Anak-anak di Ramadhan

Hari ini Jum’at, 11 September 2009 (8 tahun peristiwa WTC) seperti minggu lalu, aku memberikan siraman rohani di Masjid dekat rumah. Penasaran juga untuk mengetahui apa sih yang ditulis anak-anak SD di buku ramadhannya. Sambil menanda tangani buku-buku tersebut, ku baca sekilas. Isinya macam-macam dan memang tidak ada yang nyambung dengan materi yang disampaikan. Aku memahami itu, karena mereka memang masih harus banyak belajar dalam merangkum materi yang di terimanya.

Namun ada satu yang menarik perhatianku. Isinya sunggu tidak ada kaitannya dengan ceramah ataupun ramadhan. Mau tau isinya, “KITA HARUS MINUM SUSU BIAR SEHAT DAN KUAT” hanya itu. Semua anak-anak yang lain ikut tertawa. Aku tidak menyalahkan mereka dengan isi buku itu. Itulah mereka dengan segala kepolosan dan kegembiraannya. Kita tidak pernah tahu bagaimana mereka dewasanya nanti. Karena kondisi seseorang pada suatu fase waktu tidak dapat menjamin keadaannya pada fase yang lain. Aku hanya merasa perlu banyak belajar dari KEPOLOSAN dan KEJUJURAN mereka dalam menjalani hidupnya. Itu saja.

Ada yang Datang dan Pergi

Kamis, 3 September 2009, tepat pukul 17.00 WIB. tak ku rasakan lagi hembusan nafasnya, ibuku berkata "Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun", sambil mengikatkan kain putih ke kepalanya. sedangkan adikku mengikatkan kain putih di kedua jempolnya, sementara aku masih berusaha memastikan bahwa tidak ada lagi hembusan nafas dari kedua lubang hidungnya. aku juga berusaha untuk merasakan denyut nadi di lehernya. Dan memang sudah tidak ada lagi denyut di sana, sudah tidak ada lagi hembusan nafas dari hidungnya. Allah sudah memanggilnya dengan cara yang sangat lembut.

Aku berusaha mengumpulkan semua keberanianku untuk mengakui bahwa Bapak - seperti itu aku memanggilnya - telah menyelesaikan tugasnya di dunia. ku tarik nafas dalam-dalam berusaha menarik sebanyak mungkin udara ke dalam paru-paru ku untuk menahan air mataku yang hendak tumpah, saat tetanggaku mengatakan. "Bek, kenapa bapak, kok gak kedengeran lagi suaranya?" ah... kembali ku tarik nafas dalam-dalam, sambil ku katakan dalam hati, "tahan, tahan bek, jangan menangis..." Dengan segenap keberanian ku katakan bahwa, "Bapak sudah duluan jam lima ini. Mohon maaf atas kesalahan yang pernah dilakukan beliau."

Memoriku berlari ke tahun-tahun awal 90-an, saat bapak bercerita tentang kancil yang cerdik di setiap malam-malamku. Setiap malam ada saja kisah baru yang di dongengkannya untukku. Saat aku menemani beliau menyusuri jalan-jalan menuju tempat beliau mengajar. Saat beliau berusaha mengambil paksa mainanku yang di curi temanku. saat... ah... terlalu banyak, sampai saat beliau harus menantang panas matahari guna menanam singkong dan jagung di tanah kosong belakang rumah. Saat beliau harus melawan panasnya mentari guna menyiangi tanaman singkong dan jagung yang baru saja tumbuh. Saat beliau tersenyum dan tertawa, sungguh senyum dan tawa yang membawa kedamaian di rumahku.

Mulai kamis itu, ibu berkata, "Bapak mohon maaf atas kesalahan selama ini." sambil berkata kepada adikku yang bungsu, "Sun, mulai sekarang gak ada lagi yang kita panggil bapak." mataku panas, tapi aku tidak boleh menangis, tidak boleh.

Panggilan Tak Terjawab

Beberapa waktu ini, tulisan "Panggilan Tak Terjawab" muncul di layar HP tua ku. Biasanya, saat itu terjadi aku akan melakukan panggilan ulang guna memastikan, kalao-kalao ada sesuatu yang sangat penting. namun kebanyakan panggilan ulang yang ku lakukan berujung pada 'kekesalan' kenapa? karena nomor yang masuk itu mengatakan bahwa dia tidak pernah menghubungi nomor ku dan gitu deh... pernah juga saat sedang ada 'meeting' atau aku sedang 'berbicara' panggilan dari no-pribadi yang tidak di kenal kembali masuk, jika di angkat langsung dimatikan. jujur kadang aku tidak nyaman dengan itu. bagiku, ada saat untuk main-main, ada saat-saat kita harus serius. gak semua orang akhirnya bisa sabar dengan perlakukan seperti itu... ini pelajaran bagiku untuk sedikit mengurangi kegiatan 'ngerjain' orang melalui HP.