuk berkenalan dengan kata-kata.
Beruntung sekali bahwa aku memiliki seorang teman, anak orang kaya yang selalu membeli komik setiap minggunya. Belum lagi koleksi buku ensiklopedinya, aku begitu beruntung menikmatinya gratis. Ya, Secara tidak sadar, komik-komik itu telah membantu untuk mencintai deretan kata-kata. Sampai akhirnya kami mendapat tugas untuk membaca buku cerita (dipinjamkan dari sekolah sewaktu SD). Waktu itu aku mendapatkan buku tentang biografi Michael Faraday, penemu dynamo.
Awalnya aku tidak suka, karena rata-rata temanku mendapatkan buku cerita anak atau dongeng. Ketidaksengajaan itu membuahkan kecintaan. Hasilnya tidak hanya aku mengenal tokoh yang telah membawa perubahan signifikan di dunia, selain itu aku juga mulai menyukai membaca buku sejarah, terutama biografi orang-orang yang telah memberikan sumbangsih positif di dunia.
Kisahku dengan buku bermula saat aku mendapatkan tugas menjadi wakil sekolah dalam training kepemimpinan di Bandar Lampung. Dalam training ini kami mendapatkan uang saku Rp. 20.000 per hari dan training tersebut berlangsung 5 hari. Jadi, uang saku yang ku kumpulkan selama 5 hari adalah Rp. 100.000. Selesai training uang tersebut ku belikan al qur’an kecil agar mudah dibawa ke mana-mana dan beberapa buah buku. Buku-buku yang ku beli di Bandar Lampung itulah buku-buku pertamaku (waktu itu aku sudah kelas 2 SMU). Sewaktu SMU aku berkenalan dengan majalah Tarbawi.
Uang saku yang diberikan orang tua, ku simpan, kusisihkan dan kubelikan majalah yang isinya ringan namun sarat makna, Tarbawi. Lebih dari 60 edisi berhasil ku kumpulkan selama aku SMU. Kisahku berlanjut saat aku melanjutkan sekolah di Universitas Sumatera Utara, Medan. Di Medanlah ku kumpulkan buku satu demi satu hingga sekarang. Aku punya cita-cita untuk memiliki sebuah perpustakaan dengan koleksi ribuan judul buku, perpustakaan yang tidak hanyaku nikmati sendiri, orang-orang disekelilingkupun bisa menikmatinya.
Satu hal yang ku yakini bahwa, banyak tokoh-tokoh perubahan di dunia ini, mereka adalah orang-orang yang dibesarkan oleh buku. Siapapun dia, termasuk satu di antaranya adalah Michael Faraday, seorang anak miskin yang harus bekerja untuk dapat melanjutkan kehidupannya. Ia bekerja di toko buku, dan di sana lah ia mendapatkan banyak inspirasi tentang perubahan. Akhirnya ia dikenal hingga sekarang, teorinya masih berlaku dan menjadi bahan diskusi di sekolah-sekolah hingga ruang-ruang kuliah di universitas terkenal dunia. Semua berawal dari buku.
Jalan Sunyi Seorang Penulis
Buku ini seperti sebuah mini biografi tentang seorang penulis muda. Dalam buku ini digambaran bahwa penulis muda –bertalenta- itu adalah sosok yang kurus, kumal, tidak terurus dan tinggal di rumah kontrakan yang tidak kalah kumuhnya.
Dalam pengantar “Mengapa aku transkripsi ini kususun?” si Transkriptor menceritakan usahanya untuk menulis sebuah seri penerbitan idealis dengan tema : Proses Kreatif Anak Muda dalam Dunia Buku dan Aksara. Ada beberapa nama yang telah dipilih, dan si penulis muda yang kumal itu masuk satu di antaranya. Dalam pengantar si transkriptor menuliskan bahwa ia sudah jengah menghadapi penulis “sialan” ini. Mulai dari sms perkenalannya yang tidak dibalas-balas. Sampai sikapnya yang aneh saat mereka bertemu di Yogyakarta. Namun satu energi besar yang ia rasakan saat ia membaca sebuah berita di pojok sebuah Koran yang memberitakan bahwa penulis muda –bertalenta- itu tewas di tabrak sebuah bus pariwisata di depan gang kontrakannya.
Kulakukan ini semuanya deminya, yang bukan orang besar, yang hanya orang kecil. Aku sudah tidak percaya dengan Socrates saat ia mengatatakan hanya orang-orang besar yang patut menjadi tragedi untuk menjadi teladan keagungan martabat, sementara rakyat kebanyakan hanya pantas menjadi tokoh-tokoh komedi, untuk menjadi bahan olok-olok. Buku ini adalah jelmaan transkripsi yang tersimpan itu. Hanya tulisan tentang orang kecil dan ambisi yang tak kalah kecilnya: ingin tetap menulis, ingin tetap membaca dan ingin tetap bekerja, dan bersiap-siap hidup miskin. (Mengapa aku transkripsi ini kususun?, hal 24)
Seperti telah saya katakan di atas bahwa buku ini adalah sebuah mini biografi seorang penulis muda yang tewas saat masih muda. Bagaimana ia mengawali kehidupannya dengan kegiatan tulis menulis, buku dan penerbitan. Di awali dari kehidupannya di sebuah kampung pedalaman yang tidak pernah mengenal yang namanya buku. Kemudian datang seseorang dari kota yang membawakan untuknya sebuah buku, ya buku. Untuk waktu yang lama ia terkesima dengan benda pemberian orang kota itu.
Pada akhirnya ia berkesempatan untuk menimba ilmu di sebuah kota pendidikan di negeri ini. Di kota inilah interaksinya semakin intens dengan buku. Perpustakaan daerah adalah tempat yang paling nyaman baginya. Dibutuhkan waktu 45 menit naik angkot menyusuri kampung-kampung yang sepi, ia bertanya dalam hati apakan perpustakaan memang harus di pinggirkan? Gedung perpustakaan ini lebih mirip rumah mewah tak berpenghuni. (hal 65)
Aku tinggal disebuah asrama pengap, di dunia asrama ini aku merawat dengan setengah girang kesukaanku dengan buku. Hanya satu dua orang yang juga mencintai buku di dalam asrama itu. Ah, begitu sedikitnya, begitu minimnya orang mencintai buku di samping kanan dan kiriku. ( hal 90 )
Penulis muda ini menceritakan kepada transkriptor bahwa ia belajar menulis dari sebuah majalah di kampusnya. “Dengan jalan yang tidak lazim –karena memaksa – aku berhasil masuk dalam organisasi kemajalahan. Itu berarti satu langkah untuk mengenal dunia tulis menulis mulai terkuak. Sebab majalah akan menerbitkan tulisan. Dan menulis memerlukan bacaan yang banyak diserta pengamatan di lapangan yang jeli. Pilihan yang tampaknya sudah pas, sudah klop, sudah oke”. (hal 99)
Begitulah penulis muda itu menjalani kehidupan tulis menulisnya. Ia mengawalinya dari sebuah buku. Ia membangun kecintaannya pada kegiatan membaca. Ia relakan waktunya habis untuk membangun sebuah dunianya sendiri melalui bahan bacaan yang ada di dalam buku. Ia biarkan dirinya terbang ke dunia antah berantah yang diciptakan pikirannya sendiri saat ia membaca. Kemudian ia membangun sebuah kehidupan baru menjadi penulis. Ya menjadi penulis. Ia lakukan itu karena ia ingin menciptakan dunianya sendiri. Ia bosan dengan orang-orang yang menganggapnya aneh, kurang pergaulan dan lain sebagainya.
Dikehidupan selanjutnya di dunia tulis menulis, ia bersentuhan dengan Koran dan penerbitan buku. Di sana ia terus mengasah kemampuan menulisnya. Dalam sebuah perenungannya yang panjang. Ditemani “hantu” karl marx ia memunculkan sebuah manifesto untuk para penulis muda. Manifesto itu berbunyi “Ingat-ingatlah kalian hai penulis-penulis belia; bila kalian memilih jalan sunyi ini, maka kalian camkan baik-baik adalah terus membaca, terus bekerja, terus menulis dan bersiap untuk hidup miskin. Bila empat jalan itu kalian terima dengan lapang dada sebagai jalan hidup, niscaya kalian tidak akan berpikir untuk bunuh diri cepat.”
Itulah dia, penulis muda bertalenta tewas di terjang sebuah bus pariwisata, ia hanya memiliki mimpi kecil, untuk terus membaca, terus menulis dan bersiap untuk hidup miskin. Satu lagi ia selalu terngiang pesan Pramudya Ananta Toer, Menulislah. Selama engkau tidak menulis, engkau akan hilang dari dalam masyarakat dan dari pusaran sejarah. (Rumah Kaca; hal 325). Kotabumi, 8 April 2009
MENINGGALKAN MICROSOFT UNTUK MENGUBAH DUNIA “Kisah Menakjubkan Seorang Pendiri 3600 Perpustakaan di Asia”
Buku ini dimulai dengan kata-kata yang diucapkan pengurus sekolah di Nepal saat ia berlibur ke himalaya. “Barang kali pak, suatu hari nanti anda datang dengan buku-buku”. Ketika itu, john mengunjungi sebuah sekolah, namun ia tidak menemukan perpustakaan di sekolah tersebut. Saat ia bertanya dimana letak perpustakaannya, seorang guru menunjukkan sebuah ruangan –tanpa buku- yang kurang terawatt, dan terdapat sebuah lemari yang terkunci. Lemari dibuka dan terdapat beberapa buku usang –kebanyakan peninggalan pendaki himalaya- dan tidak layak dibaca oleh anak-anak.
Sembilan tahun sudah John membesarkan Microsoft. Ia bertanya pada dirinya, hasil dari pekerjaannya selama ini. Karir dan uang. Ia mulai merasa apa yang dikerjakannya ini sebagai sesuatu yang membosankan. Ia tidak lagi mempunyai waktu untuk sekedar mengembangkan hobi atau membangun sebuah hubungan yang baik dengan orang-orang terdekatnya, keluarga dan teman. Waktunya habis dari pertemuan ke pertemua. Dari Sidney, Hongkong, China, Malaysia dan sebagainya. Namun apa yang ia dapatkan untuk dirinya. Hanya karir dan uang belaka. Perjalanan ke Nepal itulah yang akhirnya membuka matanya, tentang hidup yang berkualitas.
Harus Memilih
Cukup lama pergulatan dalam batin John. Ia terus menimbang-nimbang kehidupannya setelah Microsoft. Sebagai manusia normal tentunya adalah sebuah kekhawatiran yang wajar, saat kita memiliki pekerjaan yang bagus, karir yang baik, kemudian kita tinggalkan secara tiba-tiba. Sementara di sisi yang lain, kita belum memiliki sebuah pekerjaan baru yang akhirnya akan menunjang kehidupan kita selanjutnya. Namun, john seperti mendapatkan ilham yang selalu menguatkannya untuk segera meninggalkan Microsoft dan memulai kehidupannya di sini, di Nepal.
John menuliskan pergulatan batinnya, “Apakah pekerjaan saya sungguh-sungguh penting? Satu tahun yang sukses akan membantu sebuah perusahaan kaya semakin kaya. Saya akan menambahkan sejumlah uang pada rekening bank yang telah melibihi apapun yang mungkin saya impikan pada usia 35. Suara batin saya menggerutu, Lihat kamu seharusnya mengakui kepada dirimu sendiri bahwa Microsoft akan kehilangan kamu selama satu atau dua bulan. Seseorang akan dengan cepat mengisi tempat kosong itu. Itu berarti kamu seakan-akan tidak pernah bekerja di sana. Tanyakan pada dirimu, apakah ada ribuan orang mengantre untuk membantu desa-desa miskin membangun sekolah dan perpustakaan? Tidak ada yang melakukan pekerjaan itu. Kamu harus bangkit menghadapi tantangan ini.” (Hal. 50)
Hidup ini pilihan, dan siapa yang bersungguh-sungguh dengan pilihan hidupnya, siapapun ia maka Tuhan akan memberikan jalan kepadanya sehingga ia akan menemukan dirinya sebagai orang yang berhasil dalam mewujudkan pilihan hidupnya tersebut. Keyakinan itulah yang ingin ditularkan John kepada kita semua yang telah membaca buku ini. Walau pada awalnya ada kekhawatiran tentang kehidupannya. Namun yang perlu terus ditanamkan dalam diri adalah semangat untuk terus optimis dan antusias.
Seperti virus sikap antusias dan optimisme akan terus menular dan menyebar ke orang-orang disekitar kita. Pribadi yang memiliki pengarus adalah pribadi yang memiliki mimpi besar dan ia terus berusaha untuk mewujudkan mimpi itu, apapun resikonya. Pengaruhnya akan mendorong orang-orang disekeliling kita untuk ikut serta membantu kita dalam mewujudkannya.
Manajemen Organisasi
Dalam buku ini juga, John membagikan ilmu bagaimana menjalankan sebuah organisasi nirlaba yang mendunia. Sebenarnya, dalam menjalankan organisasinya -yang bernama room to read- John mengadopsi budaya-budaya yang berkembang selama ini di Microsoft. Budaya yang akhirnya membesarkan Microsoft sendiri. John mengatakan ada 4 budaya yang ia pelajari di Microsoft.
Pertama, fokus kuat pada hasil. John menuliskan, “Saya memutuskan satu cara untuk membuat room to read berbeda adalah dengan berbicara tentang dan sering-sering memperbarui hasil-hasil kami. Daripada berbicara berbicara tentang apa yang akan kami lakukan, saya justru akan berbicara tentang apa yang telah kami lakukan. Hal-hal nyata: jumlah sekolah yang dibuka, jumlah buku yang telah didonasikan, berapa jumlah anak perempuan yang mendapatkan beasiswa”. John yakin bahwa, orang-orang yang mendonasikan uang mereka akan merasa senang, karena uang yang mereka donasikan benar-benar bermanfaat.
Kedua,digerakkan dengan data. Ada sebuah keyakinan di Microsoft bahwa segala sesuatu harus diukur dan bahwa setiap manajer bisnis mestinya mempelajari setiap keeping data yang tersedia mengenai bisnisnya. Setiap manajer di Microsoft harus mengukur sejauh mana pendapat mereka dan sejauh mana pendapatan para pesaingnya. Sehingga dengan itu mereka dapat memetakan posisi mereka dibandingkan pesaing.
Ketiga, pekerjakan orang-orang cerdas. John berkeyakinan bahwa, keputusan apapun yang didapat dari debat bersemangat akan lebih baik daripada keputusan yang diambil menurut perintah sederhana atasan. Orang-orang yang cerdas akan selalu bersemangat ketika dihadapkan pada sesuatu yang baru dan menantang.
Keempat, bangun loyalitas anggota. Untuk membangun loyalitas tim yang anda miliki, anda harus loyal kepada mereka terlebih dahulu. Atau tunjukkan bahwa anda memiliki loyalitas kepada mereka semua dengan cara lebih memanusiakan manusia. Walaupun kita adalah pemimpin atau atasan, tetap hadirkan sisi kemanusiaan saat bersama dengan bawahan kita.
Penutup
Johann Wolfgang von Gothe pernah menulis tentang simponi ke lima Beethoven “Seandainya seluruh pemusik di dunia memainkan gubahan ini secara serempak, planet bumi akan lepas dari porosnya.”
Silahkan baca, saat anda galau, anda akan mendapatkan jalan keluar. Itu yang saya rasakan.
Anis Matta : Serial Cinta
Seperti angin membadai. Kau tak melihatnya. Kau merasakannya. Merasakan kerjanya saat ia memindahkan gunung pasir di tengah gurun, atau meransang amuk gelombang di laut lepas. Atau meluluhlantakkan bangunan-bangunan angku di pusat
Seperti banjir menderas, kau tak kuasa mencegahnya. Kau hanya bisa ternganga ketika ia meluapi sungai-sungai, menjamah seluruh permukaan bumi, ia menyeret semua benda angkuh yang bertahan di hadapannya. Dalam sekejap ia menguasai bumi dan berengkuhnya dalam kelembutannya. Setelah itu ia kembali tenang :seperti seekor harimau kenyang yang terlelap tenang. Demikianlah cinta. Ia ditakdirkan jadi makna paling santun yang menimpan kekuasaan besar.
Seperti api menyala-nyala. Kau tak kuat melawannya. Kau hanya bisa menari di sekitarnya saat ia mengunggun. Atau berteduh saat matahari membakar kulit bumi. Arau meraung saat lidahnya melahap rumah-rumah, kota-kota, hutan-hutan. Dan seketika semua jadi abu. Semua menjadi tiada. Seperti itulah cinta.
(Cinta Tanpa Definisi)
Begitulah cinta, ia hadir didalam hati, tanpa wujud, hanya makna santun yang bergemuruh seperti angin badai, seperti banjir menderas, seperti api yang menyala. Ia menjadi kekuatan besar dalam diri manusia, yang mengubah si pemalas menjadi rajin, si pelit menjadi pemurah. Cinta bekerja dengan cara yang tidak dapat di mengerti oleh akal pikiran kita.
Cinta adalah kata yang mewakili seperangkat kepribadian yang utuh: gagasan, emosi dan tindakan. Gagasannya adalah menjadikan orang yang kita cintai senantiasa tumbuh dan berkembang. Ia juga emosi yang menggelora karena seluruh isinya dalah keinginan baik. Tapi semua itu mengejewantah dalam bentuk tindakan nyata. (Pekerjaan Orang Kuat).
Semangat cinta adalah semangat penumbuhan. Menumbuh kembangkan pribadi dan orang yang kita cintai. Cinta adalah semangat menumbuhkan kebajikan-kebajikan dalam pribadi dan pribadi yang kita cintai. Sehingga ketika kita mencintai yang muncul tidak hanya cerita-cerita melankolik yang membuat kita jadi pribadi yang lemah, namun cerita yang muncul adalah cerita tentang semangat perubahan, semangat menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih berkualitas.
Dalam buku ini juga di berikan bagaimana menumbuhkan kesadaran akan pentingnya sebuah “misi besar” dalam mencintai. Bagaimana memanajemen cinta jiwa (cinta pada manusia) sehingga tidak hanya berujung pada sebuah romantisme yang melemahkan jiwa. Anis Matta menuliskan dalam Orang-Orang Romantis, “Orang-orang romantis selalu begitu: rapuh. Bukan keadaan romantisme menharuskan mereka rapuh. Tapi di dalam jiwa mereka ada bisa besar. Mereka punya jiwa yang halus. Tapi kehalusan itu berbaur dengan kelemahan. Dan itu bukan kombinasi yang bagus. Sebab batasnya jadi kabur: kehalusan dan kelemahan jadi tampak sama.” Seperti kisah Qais dan Layla.
Lanjut Anis Matta, Tapi inilah persoalan dalam ruang cinta jiwa. Jika cinta jiwa itu berdiri sendiri, dilepas sama sekali dari misi yang lebih besar, maka jalannya memang biasanya kesana : romantisme biasanya mengharuskan mereka mereduksi kehidupan hanya kedalam ruang kehidupan mereka berdua saja, karena disana dunia seluruhnya hanya damai. (Orang-Orang Romantis).
Ketika cinta jiwa berbenturan dengan sebuah Misi Ketuhanan yang mengharuskan adanya perpisahan dan peperangan, jiwa cenderung melemah dan menjadi “frustasi”. Tapi, lihatlah saat cinta jiwa telah selaras dengan cinta misi (Cinta yang tidak terbatas hanya pada mencintai secara fisik. Namun, jauh dari itu semua, bagaimana semangat cinta ini ditumbuhkan untuk mencapai sebuah keridhoan Allah di dunia dan akhirat), maka ia akan menghadirkan sebuah kekuatan jiwa yang memungkinkan mereka (orang-orang romantis) tidak menjadi korban karena rapuh. Seperti ketika syahidnya Syekh Abdullah Azzam disampaikan kepada istri beliau, janda itu hanya menjawab, “alhamdulillah, sekarang dia mungkin sudah bersenang-senang dengan para bidadari.”
Cinta misi inilah yang menjadi tema sentral dalam buku ini. Bagaimana memunculkan, menumbuhkan dan merawat cinta yang berujung pada misi besar kehidupan. Dengan mengangkat kisah-kisah agung dari pribadi-pribadi agung di masa Rasulullah dan para sahabat, kemudian dikaitkan dengan kondisi kekinian akhirnya muncul tesis-tesis tentang kekuatan cinta yang mampu mengubah kualitas hidup seseorang dan membangun sebuah peradaban. Selamat membaca.
Karena Kamu Basi, Aku Datang**) (Sebuah Coretan Atas Buku Excuse Me Your Life Is Waiting karya Bambang Q Anees)
(Ibnu Adam Aviciena/ Penulis)
Who am i?
Siapa saya? Pertanyaan sederhana ini mestinya senantiasa kita pertanyakan untuk membangkitkan kesadaran dalam hidup ini. Apa yang berharga dari diri saya? Seandainya ada orang yang membutuhkan kita, kita tidak lagi bingung kalau ternyata tidak ada apa-apa di dalam diri kita yang dapat dihargai. Dengan selalu membangkitkan kesadaran, siapa saya? Ini akan menjadikan diri kita enggan untuk menunda-nunda pekerjaan, kebiasaan mengatakan “masih ada waktu” sedikit demi sedikit akan terkikis. Hal ini akan hadir jika kita menyadari, “kapan dan dimana kita berada sekarang.”
Masukilah ruang dan waktumu (Socrates)
Mengapa saya menangkat sebuah pertanyaan dari Socrates ini? Karena saat ini kita sedang tidak berada pada ruang dan waktu kita sendiri. Saat ini kita berada pada ruang dan waktu orang lain. Artinya sekarang kita hanya mengikuti kebiasaan orang-orang disekitar kita. Oleh sebab itu, kita tidak berada di ruang dan waktu kita sendiri. Saat kita berada di ruang dan waktu kita sendiri, maka saat itu kita benar-benar berkuasa atas apa yang kita lakukan. Kita tidak peduli dengan perkataan orang yang mencemooh pekerjaan kita dan saat itu kita benar-benar berbeda dengan orang lain. Itulah yang disebut dengan berada pada ruang dan waktu kita sendiri. Dengan kata lain, kita menyadari keberadaan kita, “kapan dan dimana kita berada sekarang.”
Banyak diantara kita mungkin tidak memiliki kesadaran saat berjalan di muka bumi ini. Dalam buku Kamu Gak Bego Kok! Dikatakan bahwa kesadaran itu dibedakan atas 3 jenis. Pertama adalah kesadaran magis, yaitu kesadaran yang hanya pasrah dengan kenyataan, tanpa usaha, tanpa pertanyaan, sehingga rela dalam kehidupan yang membuat susah. Kemudian kita tersadar bahwa kesusahan itu adalah akibat kelicikan kekuasaan. Kita berontak, lantaran kurang iman, kita pun larut/ meniru kelicikan itu. ini yang disebut sebagai kesadaran naif, disatu sisi kita membenci, namun disisi yang lain kita melakukan hal – hal yang dibenci itu. pada saat kita mencapai kesadaran kritislah kita akan menemukan cahaya yang menuntun kita ke arah yang benar. (hal.23)
Ruang dan Waktu kita
“Sebentar ribut dan langsung melupakannya.” Inilah yang menjadi kebiasaan kita, sebentar membicarakannya dan kemudian langsung melupakannya. Orang-orang terkena penyakit amnesia, penyakit lupa atas apa yang baru saja terjadi. Tidak ada keseriusan dalam melihat kejadian sekitar akan membuat kita cepat melupakan apa yang baru saja terjadi. Lebih tepatnya disebut sebagai tindakan penyepelean masalah. Hal ini akan berbeda saat kita sedang mengintip. Mengintip dari lubang yang kecil, kita akan berusaha keras untuk melihat. Keras sekali usaha yang kita lakukan, dan hasilnya memang kita akan senantiasa ingat akan apa yang baru saja kita lihat itu. dengan kata lain saat mengintip kita tidak menyepelekan masalah.
Mengapa ini terjadi? Jawab benyamin Franklin adalah, karena kita terjebak pada kemoderenan. Ciri orang modern adalah mengejar kemajuan sampai mati. Khususnya kemajuan teknik. Kalau di kampung kita belum ada mall, maka kampung kita belum modern. Kemajuan diukur dengan materi. Karena orang modern terus menerus mengejar kemajuan yang tidak berujung. Ibarat mengejar batas langit (cakrawala). Mengapa orang mengejar kemajuan? Jawabnya adalah karena kemajuan itu agung dan keren, sebaliknya diteriaki norak, kuno adalah menyakitkan.
Lalu kita mengejar kemajuan itu dengan usaha yang sungguh-sungguh. Waktu kita habis untuk itu. dan lebih dari itu kitapun main sikut kiri dan kanan untuk mendapatkan yang kita cari. Yang ada dalam pikiran saat itu adalah bagaimana dapat terus tampil modern dengan cara apapun.
Lebih mirip arloji
Orang-orang modern itu, menurut Benjamin Franklin lebih mirip dengan jarum arloji. Kita tentu pernah melihat jarum arloji. Ia berputar dari angka 1 ke 2 dan seterusnya sampai akhirnya ia mengulangi lagi perbuatannya itu. terus menerus. Dan parahnya lagi saat berputar itu ia tidak memikirkan apapun. Yang ada dalam pikirannya adalah bagaimana terus berputar. Saat orang lain jalan-jalan ke mall, malu jika tidak ikut. Pokoknya apa yang dikerjakan kebanyakan orang, di situ ia akan ikut, tanpa tujuan. Tidak ada upaya dari dirinya untuk melawan. (takut dibilang norak dan kampungan).
Bagaimana jalan keluarnya? Patahkan jarum arlojimu. Mulai saat ini jangan hanya mengikut kebanyakan orang. Kita memiliki langkah hidup sendiri yang hanya kita yang dapat menikmatinya. Saat lahir kita sendiri, matipun nanti dikubur sendiri. Jadi, mengapa harus mengikuti kebiasaan orang kebanyakan, kalau akhirnya kamu sendiri yang menanggung akibat buruknya. Buang perasaan harus sama dengan orang lain. Sama dalam berpakaian, kebiasaan dan lain-lain. Memang sama adalah fatwanya orang modern. Akhirnya kita akan kehilangan jati diri kita sendiri. Kita hanya bayang-bayang.
Coba tanyakan pada diri kita sendiri, apakah kita sama dengan orang lain? Masa lalu? Keluarga? Dan lain-lain. Jika masih sama artinya kita sudah kehilangan kekhasan diri yang diberikan Allah kepada kita. peliharalah kenangan masalalu kita. kenangan itu yang akan membuat kita tidak lupa diri. Dengan begitu kita tidak perlu berputar-putar mengikuti orang-orang. Kita sudah memiliki tujuan yang akan kita tuju nantinya.
Teruslah mencari
Jangan pernah berhenti dalam mencari kesejatian, kesadaran kritis yang telah kita dapatkan bukan berarti akhir dari perjuangan kita. Hidup ini bukan semudah mengupas salak atau jeruk yang sekali kupas kita sudah menemukan buahnya yang manis dan langsung melumatnya hingga habis. Mencari kesejatian itu ibarat mengupas bawang, kita tidak akan menemukan akhir dari usaha kita mengupas bawang tersebut. Sampai akhrinya kita tidak mendapatkan apa-apa.
Mintalah fatwa kepada hatimu (hadist). Pertanyakan kepada hati kita, apakah kita merasa nyaman dengan kehidupan kita saat ini. Jika belum, cari dan terus mencari sampai kita menemukan sesuatu yang menenangkan hati kita.
Kamu basi, aku datang
Karena kamu basi, maka aku mendatangimu. Basi? Kalau kita melakukan tindakan yang hanya mengulangi tindakan orang lain, atau sekedar ikut-ikutan, itu artinya basi. Persis makanan yang sudah dijamah orang lain, pastilah basi namanya. Apakah kita suka makanan basi? Pasti tidak bukan, jadi mengapa kita melakukan tindakan, omongan, dan gaya berpakaian yang basi. Basi di sini adalah perbuatan yang tidak jelas tujuannya dan jauh dari nilai-nilai kebenaran.
Susun Tujuan hidupmu
Terakhir, saya hanya berpesan hidup hanya sekali, jangan diisi dengan kegiatan yang basi. Temukanlah sesuatu yang uniq dari dirimu. Kamu berbeda dengan orang lain dan jangan mau disamakan. Anak kembar sekalipun enggan disama-samakan begitu juga kita. Buka mata dan telinga kita, lahirkan kepedulian bagi sesama. Banyak-banyak membaca tulisan-tulisan kehidupan yang ada di sekeliling kita. dengan itu semua akan memperkaya diri kita dengan hal-hal yang luarbiasa.
**)Disampaikan pada acara bedah buku “Excuse Me Your Life Is Waiting”
MENJAGA TEMPO
Aku membaca buku yang ditulis John Wood, seorang executive di perusahaan yang bernama Microsoft. Judulnya, “Leaving Microsoft, To Change The World”, dan buku ini belum selesai ku baca. Namun ada beberapa catatan awal yang mungkin perlu kita pelajari bersama.
Aku baru sampai di Bab 5(
Optimisme ini terlihat dari kepercayaan diri John saat mendapatkan tugas menyusun strategi pemasaran (karena john adalah direktur pemasaran Microsoft Asia), untuk system e business atau bisnis elektronik atau sekarang lebih di kenal sebagai bisnis online. Pesaing utama Microsoft, IBM, telah menggelontorkan dana miliaran dolar amerika untuk memenangkan pasar. Dan john mendapatkan tantangan itu dari direktur pemasaran Microsoft. John berkata kepada pimpinannya yang sudah terlihat ketakutan itu dengan sebuah kalimat, “Anda tenang saja, kita akan memenangkan pertarungan ini.” Dan terbukti dalam tempo setahun, mereka memenangkan persaingan dengan IBM.
Aku jadi bertanya, “Mengapa orang-orang di barat
Temanku menjawab, “itu semua karena mereka mampu MENJAGA TEMPO, tempo dari optimisme mereka, tempo kepercayaan dirinya, tempo pikiran positif-nya. Dalam artian mereka menjaga tempo itu pada kisaran yang stabil.”
Kata kunci kedua yang ku temukan, “STABIL”. Mereka-mereka itu (orang-orang seperti John Wood) telah berhasil menciptakan suasana hati dan pikiran optimis pada tempo yang stabil. Memang ada fluktuasi, namun mereka mampu terus menjaga agar saat kondisi semangat sedang turun, mereka dapat segera tersadar dan kembali pada jalur yang sebenarnya.
Hal yang berbeda terjadi pada diri kita di
Untuk itu perlu bagi kita untuk menjaga kondisi pikiran dan jiwa kita untuk terus optimis dan berpikir positif. Caranya adalah carilah lingkungan yang dapat menjaga kondisi jiwa dan pikiran kita untuk terus optimis dan positif. Lingkungan yang buruk kurangi atau mungkin tinggalkan.
Menikmati Demokrasi (Anis Matta)
Ini adalah sebagian dari isi tulisan “menikmati demokrasi” yang juga merupakan judul kumpulan tulisan dari M. Anis Matta. Ketika membaca karya-karya anis matta, kita akan diberikan sebuah sudut pandang yang berbeda dari biasanya. Namun tetap memiliki “misi” yang jelas dalam “menggiring” pikiran masyarakat menuju pemikiran yang “islami”.
Menikmati demokrasi adalah salah satu dari banyak kumpulan tulisan yang telah diterbitkan. Memang, buku-buku anis matta hanya merupakan kumpulan tulisan di media massa. Disamping tema-tema lain yang sangat spesifik.
Dalam buku ini, mencoba menjelaskan bagaimana kita (baca: agen dakwah) membaca situasi, kemudian memanfaatkan situasi guna memenangkan dakwah itu sendiri. Secara runut dan terperinci, anis matta menuliskan strategi-strategi yang dapat kita lakukan untuk memanfaatkan demokrasi (pada awalnya) guna mencapai kemenangan dakwah (pada akhirnya).
Strategi-strategi itu tertuang seperti pada paragraf, “Yang kemudian harus kita lakukan adalah bagaimana mengintegrasikan kebenaran dengan legalitas. Bagaimana membuat sesuatu yang salah dalam pandangan agama, menjadi tidak legal dalam pandangan hukum positif. Secara terbalik, itu pulalah yang dilakukan para pelaku kejahatan. Para mafia narkoba harus mencuci uang agar bias menjadi hak milik yang legal.” (hal 33)
Selanjutnya, “Maka, penetrasi kekuasaan dalam Negara demokrasi harus dilakukan dengan urutan-urutan begini. Pertama, menangkanlah wacana public agar opini public berpihak kepada kita. Inilah kemenangan pertama yang mengawali kemenangan-kemenangan selanjutnya. Kedua, formulasikan wacana itu ke dalam draft hukum untuk dimenangkan dalam wacana legislasi melalui lembaga legislative. Kemenangan legislasi ini menjadi legitimasi bagi Negara untuk mengeksekusinya. Ketiga, pastikan bahwa para eksekutif pemerintah melaksanakan dan menerapkan hukum tersebut.” (hal 33)
Anis matta mencoba membaca realitas kemudian menyusunnya dalam kerangka strategi untuk memenangkan dakwah. “Ada kebebasan yang kita nikmati bersama, tapi ada cara tersendiri untuk menghancurkan kemungkaran dengan penetrasi kekuasaan Negara. Anggaplah ini sebagai seni yang harus dikuasai para politisi dakwah sekarang.” (hal 34)
Maryamah Karpov: Mimpi-Mimpi Lintang (bag 2)

Malam ini tanggal 10 desember 2008 pukul 22:27, ku selesaikan kegiatan membaca buku ke empat dari tetralogi lascar pelangi; Maryamah Karpov ; mimpi-mimpi lintang. Pada tulisanku yang sebelumnya aku sudah menceritakan sedikit tentang buku ini, mulai dari penampakan buku yang sedikit lebih tebal, harganya sedikit agak mahal, dan kualitas kertas yang lebih baik, artinya kita tidak akan cepat lelah membaca buku ini.
Ku lanjutkan
Setelah 16 mei, Arai menikah dengan belahan jiwanya yang sejak dulu membencinya. Zakiah Nurmala. Ternyata itulah yang menyebabkan Arai berubah menjadi pria yang tampan. Ada aura Cinta yang membahana di dalam dadanya. Beberapa waktu sebelum Ikal pulang, datang sepucuk surat yang isinya penerimaan Zakiah atas seluruh pengorbanan absurd cinta Arai kepadanya. Selidik punya selidik, ternyata bibi Zakiah terus memperhatikan perilaku Arai, dan di tarik sebuah kesimpulan bahwa Arai : Layak untuk dipertimbangkan. Selain itu, Arai sudah dipanggil kembali ke Prancis menyelesaikan penelitiannya, dan ia mendapat promosi langsung menyelesaikan S3-nya di Inggris (Colchester). Bersama Zakiah Nurmala ia pergi ke Inggris.
Suku Melayu
Suku melayu adalah salah satu suku terbesar di Indonesia. Mendiami hampir seluruh wilayah sumatera, terutama pesisir barat Sumatera. Dan suku melayu memiliki sebuah keunikan dibandingkan suku yang lain di Indonesia. Di dalam buku ini Andrea menceritakan dengan sedetail-detailnya. Mulai dari sifat keras kepala, membual, imajinasi berlebihan, senang bertaruh dan senang memberi gelar-gelar buruk kepada orang lain. Mungkin hampir separuh buku ini banyak menyinggung sifat asli suku melayu yang terekam dalam memori Ikal.
Seperti, tidak mau ke dokter, padahal, Ketua Karmun telah menghabiskan waktunya (8 tahun) untuk mendesak pemerintah Sum-Sel untuk mengirimkan dokter ke kampungnya. Alhasil, datanglah dokter yang cantik, Budi Ardiaz Tanuwijaya, seorang dokter gigi. Walaupun dokter diaz membawa peralatan modern, namun tak satupun orang-orang di kampung ikal mau berobat ke dokter ini. Mereka lebih senang berobat ke A Put, dukun gigi yang menyembuhkan penyakit pasiennya cuku dengan balok, paku dan palu.
Kegiatan membual juga sudah menjadi jamak, bahkan, seorang pembual diundang khusus untuk memberikan bualannya di tengah-tengah masyarakat (warung kopi). Walaupun mereka tahu bahwa semua itu Cuma bualan, namun orang-orang melayu ini menikmatinya dan tertawa terpingkal-pingkal dibuatnya. Bagi mereka itulah hiburan yang sesungguhnya
Kemudian memberi gelar yang buruk. Banyak orang-orang dikampung ikal lupa dengan nama aslinya. Gelar itu sampai di bawa mati. Di nisan kita nanti yang tertulis adalah nama gelar kita bukan nama asli kita, karena semua orang sudah melupakan nama itu. Gelar itu di dapatkan dari kebiasaan atau pekerjaan si pemilik nama tersebut, seperti si pemberi kabar kematian di masjid diberi gelar “berita buruk” dan lain sebagainya. Anehnya, orang-orang itu bangga dengan julukannya. Padahal nama aslinya jauh lebih bermakna di banding gelarnya.
Lintang
Aku senang akhirnya mengetahui nasib Lintang genius tiada tara. Nasib hidupnya kini jauh lebih baik daripada saat ikal pulang dulu. Lintang memiliki usaha kopra, dan telah miliki 3 kapa pengangkut kopra dari pulaunya ke Belitong.
Sama seperti saat ikal meninggalkannya dulu, ia tetap saja jenius, cerdas dan tidak terduga-duga. Lintang akan menjelaskan kepadamu perkara rumit dengan cara yang sangat sederhana dan kita di ajak untuk menemukannya sendiri. Jadi kesannya tidak seperti sedang menggurui. Lintang hanya memberikan beberapa masukan dan arahan, selanjutnya kita sendiri yang menemukannya.
Saat ikal ingin membuat perahu untuk menjemput A ling, maka Lintang hadir seperti oase di padang pasir. Ikal sudah mati kutu, belum lagi di tambah dengan cemoohan orang-orang disekitarnya yang telah menganggapnya gila. Lintang memberikan beberapa perhitungan fisika yang menjadi dasar pengembangan perahu. Bahkan sampai perhitungan kecepatan dari perahu tersebut jika diberi beban sekian kilogram dan seterusnya.
Lintang mengajarkan satu hal, bahwa apapun di dunia ini, akan dapat diselesaikan dengan dua hal, yaitu SEMANGAT dan ILMU PENGETAHUAN. Dan dua hal ini yang terus memompa ikal dalam menyelesaikan mimpinya menemukan A Ling, dan pertama melalui perahu ini.
Mahar
Mahar juga mendapatkan porsi khusus dalam buku ini. Sama seperti saat ikal meninggalkannya, ia tetap saja sebagai pemuja klenik dan terobsesi menjadi dukun besar menyaingi guru besarnya, Tuk Bayan Tula. Namun, ditengah ke tidak warasan cara berpikir Mahar (menurut kebanyakan warga), Mahar tetap menjelma sebagai sosok inspiratif, penyeimbang kejeniusan Lintang di bidang yang sifatnya matematis. Seperti yang ia katakana (versi film lascar pelangi) “Serahkan Pada Mahar Dan Alam”.
Dalam buku ini juga, andrea memberikan ruang khusus kepada Mahar. Mengenai perkembangan perkumpulan mereka hingga petualangan menemui Tuk Bayan Tula dan Dayang Kaw di kepulauan Karimata.
Dalam buku ini Mahar hadir saat Ikal hendak membuat sebuah perahu, dimana para anggota lascar pelangi datang memberu dukungan tenaga dan moral. Ya, Lintang hadir sebagai ahli fisika yang memperhitungkan segi fisik geometri dari perahu. Ada Samson dan Harun yang membantu mengangkat kayu dan juga Mahar yang memberi kunci tentang kapal perompak yang telah tenggelam ratusan tahun di bawah sungai Linggang, Mahar mengibaratkannya sebagai sesuatu yang dekat sekali dengan Ikal, “Lebih dekat daripada Nyawa”.
Pencarian A Ling
Kita semua akan bertanya-tanya, dimana A Ling berada? Apakah Ikal akan menemukannya seperti Arai menemukan cintanya pada Zakiah Nurmala? Satu yang pasti, perjuangan menemukan A Ling adalah sebuah perjuangan yang sangat berat, tidak hanya fisik namun juga batin. Membuat sebuah perahu adalah bukti nyata kerasnya perjuangan Ikal untuk mencari A Ling (7 bulan membangun kapal ini). Menurut kabar yang ada A Ling berada di Kepulauan Batuan tempat para perompak berkumpul, yang juga sebagai jembatan para imigran gelap menyebrang ke Singapura. Dan benar adanya bahwa A Ling ada di sana.
Setelah pencarian yang melelahkan hingga ke Eropa, Rusia, Afrika, ternyata A Ling berada 1400 mil dari pulau belitong, dekat sekali dibandingkan jauhnya perjuangan Ikal mencarinya di sepertiga dunia.
Akhirnya
Buku ini adalah jawaban atas semua buku di tetralogi Laskar Pelangi. Mulai dari perjuangan pendidikan Ikal, Arai, pencarian A Ling, perjuangan Arai mendapatkan Zakiah, perikehidupan Lintang dan Mahar, dan Perjuangan dan kenangan Ikal bersama Lelaki pendiam berhati emas, ayahnya.
Judul, maryamah karpov :mimpi-mimpi lintang diambil dari nama adik ibu ikal yang bernama maryamah, memiliki anak bernama nurmi yang pekerjaannya sebagai pemain biola, dan mimpi-mimpi lintang adalah nama perahu yang dibuat Ikal untuk menghormati Lintang yang telah menjadi arsitek atas “perahu asteroid”-nya ini.
Satu lagi, bahwa buku ini mengajarkan kepada kita tentang semagat untuk berjuang, semangat untuk berubah menjadi baik, semangat untuk menuntut ilmu dan semangat untuk merealisasikan mimpi-mimpi kita. Jangan pernah lupa apa yang dikatakan Arai bahwa, TUHAN MEMELUK MIMPI-MIMPI KITA…. (11desember2008)