Modal Buat Nikah


Kemarin sore aku silaturrahmi ke rumah seorang teman katakan seperti itu. Aku di temani oleh temanku yang lain. sebut saja bang Jali. Bang Jali ini sudah menikah dan telah memiliki seorang anak dari seorang Istri. sambil berjalan aku ngobrol-ngobrol dengan bang ijal ini.

aku: "ngomong-ngomong gaji abang di "sini" (rahasia perusahaan dong) berapa bang?"
bang Jali : "ada lah.."
aku : "ya ini cuma omongan di antara kita bang.."
bang jali : "tujuh setengah"
aku : "Istri abang gak kerja lagi..?"
bang jali: "gak"
aku : " Cukup tuh bang buat berdua sama seorang anak..?"
bang jali : "cukup, apa lagi sekarang udah ada anak abang itu, rejeki itu datang entah dari mana-mana aja..."

dalam hati aku berkata, "dengan 750 rebu aja bisa idup di kota besar ini..., apa lagi coba ... yang menghalangimu untuk menikah...?"

medan, 16-11-2008

Rokok Di Ruang Ber- AC


Hari ini aku mendampingi dosenku untuk presentasi di kantor pemerintah kota medan. pukul 9 sembilan pagi aku berangkat dari kantor PJK USU, kebetulan pekerjaan ini adalah dari PJK USU. aku berangkat dengan seorang teman, Andri. hari ini rencananya ada 2 jenis pekerjaan yang akan di presentasikan di kantor Bappeda Pemko Medan, pertama, penyusunan sistem pelacakan pegawai di Pemko Medan, dan yang kedua adalah identifikasi sumber-sumber pembiayaan peningkatan kapasitas berkelanjutan di Pemko Medan. untuk bagian pertama menjadi bagian dari Bang Toni. sedangkan yang ke dua adalah bagian dari Dosenku, bahannya aku yang menyusun.

tapi aku bukan ingin bercerita tentang presentasinya, aku ingin bercerita tentang kesadaran pejabat ataupun siapa saja untuk tidak sembarang merokok di tempat umum.

sepanjang rapat (presentasi ini dinamakan FGD, mirip rapat juga) pegawai Pemko Medan terus merokok, padahal ruangan rapat ini (ruangnya sempit, tingginya tidak sampai 3 meter, dan panjang serta lebarnya hanya 6 meter) Ber-AC.

bagi mereka yang merokok itu tidak masalah, lalu bagi yang tidak merokok bagaimana? sepanjang rapat, bagi yang tidak merokok sabar-sabar sajalah... rapatnya lumayan lama ada sekitar 3 jam. ah... aku hanya menghela nafas, dan berkata dalam hati, "bagaimana mungkin akan timbul kesadaran di tengah-tengah masyarakat tentang bahaya merokok, dan kesadaran untuk tidak merokok di tempat umum. jika pembuat kebijakan di daerah ini tidak memulai untuk sadar dan peduli dengan tidak merokok di tempat umum."

kasihan yang tidak merokok, mereka lebih berpotensi sakit, karena perokok pasif justru lebih berbahaya daripada perokok aktif.

kasihan, fatwa MUI beberapa waktu yang lalu tidak di gubris. bahkan mungkin sudah banyak di antara kita yang lupa dengan fatwa itu.

sampai kapan bangsa ini akan terus-terusan mengubur dirinya sendiri...? jika tidak diri kita sendiri yang membangun sebuah kesadaran kolektif untuk bangun dari keterpurukan. cara yang termudah ya.. mulai dari diri sendiri untuk menjadi pribadi-pribadi yang "sadar". sehingga lambat laun, lingkungan akan berubah menjadi lingkungan yang "sadar".

semoga aja.


***

Aku dan Pak Tua


Sore itu aku menuju Biro Rektor, dengan sepeda pinjamanku itu. ku kayuh pelan sepedaku memasuki halaman belakang Biro Rektor Kampus USU.

"hei...., dek, dek..." terdengar di telingaku seseorang memanggil. pertama aku acuhkan saja, setelah ku lihat sekeliling ternyata tidak ada orang lain di sekitarku. orang yang memanggil itu berlari-lari menuju ke arahku. ternyata yang memanggil adalah seorang bapak-bapak tua, gemuk, rambutnya putih dan bertugas sebagai tukang kebun di halaman Biro Rektor USU.

bapak itu mendekat ke arahku. ku parkirkan sepedaku, dan ku tunggu bapak itu mendekat ke arahku. keringat yang mengucur deras di kepalanya menunjukkan kalau bapak ini kepanasan dan bekerja keras siang ini. sambil mengeringkan keringat yang mengucur di keningnya, bapak itu bercerita kalau kemarin sepeda seorang satpam USU baru saja di curi. jadi beliau menyarankan agar sepedaku ini juga di belikan gembok untuk keamanan. apa lagi sepeda ini cukup "cantik" katanya.

rupanya, bapak itu terus memperhatikan sepedaku sejak kemarin-kemarin. karena ia dapati sepeda ini di parkirkan sembarangan saja, tanpa kunci pengaman. jadi beliau mengingatkanku untuk menjaga keselamatan sepeda ini.

"wah.. luar biasa bapak ini. " pikirku.
"makasih mbah..." kataku kepada beliau.
"o,... ya, saya ke sana dulu ya..? kata beliau sambil kembali ke tempat ia biasa bekerja. taman.

ku perhatikan langkah beliau yang sulit, karena tubuhnya memang tambun.

"ah... luar biasa bapak itu." aku kembali berkata dalam hatiku.

***

siang ini aku berangkat menuju tempat kerja, dari Biro Rektor USU, ku lihat bapak itu melambaikan tangannya kepadaku. ku anggukkan kepalaku dan tersenyum untuk membalas lambayan tangannya. dalam hati aku berdoa, semoga Allah menjaganya.